BANK NTT Dituding BERKONSPIRASI Cairkan Uang Proyek NTT FAIR

Para saksi dan pengacara bersama terdakwa Linda Ludianto (baju biru)  melihat bukti yang ditunjukkan oleh JPU di hadapan majelis hakim saat sidang lanjutan perkara NTT Fair di Pengadilan Tipikor Kelas IA Kupang, Selasa 19 November 2019. Doc.CNC/web 

Setelah urusan fee dalam sidang kasus korupsi proyek NTT FAIR yang melibatkan Drs. Frans Lebu Raya (mantan Gubernur NTT) sebagai Saksi, kini gliran Bank NTT. Bank dengan nama asli Bank Pembangunan Daerah (BPD) milik Pemerintah Provinsi NTT ini  dituding berkonspirasi mencairkan uang garansi proyek NTT Fair sebesar Rp 12 miliar.

Citra-News.Com, KUPANG – SUMARSONO, SH Kuasa Hukum (Pengacara)  terdakwa LINDA Liudinato, menuding Bank NTT melakukan konspirasi saat pencairan uang garansi pekerjaan proyek pembangunan kawasan NTT Fair.

“Ini jadi petunjuk bagi hakim kalau ini ada konspirasi Bank NTT mencairkan uang senilai Rp 12 miliar. Yang didalamnya terdapat Rp 8,9 miliar sebagai garansi bank atas proyek NTT Fair,” ungkap Sumarsono.

Dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek NTT Fair dengan terdakwa Linda Ludianto pada Selasa 19 November 2019, menurut Sumarsono bahwa apa yang diungkapkan Erwin Makatita dalam sidang tersebut menjadi petunjuk bagi hakim kalau terjadi konspirasi untuk mencairkan uang senilai Rp 12 miliar yang didalamnya terdapat Rp 8,9 miliar garansi bank atas proyek.

Dalam sidang lanjutan tersebut, Ketua majelis hakim Fransiska Dari Paula Nino, SH, MH didampingi hakim anggota Abdul Khalik dan Ali Muhtajim. Sementara itu terdakwa Linda Ludianto didampingi oleh Sumarsono SH.

Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terdiri dari Hendrik Tip SH, Hery Franklin SH dan Emerensiana Djemahut SH. Dan dalam sidang ini JPU menghadirkan empat saksi, masing-masing tiga saksi dari manajemen Bank NTT Kantor Cabang utama, yaitu Tri Yohanes alias Tejo, Maria Da Costa dan Johan Nggebu. Sementara satu saksi lainnya adalah Erwin Makatita, staf PT Cipta Eka Puri.

Terkait dengan proses pencairan uang Rp 12 miliar pada 19 November 2018, Erwin Makatita tetap menyebut bahwa hal itu dilakukan bersama Tri Yohanes.

“Dari awal selalu dengan Pak Tejo (Tri Yohanes). Tidak ada orang lain, selalu dengan Pak Tejo. Dari awal dikasih cek sama Pak Lee, ke dalam langsung dengan Pak Tejo,” ungkap Erwin.

Erwin bahkan mengatakan bahwa pada saat pencairan dan pemecahan rekening usai pembukaan blokir atas rekening Ir.Hadmen Puri (Direktur PT Cipta Eka Puri) pada 19 November 2018 itu, angka yang ia tulis dalam slip keuangan itu diberikan. “Saya yang tulis, tapi angkanya dari Pak Tri,” ujarnya ketika ditanya hakim.

Demikian pula ketika ditanya apakah ada perintah untuk memecah-mecah uang senilai Rp 12 miliar yang akan dipindahkan ke rekening Linda Ludianto, Erwin menjawab bahwa tidak ada perintah tersebut dari Mr Lee.

“Tidak ada perintah, hanya suru kasih cair saja ketemu Pak Tejo. Jadi saya langsung kasih ke Pak Tejo. Pak Tejo yang urus,” tegasnya.

Sementara itu, saksi lainnya, Maria Da Costa selaku officer pelayanan di Bank NTT Kantor Cabang Utama (KCU) juga membenarkan bahwa berdasarkan informasi yang disampaikan kepadanya, yang memecah keuangan dan melakukan transaksi senilai Rp 12 miliar tersebut adalah Tri Yohanes dan Erwin Makatita.

Meskipun sebagai officer, da Costa mengaku tidak mengetahui pembukaan blokir dan pemecahan rekening Rp 12 miliar dari rekening atas nama Ir. Hadmen Puri ke rekening Linda Ludianto. Hal tersebut karena urusan pembukaan blokir disebutnya tidak melalui otorisasi.

“Yang membuka blokir Harjuno, tetapi seingat saya maksimal transaksinya Rp 10 miliar saja. Namun demikian dalam kasus-kasus disposisi biasanya alur disposisi tersebut dibuat dari pimpinan ke wakil. Kemudian dari wakil ke dirinya selaku Officer pelayanan untuk dijalankan (dieksekusi). Sedangakan untuk analisis terkait materi disposisi biasanya dilakukan secara lisan,”beber da Costa.

Saksi Johan Nggebu bagian analis kredit di Bank NTTmenyatakan bahwa wakil pimpinan KCU, Yohana menyampaikan agar uang yang akan masuk ke rekening Linda tidak dipotong karena akan digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan Proyek NTT Fair.

“Uang akan masuk, jangan dipotong dulu karena akan dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan,”ucap Johan mengutip isi pesan Yohana.

Diketahui dalam persidangan sebelumnya Yohana (Saksi) mengatakan, dirinya  membuat disposisi tertulis hanya untuk mencairkan 2,9 miliar. Yang lainnya tetap diblokir.

Tri Yohanes alias Tejo yang disebut berulang ulang oleh semua saksi membantah semua keterangan tersebut. Dia menegaskan kalau dirinya tidak mengurus uang dalam proses pembukaan blokir dan pencairan serta pemecahan uang senilai Rp 12 miliar tersebut.

Saksi Tejo juga membantah seluruh keterangan Erwin Makatita yang menyebut bahwa dia (Tejo) lah yang mengurus keuangan untuk proyek NTT Fair di Bank NTT.

Meski demikian Tejo mengaku pernah bertemu Linda Ludianto di salah satu rumah makan di Kota Kupang untuk membicarakan persoalan kredit terkait proyek bersama Linda. Selain itu, ia juga mengaku pernah dimintai tolong oleh Linda untuk mencarikan karyawan untuk dipekerjakan di PT Cipta Eka Puri. +++ tim/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *