DPR RI Berjuang Muluskan Proyek EBT dari Sumba NTT

Gubernur VIKTOR Bungtilu Laiskodat menerima dokumen analisis PCI dari EDDIE Widono, di Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT Jl.El Tari Kupang, Timor-NTT, Jumat 25 September 2020. Doc.marthen radja/citra-news.com

SUMBA untuk Indonesia yang diinisiasi Gubernur NTT VIKTOR Bungtilu Laiskodat mendapat apresiasi dari Komisi VII DPR RI. Bahkan saat ini aspirasi tersebut  diperjuangkan hingga ke forum RDPU. Apa argumentasi logis dibalik megaproyek EBT ini? Berikut pemaparannya oleh Eddie Widono…

Citra-News,Com, KUPANG – EDDIE Widono, Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PCI) mengatakan Komisi VII DPR RI saat ini tengah  berjuang untuk memuluskan proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU). Dan wilayah potensial yang lua biasa EBT ini adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya di Pulau Sumba dan Pulau Timor. Namun untuk proyek tahap awal megaproyek ECT ini dari Pulau Sumba dimana dijadikan Pusat Listrik Tenaga Surya untuk Jawa dengan kekuatan 20.000 mega watt (MW).

Bagi PCI, demikian Eddie, semangat Rancangan Undang Undang Energi Baru Terbarukan (RUU EBT) ini adalah semangat transisi yang mampu menyambungkan  berbagai potensi sumber daya energi terbarukan di Indonesia.

Hasil release press  yang diterima citra-news.com melalui WhatsApp Abi Kore, Kasubag Pers Biro Humas Setda Provinsi NTT, Senin, 05 Oktober 2020, Eddie menyatakan transisi energi memerlukan perencanaan strategis yang berbeda dengan skenario bussines as usual  ketenagalistrikan.

Ditegaskan Eddie yang juga Ketua Dewan Pembina PCI bahwa Sumba untuk  Indonesia hasil  inisiasi Gubernur VIKTOR Bungtilu Laiskodat merupakan platform yang tepat untuk menunjukkan bahwa pembangunan EBT membutuhkan pemahaman yang lebih komprehensif.

“Jika kita hanya memperhatikan untuk kebutuhan eneri di Pulu Sumba maka potensi energi surya di Pulau Sumba tidak akan terpakai secara optimal. Hal ini juga berarti kita semua kehilangan potensi pertumbuhan ekonomi dari pengembangan PLTS,”sambung Muhammad Yusrizki, kepala Bidang Investasi dan Mega Proyek PCI saat RDP Komisi VII DPR RI, pada kamis 01 Oktober 2020.

Dikatakan Yusrizki, jika kita menempatkan interkoneksi dimana dibangun keterhubungan antarpusat beban mulai Sumba-NTT, NTB, Bali, hingga Jawa maka potensi yang ada dapat dimanfaatkan dengan optimal. Itulah semangat transisi energi, tandasnya.

PCI meyakini bahwa pengembangan EBT harus dilihat dalam kacamata transisienergi hingga terlihat manfaat secara komprehensif. Tidak semata dari sisi pembangkitanenergi listrik. Selain tentunya dampak lingkungan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan pembangkit energi fosil EBT memberikan dampak ekonomi menyeluruh. Baik untuk tingkat nasional maupun regional.

Bagi Provinsi NTT umumnya khususya kabupaten-kabupaten terkait, pertumbuhan PDB ditranslasikan menjadi pembukaan lapangan kerja baru, peningkatan kapasitas SDM dan tentunya pemenuhan kebutuhan listrik di Pulau Sumba khsusnya dan NTT pada umumya.

Eddie membeberkan, daya dorong pengembangan EBT dapat diukur Jobs and economic development impact (JEDI). Dimana model yang dikembangkan oleh National Renewable Energy Lab (NREL)di Amerika serikat. Dan model ini dikembangkan untuk mengukur tambahan pekerjaan dan PDB dari sektor-sektor yang terkait langsung, tidak langsung, maupun sektor pendukung aktivitas ekonomi.

Menggunakan Filipina sebagai acuan didapatkan tambahan PDB sebesar US 344,2 juta dolar dari pembangunan 500 MW PLTS.  Jika pemerintah Provinsi NTT dan PCI berhasil mendorong implementasi Sumba untuk Indonesia dengan kekukatan 20.00 MW PLTS maka akan terdapat penambahan PDBsebesar US 15,7 miliar dollar. Dimana Provinsi NTT akan turut mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut. +++ citra-news.com/humas setdantt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.