PRIORITAS Bangun Infrastruktur JALAN di 5 Kabupaten

Menjawab langkah cepat ala Gubernur NTT VIKTOR Bungtilu Lasikodat, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi  Nusa Tenggara Timur telah men-design perencanaan ruas jalan rusak berat untuk segera dibangun mulai tahun 2019 di 5 (lima) kabupaten. 

Kupang, citra-news.com – DINAS PEKERJAAN Umum Provinsi  Nusa Tenggara Timur (Dinas PU NTT), melalui APBD-Perubahan tahun 2018, sudah melakukan grand design terhadap ruas-ruas jalan yang tidak mantap (kondisi rusak berat) di 5 kabupaten. Masing-masing Kabupaten Kupang, Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Sumba Timur, dan Kabupaten Manggarai Timur.

Demikian Kepala Dinas PU NTT, Ir. Andre W. Koreh, MT melalui Pelaksana Harian Kepala Bidang Bina Marga, Dr. Ir. Alfons Theodorus, MT kepada wartawan di lantai 4 Dinas PU NTT, Kupang, Kamis 27 September 2018.

Alfons menjelaskan, dalam rapat bersama Komisi IV DPRD Provinsi NTT, telah disepakati untuk segera dilakukan design perencanaan pembangunan infrastruktur jalan tidak mantap alias rusak berat di 5 (lima) kabupaten di Provinsi NTT.

“Melalui APBD-Perubahan Tahun Anggaran/TA 2018 kami di Dinas PU sudah memulai design perencanaan. Dalam design ini yang menjadi prioritas adalah pembangunan Infrastruktur jalan. Untuk Kabupaten Kupang khususnya ruas-ruas jalan kondisi tidak mantap (rusak berat). Termasuk men-design pembangunan jembatan Termanu yang menghubungkan ruas jalan Barate-Manubelon-Naikliu-Oekusi (Negara Timor Leste),”beber Alfons.

Diketahui bersama, lanjut dia, ruas-ruas jalan kondisi rusak berat di Kabupaten Kupang menjadi prioritas utama mengikuti langkah cepat program prioritas yang dicanangkan Gubenur NTT saat ini. “Kami optimis langkah cepat pembangunan infrastruktur jalan seperti yang diharapkan bapak Gubernur VIKTOR Laiskodat, bisa terwujud,”tandasnya.

Di Kabupaten Kupang beberapa ruas jalan yang ada di Observatorium Timau, kata Alfons,  beliau (Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat) berharap secepatnya menuntaskan itu. Sementara lintas utaranya Sumba Timur kita melakukan percepatan pembangunan jalan, juga di wilayah tiga kabupaten lainnya.

Menurutnya, dalam design perencanaan bahwa di semua titik (ruas jalan) yang ada ini ada pekerjaan-pekerjaan jumlah kilo meternya diperbanyak. Karena selama ini dibangun dalam satu ruas hanya sekitar satu dua kilometer saja. Sekarang beliau mengkosepkan percepatan dengan jumlah kilonya diperbanyak.

“Memang persoalannya pada sisi pendanaan. Akan tetapi kami ke depannya untuk menjawabi persoalan utama yang dihadapi dalam melaksanakan 5 (lima) program utamannya ini, yakinlah beliau akan ada dana dari berbagai sumber yang mampu menopang. Terutama dalam upaya percepatan pembangunan infrastruktur jalan ini,”ucap Alfons.

Satu hal yang juga perlu selain  kesiapan dana, tambah dia, adalah kesiapan resources AMP dan rekanan yang ada. Sehingga kalau pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya hanya mampu satu dua kilo meter saja, maka dengan percepatan ini bisa mencapai 50-an kilometer sekaligus.

Dalam anggaran perubahan 2018, Dinas PU NTT sudah men-design perencanaan itu semua. Dengan espektasi kalau dalam satu dua bulan ke depan ini bisa selesai, iya tahun depan sekitar Pebruari kita sudah bisa tender. “Kalau semuanya siap kita bisa selesai tender paling lambat akhir Pebruari 2019. Dengan paket-paket yang ruasnya panjang kita percepat tender. Ini kita bicara fakta sesuai pengalaman kemarin kita mencapai progress hampir 82 persen lebih. Kalau ditambah tiga bulan ke depannya lagi kita yakin bisa mencapai 100 persen,”tuturnya.

Bahwa dalam KUA PPS  kita (Dinas PU NTT) punya slot besar. Jika dananya mencukupi iya bukanlah tidak mungkin upaya percepatan bisa kita lakukan. Tetapi perlu diingat harus ada kesiapan resources (sumber daya). Jangan sampai kita mau kerja tidak ada kesiapan AMP. Sehingga pada satu ruas jalan minimal dua tiga paket. Yang pasti kita mau melakukan percepatan itu, tegasnya.

Prioritas di sentra Pariwisata, Peternakan, dan Pertanian.

Strategi percepatan pembangunan infrastruktur jalan yang dimaksudkan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, adalah dimana ada titik-titik sentra (pusat) pariwisata, pertenakan, dan pertanian.  Itu yang Dinas PU NTT lakukan lebih tuntas, kata Alfons.

Menjawab wartawan soal terbentur status (kewenangan) penanganan, sebut Alfons, ada jalan nasional (APBN), jalan provinsi (APBD I) dan Jalan kabupaten (APBD II).  Contoh dari Kota Kupang ke Boti (perkampungan adat di Kabupaten TTS) kan ada tiga status jalan yang dilalui. Nah itu yang dikatakan terintegrasi dan perlu ada koordinasi dengan pemerintah kabupaten.

“Tidak bisa kita sendiri (provinsi) dan teman-teman di APBN. Kalau kita mau intervensi sekaligus kesana maka perlu ada terobosan. Ini pasti memerlukan dana yang besar tentunya. Dan terobosan itulah yang mau dilakukan bapak Gubernur Viktor,”kata Alfons.

Contoh laionnya di Kabupaten Kupang khususnya di Observatorium Timau. Ada ruas jalan Bokong-Takari-Lelogama-Naikliu (Amfoang Utara) itu dari Titik Nol ruas jalan Bokong (Kecamatan Takari) ke Lelogama di Kecamatan Amfoang, ini kita perlu dikoordinasikan dan disinergiskan dengan pemerintah kabupaten. Karena disana juga mereka sedang dikerjakan ruas-ruas jalan  yang menjadi kewenangan kabupaten.

Oleh karena karena menjadi prioritas, lanjut dia, maka ruas jalan Bokong – Lelogama  dengan statusnya kita rubah SK nya. Status di ruas jalan tersebut dulunya sekitar tahun 2000-an itu status jalan provinsi. Tapi sekarang sudah jadi jalan kabupaten yang kita mau rubah SK-nya dengan status jalan provinsi.

“Memang butuh proses tapi bisa dilakukan cepat. Itu solusinya dan yang dimaksud dengan fungsi koordinasi tadi. Setelah kita rubah SK baru kita lakukan penanganan. Alasannya karena ada ruas jalan dari dan ke Observatorium Timau,”tegasnya.

Alfons menjelaskan, ruas jalan yang sudah di-design untuk dilakukan percapatan itu, di Lintas Utara Timor pada ruas Barate – Manubelon – Naikliu – Oepoli.  Sedangkan di bagian Timur ada ruas jalan Kapan –Nenas (wilayah Kabupaten TTS dan TTU). Jadi nanti ada ruas Bokong-Lelogama-Naikliu tapi juga Bokong (Kecamatan Takari) – Lelogama – Observatorium Timau. Dengan total panjang ruas jalan yang ada sekitar 55,125 Km dari titik nol Bokong-Takari.  Itu berarti membutuhkan dana sekitar Rp 160 miliar, dengan asumsi jika satu kilometer membutuhkan dana sekitar Rp 3,7 miliar.

“Yang beliau (Gubernur Viktor)  slotkan 55 kilometer. Tapi kita kan perlu pilah mana yang tidak mantap (rusak berat), mana yang rusak ringan. Kalau jalan tidak mantap dari total 55 kilometer itu sekitar 60-an persen. Berarti sekitar 40-an kilometer yang harus kita tuntaskan.

Sedangkan jalan Poros Tengah Bokong – Lelogama dengan panjang sekitar 3,5 Km saat ini sedang dikerjakan Pemkab Kupang.  Itu artinya kita (Dinas PU NTT) tidak bisa sentuh lagi. Nanti kita melanjutkan yang sisanya. Dan ini sudah kita lakukan rapat koordinasi dengan Pemkab Kupang beberapa hari lalu.

“Saya ke Oelamasi beberapa hari lalu untuk rapat koordianasi dengan Dinas PU Kabupaten Kupang. Kami satukan persepsi untuk melakukan percepatan seperti yang diperintah bapak Gubeenur Viktor. Nah, ini kalau jadi saya yakni adalah sesuatu yang luar biasa. Karena belum pernah terjadi selama ini membangun puluhan kilometer sekaligus,”ucapnya.

Satu kata kunci yang dibikin terobosan pak Viktor, kata Alfons, adalah berani. Iya memang harus begitu. Ini kita tidak membandingkan dengan kepemimpinan sebelumnya. Dengan tekad berani beliau dan memiliki jaringan relasi yang mantap, dipastikan bisa terwujud.

Bisa bayangkan dengan total panjang ruas jalan provinsi 2.650 kilometer. Dimana dengan kondisi mantap iya sekitar 63 persen, sementara anggaran pertahunnya tidak sampai Rp 300 miliar. Tapi dengan terobosan yang dilakukan beliau dalam satu tahun dikonsentrasikan pada ruas jalan yang menjadi prioritas. Sehingga pekerjaan yang bermutu diperbanyak jumlah kilometernya. Bukankah dalam 5 tahun di 5 kabupaten ini bisa klar (tuntas) prasarana jalan yang dibutuhkan masyarakat?, ujarnya retoris. Jika ini yang terjadi maka sangat fenomenal. Dan saya yakin bisa.

Keyakinannya ini, kata Alfons, dipertegas dengan kerja cepat Dinas PU NTT yang saat ini sudah melakukan design perencanaan. Kemudian sekitar Desember dilakukan tanda tangan kontrak. Kalau sudah tanda tangan kontrak, kata Alfons, artinya sudah 60-an persen beliau (Gubernur Viktor) punya tekad untuk dilakukan terobosan percepatan pembangunan infrastruktur jalan sudah terpenuhi. Iya paling lambat Pebruari 2019 kita lakukan tender maka bulan Maret sudah mulai action.

Terkait Jembatan Termanu, tambah Alfons, jembatan ini dibangun Andre Koreh masih jadi Pimpro di Kabupaten Kupang. Dimana dibangun dengan lantai menggunakan kayu. Jembatan ini ada di Manubelon ruas jalan provinsi Barate-Manubelon-Naikliu.

“Itu kita juga sudah punya designnya dengan kebutuhan dana sekitar Rp 72 miliar. Panjang jembatan Manubelon sekitar 172 meter. Jembatan inilah yang menghubungkan Barate-Manubelon-Naikliu-Oekusi (Timor Leste). Oleh karena itu jalan lintas Utara Timor ini mutlak penting untuk dibangun karena sebagai aksesibilitas ekonomi, perdagangan dan keamanan antar negara Indonesia dengan Negara Timor Leste,”pungkasnya. +++ cnc1

Gambar : Dr. Ir. ALFONS Theodorus, MT, saat diwawancarai sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Kamis 27 September 2018.

Foto : doc.CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *