WAEKELAMBU Pusat EKSPOR Ikan KERAPU Hidup

GANEF Wurgianto, AP. Doc. CNC/marthen radja

Permintaan produk ekspor ikan di jaman now sudah bergeser. Dari biasanya yang sudah dibekukan di freezer namun kini diminta ikan ekor masih goyang alias ikan hidup. Ada-ada saja iya selera pasar global?  

Citra-News.Com, KUPANG – PROVINSI Nusa Tenggara Timur (NTT)  memiliki beragam potensi sumber daya alam yang luar biasa. Dengan kondisi wilayah NTT yang berpulau-pulau menjadikan daya dukung sekaligus daya dongkrak menuju peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Tinggal saja SDM-nya yang perlu ditingkatkan.

Demikian Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, GANEF Wurgianto ketika ditemui awak citra-news.com  di Kupang, Jumat 27 September 2019.

Menurut dia, NTT telah dikaruniai kekayaan alam hayati yang luar biasa. Beragam potensi ikan, rumput laut, dan garam yang berkualitas ekspor. Dan semua potensi ini ada di hampir semua kepulauan yang ada di Provinsi NTT.

Potensi ikan kerapu misalnya, sebut dia, saat ini tengah dikembangkan di perairan Waekelambu Kabupaten Ngada Flores NTT. Di teluk Waekelambu ini Pemerintah Provinsi NTT melalui dinas kelautan dan perikanan melakukan pengembangan bibit/benih ikan kerapu secara besar-besaran. Budidaya pengembangan ikan kerapu ini selain bertujuan sebagai bio massa juga untuk kebutuhan ekpor.

GANEF Wurgianto, AP. Doc. CNC/marthen radja

Ganef menjelaskan untuk  tujuan bio massa diantaranya mendukung pariwisata dan sebagai penyedia (stok) pasokan kebutuhan konsumsi di destinasi wisata Labuan Bajo dan Riung 17 pulau. Sedangkan untuk kebutuhan ekspor pascapanen  sudah ada beberapa negara yang teken kontrak ekspor ikan kerapu hidup.

“Dipastikan mulai tahun 2020 di Labuan Kelambu atau Waekelambu Flores NTT menjadi pusat ekspor ikan hidup. Untuk ekspor ikan kerap hidup ini kita sudah melakukan MoU dengan Hongkong dan Singapura. Sedangkan dalam negeri yakni Bali. Saat itu kita sudah mampu menyiapkan sekitar 500 ton ikan kerapu hidup untuk dieskpor,”jelas Ganef.

Dikatakannya, saat ini permintaan pasar global cenderung bergeser ke ikan hidup. Jadi bukan kita ekspor ikan yang sudah dibekukan. Dari sisi bisnis harga ikan kerapu hidup lebih mahal. Dan lebih memudahkan karena setelah penangkapan, kemudian ditimbang dan ditaruh di keramba  lalu diangkut keluar.

Menjawab ada kemungkinan ekspor ikan kerapu hidup akan dibudidayakan lagi secara besaran-besaran dan mengklaim sebagai kekayaan miliknya. Ganef menyatakan, tidak akan sama kualitasnya kalau ikan kerapu dari NTT itu dibudidayakan di wiayah lain. Karena kondisi geografisnya sudah berbeda.

“Saya yakin mau dibudidayakan dengan cara apapun hasilnya tidak sama dengan ikan kerapu yang sudah dari sono­-nya hidup di alamnya NTT. Tuhan sudah menciptakan alam dengan keunikan-keunikan tertentu,”ungkapnya.

Prospektif dan Menjanjikan

Diakui Ganef, saat ini sedang dilakukan proses tender pengembangan ikan kerapu di Waekelambu.  Dengan kondisi mulut teluk yang sedikit sempit (kecil) sehingga lebih mempermudah pembuatan rumah-rumah ikan.

Dengan kata lain pengembangan sea ranch dengan metode bio massa. Artinya dibangun rumah-rumah ikan. Di rumah ikan itu kita taburkan benih ikan kerapu dan setelah berkembang jadi banyak kemudian dipanen.

Ada tiga sebutan desa di Waekelambu yang terlibat dalam pembudiayaan ikan kerapu berbasis ekowisata. Yakni desa Seminasi 1, desa Seminasi 2, dan desa pengembangan. Dari masing-masing desa memiliki Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang menata kelola usaha budidaya ikan kerapu ini.

GANEF Wurgianto, AP. Doc. CNC/marthen radja

“Hasil tangkapan ditampung koperasi kemudian dibeli oleh PT Flobamor. Antara 3-6 bulan ikan kerapu sudah bisa dipanen dengan berat bersih per ekornya rata-rata sudah bisa mencapai 750 gram. Ditargetkan untuk tahap awal ekspor kita siapkan sekitar 500 ton ikan kerapu hidup yang siap diekspor ke Hongkong, Singapura, dan sebagiannya ke Bali,”kata Ganef.

Waekelambu juga akan menjadi arena terbuka untuk lomba mancing exclusive. Dengan ketentuan hasilnya kemudian dilepas kembali di keramba pengembangan. Atau dijual dengan harga yang cukup tinggi ke hotel dan restaurant/rumah makan yang ada di Labuan Bajo dan di destinasi pariwisata Riung 17 Pulau.

Untuk kegiatan usaha di Labuan Kelambu yang sangat prospektif dan menjanjikan kesejahteraan masyarakat ini, tambah Ganef, diharapkan ada kolaborasi dan sinergisitas semua pihak. Disiapkan kebutuhan fasilitas dan sarana prasarana untuk wisata laut (bahari). Jadi wisatanya di laut tetapi akomodasinya di darat.

“Sesungguhnya Labuan Kelambu atau Waekelambu wilayah potensial untuk pengembangan ikan jenis apapun. Namun karena bapak Gubernur NTT (Viktor Bungtilu Laiskodat) sudah menetapakannya menjadi lokasi budidaya ikan kerapu. Dan untuk permintaan pasar global ikan kerapu ini sangat prospektif. Selain ikan kerapu di Waekelambu juga akan dibudidayakan Teripang jenis koro  dan nenas. Jenis-jenis ikan yang ada ini bernilai ekonomi tinggi. Asal saja kita mau kerja dan giat dalam berusaha,”tuturnya. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *