UNBK Adalah KEBUTUHAN Semua Elemen Wajib PEDULI

Prof. Willy Toisuta : Target pemerintah pusat melalui Kemendiknas RI agar pelaksanaan UNBK di semua tingkatan satuan pendidikan harus 100 persen. Bila tidak tercapai target apakah kita harus diam? Harus ada upaya-upaya agar kita bisa bersaing.

Kupang, citra-news.com – PROFESOR WILLY Toisuta mengatakan, ujian nasional berbasis komputer (UNBK) adalah suatu keniscayaan. Sesuatu yang tidak bisa ditolak. Karena mau tidak mau semua bahan ujian siswa harus tersaji dalam system kompterisasi.

“Bukan karena himbauan pemerintah pusat melalui Kemendiknas RI agar pelaksanaan UNBK di semua tingkatan satuan pendidikan harus 100 persen. Namun UNBK adalah tuntutan jaman  sehingga semua pihak berupaya maksimal mengadakan sarana prasaana (Sarpras) dimaksud. Karenanya kita tidak bisa lagi menolak akan tuntutan era sekarang ini. Untuk upaya IYA. Makanya semua pihak berupaya maksimal, tidak saja pemerntah, agar bisa menjawabi kebutuhan ini,”jelas Toisuta kepada awak media di Gedung I.H. Doko Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dinas P dan P Prov. NTT) di bilangan Jl. Soeharto Naikoten 1 Kupang Timor NTT, Senin 25 Maret 2019.

Menanggapi soal pelaksanaan UNBK di Provinsi NTT yang BELUM 100 persen, Tim Pakar NTT BANGKIT MENUJU SEJAHTERA ini menyatakan, di era kepemimpinan VIKTOR – JOSEF adalah awal dari harapan untuk menggapai pelaksanaan UNBK sesuai tuntutan kebutuhan dimaksud.

Dikatakan, para pemangku kepentingan pendidikan terutama pemerintah harus juga punya kepedulian yang sama. Lebih dari itu karena kesuksesan pendidikan adalah tanggung jawab bersama semua elemen. Iya, orangtua peserta didik (keluarga), masyarakat termasuk pers, dan pemerintah (negara) dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Seratus persen UNBK adalah berbicara target. Namun UNBK dengan system komputerisasi adalah sebuah keniscayaan. Sesuatu yang tidak bisa ditolak. Apakah ketika target tercapai lalu tidak ada tanggung jawab lagi? Ujian siswa dengan system jaringan secara online adalah kebutuhan di era sekarang ini. Masyarakat NTT sudah tentu punya cita-cita yang sama menggapai kemajuan di dunia pendidikan,”ucap sang Profesor ini.

Ada keuntungan-keuntungan dari UNBK dengan system komputerisasi ini, kata dia. Jika para siswa-siswi ini tidak dibekali dalam bidang komputerisasi, maka jika dia masuk dalam dunia kerja dia tidak akan bisa bekerja. Nah, oleh karena itu kita harus menerima kenyataan ini. Sebuah kenyataan yang diperlukan upaya-upaya solutif dari semua elemen masyarakat.

“Tentu UNBK adalah suatu challenge atau tantangan yang luar biasa. Tetapi itu juga merupakan kesempatan yang sangat besar bagi NTT untuk mulai membuktikan kemampuannya. Saya kira selama ini dilatih dengan baik maka orang NTT juga BISA,” tegasnya.

Menurut Prof. Toisuta, persoalan yang paling mendasar untuk dibenahi dalam bidang pendidikan saat ini di NTT paling pertama adalah kemauan kita bersama untuk merubah asumsi-asumsi yang lama. Misalnya, semua pendidikan harus berbasis buku. Tapi itu sekarang sudah tidak  bisa lagi. Ia harus berbasis komputer. Nah untuk itu mesti ada sikap sikap dan kemampuan yang baru. Bukan lagi siswa mencari itu tapi dia bisa meng-handle teknologi. Siswa bisa mengerti tidak hanya dari guru langsung tetapi dia bisa mencari informasi di media, misalnya. Itu artinya ada tuntutan-tuntutan yang baru dimana kita harus mengembangkan hal yang baru dengan kapasitas yang baru pula.

Jadi hal yang paling mendasar, beber dia, adalah satu sikap dan kemauan kita untuk betul-betul mau berubah. Untuk mau mengikuti dan menguasai tuntutan-tuntutan jaman sekarang. Nah, komputerisasi adalah salah satu bagian. Tapi masih ada banyak hal lagi misalkan kompetensi-kompetensi yang baru dan cara berpikir yang baru. Karena kebutuhan komputerisasi inikan lebih banyak harus ada kemampuan diri sendiri. Tidak bisa ada apa-apa lalu bertanya pada guru. Dan guru sendiri akhirnya punya peranan berubah. Dia tidak satu-satunya sumber informasi. Guru hanya punya kemampuan untuk memfasilitasi siswa siswinya itu, untuk bekerja dengan sumber-sumber yang baru.

Tantangan Harus Jadi Peluang

Dengan kondisi keterbatasan-keterbatasan kita NTT saat ini, misalnya tidak ada listrik atau tidak mampu beli peralatan komputer dan ketiadaan jaringan telekomunikasi. Lalu kita bersandar pada pemerintah. Itu tidak bisa seperti itu, tegas Prof. Toisuta.

Iya kita harus hadapi kelemahan-kelemahan ini menjadi peluang. Kita tidak saja berupaya memperjuangkan sarana prasarana (Sarpras) itu. Akan tetapi harus ada kemampuan baru dari dalam diri kita dalam menghadapi tuntutan kebutuhan jaman ini. Jadi tantangan yang ada mestinya menjadi peluang untuk kita berupaya. Misalnya tidak ada lisitrik. Itu harus bisa di-tacle. Kalau tidak kita tidak bisa maju.

Jadi, tegasnya berulang, kita harus hadapi itu semua sebagai bagian dari tuntutan kemajuan. Lisrik tidak ada atau Sarpras lain tidak ada, lalu kita mau bikin apa. Apakah harus diam? Iya itu kita tidak akan maju-maju. Lalu kita bilang pemerintah NTT tidak mampu untuk meng-handle. Lho siapa bilang tidak mampu. Mana you  punya perencanaan, mana you  punya kemampuan. Cuma memang itu membutuhkan sikap mental yang baru. Dan kemampuan-kemampuan kompetensi yang mungkin sebelumnya tidak ada.

Dengan kata lain, tambah dia, kita jangan dibatasi oleh kita tidak punya Sarpras. Ini harus ada untuk melayani kebutuhan. Jadi kalau sekarang lisrik tidak ada lalu tidak bisa belajar atau tidak bisa laksanakan ujian siswa? Iya, kemampuan belajar ada maka listrik juga harus diadakan. Karena ini adalah tanggung jawab. Kita harus mampu meng-handle kekurangan-kekurangan ini.

Sarpras kita tidak punya iya jangan ujian berbasis komputer. Tapi itu apakah selesai sampai disitu saja? Kita harus punya upaya-upaya agar kita juga mampu bersaing. Sudah tentu kita tidak ingin orang lain makan roti kita makan jagung. Kita harus makan roti. Bahwa dana APBD itu harus menopang kesejahteraan rakyat. Jika kurang dana APBD apa lagi upaya kita. Karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

“Menjadi harapan saya kita harus berubah. Dan kita tidak boleh kurang darimana pun. NTT harus bisa berubah. NTT sudah bisa tapi kesempatan ini yang harus dibangun. Banyak koq orang NTT yang hebat-hebat. Bukan saja di Indonesia tapi juga banyak diluar negeri. Nah ini kesempatan kita bisa bergandengan tangan menjawabi kebutuhan di era ini. Juga kekurangan yang ada di kabupaten/kota kita harus bangkit bersama membangun menggapai kesejahteraan bersama. Mari kita semua para intelektual, media massa, dan sebagainya harus bisa menggugah ini kebutuhan,”pinta Prof. Toisuta. +++ marthen/citra-news.com

Gambar : Prof. Willy Toisuta saat diwawacarai awak media di Gedung I.H. Doko Dinas P dan P Provinsi NTT di bilangan Jl. Soeharto Naikoten 1 Kupang Timor NTT, Senin 25 Maret 2019.

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *