LEBU Raya Kebagian JATAH Proyek NTT FAIR 100 Juta Lebih

Sidang Kasus Korupsi Proyek NTT FAIR, Jumat 15 November 2019 di Pengadilan Tipikor Kelas IA Kupang hadirkan Enam Saksi termasuk Gubernur NTT ke-7 Drs. Frans Lebu Raya (ke-3 dari kanan). Doc. CNC/marthen radja-Citra News. 

Mengatakan dengan jujur semua hal yang dialami adalah bagian dari fakta sidang di pengadilan. Namun tidak sekadar berani jujur, bukan? Karena hal kejujuran belum bisa dijadikan sebagai alat bukti.

Citra-News.Com, KUPANG – DALAM sidang kasus korupsi NTT Fair YULI Afra (tersangka) mengatakan, dirinya pernah memberikan uang senilai Rp 100 juta lebih sebagai uang fee kepada mantan Gubernur NTT, Drs. FRANS Lebu Raya. Buktinya?

Hampir setiap kali sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kelas IA Kupang, para pihak yang terlibat dalam pusaran kasus korupsi pembangunan gedung pameran NTT Fair pernah melakukan sesuatu. Kata-kata semisal memberi dan atau menerima, mendengar dan melakukan, mengenal atau dikenal (-kan)  selalu terucap dari mulut para pihak ini. Akibatnya ada bantahan  atau sangkalan dari para pihak yang ada.

Seperti halnya sidang kasus Korupsi NTT Fair dengan tersangka HADMEN Puri, Direktur PT Cipta Eka Puri pada Jumat 15 November 2019. Dalam sidang ini menguak fakta bahwa Yuli Afra mengakui dirinya pernah memberikan uang sebagai fee ke Frans Lebu Raya. Namun dirinya tidak ingat persis berapa jumlah uang yang diberikan sebagai fee ke Frans Lebu Raya itu. Uang tersebut diberikan dalam beberapa tahap. Tidak disebutkan berapa jumlah uang yang diberikan dalam setiap tahapan itu. Yuli Afra hanya mengatakan jumlahnya sekitar Rp 100 juta lebih.

Mantan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perakim) Provinsi NTT ini menerangkan bahwa dirinya beberapa kali bertemu Frans Lebu Raya. Tapi saat hakim mengkonfrontir soal waktu pertemuan, Yuli Afra tidak ingat persis hal itu. Yuli hanya mengaku saat saat hendak bertemu Frans Lebu Raya di ruang kerja Gubernur NTT, ia tak pernah melapor atau mengisi buku tamu.

Diketahui mantan Gubernur NTT dua periode, Frans Lebu Raya namanya selalu disebut-sebut dalam pusaran sidang kasus korupsi NTT Fair. Bahkan ikut terperiksa sebagai saksi. Sayangnya di beberapa kali sidang, semua pengakuan Yuli Afra di hadapan majelis hakim dibantah oleh mantan Gubernur NTT ini.

Dalam kaitannya dengan Hadmen Puri, dalam sidang hari itu Yuli saat dimintai keterangannya oleh Hakim Pengadilan Tipikor Kelas IA Kupang, dia mengatakan Frans Lebu Raya tidak pernah mengarahkannya untuk memenangkan perusahaan ini.

Gambar Kiri : Gedung NTT Fair dibangun PT Cipta Eka Puri di Bimoku Kelurahan Lasiana Kota Kupang, Timot NTT. Gubernur NTT ke-7 Drs. Frans Lebu Raya (ke-3 dari kanan) terperiksa sebagai saksi di Pengadilan Tipikor Kelas IA Kupang. Doc. CNC/marthen radja-Citra News. 

Menurut Yuli Afra, dirinya tidak pernah diarahkan oleh Frans Lebu Raya sebagai gubernur saat itu untuk memenangkan salah satu perusahaan termasuk PT Cipta Eka Puri. Yuli bahkan menjelaskan bahwa ia baru mengenal kontraktor Hadmen Puri saat penandatanganan kontrak.

“Ah kalau Yuli Afra mengatakan seperti itu sama dengan memberi ruang pertimbangan positif bagi majelis hakim untuk meringankan Frans Lebu Raya,”ucap seseorang penonton setengah berbisik yang berdiri tepat di belakang awak citra-news.com saat sidang berlangsung.

Sementara pihak lain seperti Tersangka Linda Ludianto (Kuasa Direktur PT Cipta Eka Puri)  dan Mr. Lee (suami Linda Liudianto) juga tidak dikenal dalam urusan pekerjaan ini. Keterangan lain Yuli Afra terkait permintaan fee 2,5 persen atas arahan Gubernur juga dibantah tersangka, Hadmen Puri. Adapun nilai kontrak proyek NTT Fair sebesar Rp 29.919.120.500.

Di hadapan majelis hakim tersangka Hadmen Puri mengaku, dirinya dipanggil ke ruang kerja Yuli Afra (selaku Kuasa Pengguna Anggaran/KPA) yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Perakim Provinsi NTT.

Saat itu, itu jelas Hadmen,  Yulia Afra meminta fee 5 persen. Setelah itu dimintai lagi saat ground breaking pembangunan gedung NTT Fair. Hadmen juga mngatakan dirinya tidak pernah diperkenalkan dengan Frans Lebu Raya saat ground breaking. Dan tidak pernah jabat tangan dengan gubernur Frans Lebu Raya saat itu.

JPU Serahkan BUKTI Transfer FEE Untuk Gubernur NTT

Jaksa Penuntut umum (JPU) HERI Franklin bersama HENDRIK Tip dan EMERENSIANA Djemahat, SH menyerahkan bukti transfer uang fee dari Hadmen Puri untuk Gubernur NTT melalui rekening konsultan pengawas PT Dana Konsultan, Fery John Pandie. Alat bukti transfer tersebut diserahkan kepada majelis hakim disela-sela persidangan atas tersangka Hadmen Puri di Pengadilan Tipikor Kelas IA Kupang pada Jumat, 15 November 2019.

Lagi-lagi fakta sidang ini bisa dipahami beragam. Bisa saja publik memahami bahwa bukti transfer iya. Tapi apakah ada tertulis ditujukan ke Frans Lebu Raya Gubernur NTT? Jika hanya disebutkan atau tertulis  transfer ke rekening Gubernur NTT maka itu institusi bukan pribadi. Dan hal-hal seperti ini gampang saja dibantah, bukan?

Drs. FRANS Lebu Raya (kiri) terperiksa sebagai Saksi dan Tersangka YULIA Afra ketika sidang kasus korupsi NTT Fair di Pengadilan Tipikor Kelas IA Kupang, Senin 11 November 2019. Doc. CNC/marthen radja-Citra News.

Dalam sidang dengan agenda mendengarkan keterangan tersangka Yulia Afra selaku KPA pada Dinas Perakim Provinsi NTT dan saksi Ferry Johns Pandie. Para penuntut meminta waktu kepada hakim untuk menyerahkan bukti tersebut usai Yuli memberikan kesaksian.

“Yang mulia, ijin kami menunjukkan bukti transfer uang dari tersangka Hadmen Puri kepada saksi Ferry Johns Pandie,”kata JPU Heri.

Ketika diijinkan hakim, JPU menyerahkan bukti transfer. Saat itu, hakim meminta tersangka, kuasa hukum dan para saksi untuk melihat alat bukti transfer uang fee tersebut. Dan majelis hakimpun mempersilahkannya.

Usai diperlihatkan alat bukti dan dikonfrontir majelis hakim, terdakwa Hadmen Puri mengakui, ada keterangan Yulia Afra yang salah. Menurutnya, ketika dia bertemu Yulia Afra di ruang kerjanya, Yulia bukan meminta fee 2.5 persen. Akan tetapi meminta fee 5 persen.

“Saya ketemu ibu Yulia di ruang kerjanya. Ibu Yulia meminta fee 5 persen bukan 2.5 persen,”ujarnya.

Hadmen juga membantah pengakuan Yulia bahwa dia (Hadmen Puri,red) tidak diperkenalkan dengan Frans Lebu Raya.

Hadmen menjelaskan, waktu itu saya (Hadmen Puri, red) duduk di belakang Gubernur NTT, di kursi nomor lima. Setelah itu saya dipanggil ibu Yulia untuk duduk di kursi bagian depan. Karena kursi ada yang kosong. Di depan itulah saya dibisik lagi oleh Yulia. Dia (Yulia Afra, red) bilang pak Gubernur (Frans Lebu Raya, red) minta tambah fee. +++ tim/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *