SEKOLAH Jadi Sasaran Utama Pemajuan Kebudayaan

Johny Tedens : Bunda JULIE Sutrisno Laiskodat harus rela mengorbankan waktu, tenaga dan biaya hanya untuk memajukan seni budaya etnis di Provinsi NTT. Karena itu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan laiknya menjadikan seni budaya sebagai salah satu program pendidikan di sekolah.

Citra-News.com, KUPANG – KETUA Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dekranasda Prov.NTT), JULIE Sutrisno Laiskodat berharap sekolah harus menjadi sasaran utama pengembangan kebudayaan di Provinsi NTT.

Menurut anggota DPR RI dari Partai Nasdem ini, Provinsi NTT memiliki keberagaman suku/etnis yang memiliki kebudayaan yang unik-unik. Para wisatawan akan yang datang ke NTT tidak saja melihat keindahan alamnya. Tapi juga mau menyaksikan aneka seni budaya etnis di daerah yang dikunjungi. Baik seni tari, musik, dan seni pertunjukan lainnya secara tradisional maupun hasil kreasi (pengembangan). Jika seni budaya etnis ini tidak dilestarikan melalui lembaga pendidikan (sekolah) maka lambat laun akan punah.

Hal itu disampaikan Bunda Julie-demikian ia disapa, pada malam gebyar seni budaya Flobamora di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu 07 November 2020.

Dia menegaskan, program pemerintah Prov.NTT menjadikan pariwisata sebagai prime mover pembangunan ekonomi di NTT maka salah satu kegiatannya adalah seni budaya etnis. Menjadi daya dukung menuju NTT Bangkit NTT Sejahtera maka bidang seni budaya punya peran penting untuk mewujudkannya.

“Kegiatan pentas seni budaya etnis secara sengaja digelar FORKASE sebagai magnet untuk menggerakan sekaligus daya tarik bagi semua pihak untuk peduli dan turut melestarikannya. Saya tidak tahu dinas teknis apa mereka punya program tentang seni budaya etnis. Makanya saya undang untuk menjadi tim penilai pada pagelaran malam ini,” tandasnya.

Tapi yang pasti hasil evaluasi tim penilai, lanjut Bunda Julie, kepada sanggar seni yang pentas di panggung akan mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan. Tim penilai akan melihat ada bagian yang sudah baik maka melalui FORKASE akan diteruskan bahkan ditingkatkan. Sementara ada sanggar seni yang masih kurang-kurang nanti menjadi catatan bagi tim penilai.

Karena berlaku sebagai tim penilai  disini dihadirkan beberapa dinas. Ada dinas pariwisata, dinas pendidikan, dinas perindustrian dan perdagangan, dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD)  Setda Prov. NTT, dan juga dari ASITA NTT.

“Kepada tim penilai yang ada manakal ada kekurangan soal fasilitas dan sarana prasarana yang dibutuhkan Sangar Seni hendaknya diajukan untuk dianggarkan. Bila itu menjadi program dinas maka perlu penganggarannya melalui APBD. Sementara ASITA NTT diharapkan kalau ada paket wisata maka bisa menawarkan jasa pertunjukkan seni budaya etnis kepada tamu wisatawan. Itu tujuan diselenggarakan pentas seni budaya etnis malam ini,”ucap Bunda  Julie.

Sembari berharap dinas pendidikan hendaknya memasukkan seni budaya etnis kedalam program pendidikan. Mari kita kerja bareng-bareng memajukan seni budaya kita yang sangat potensial dan unik ini. Marilah kita semua majukan NTT menuju sejahtera melalui seni budaya.

Bunda Julie Laiskodat pose bersama peserta sanggar seni etnis Sabu dan Timor pada Sabtu 07 November 2020. . Doc.marthen radja/citra-news.com

“Mana ada kepala sekolah yang hadir saat ini. Coba ibu Safirah bisa nggak dilaksanakan di sekolah anda. Dinas pendidikan harus bisa menjadikan seni budaya etnis dalam program kegiatannya. Sekolah harus bisa mengembangkannya sehingga seni budaya etnis ini terus hidup sepanjang masa. Generasi muda perlu diwariskan seni budaya tradisional. Seni budaya etnis adalah modal untuk pembangunan ekonomi. Melalui budaya NTT akan bangkit dan NTT akan sejahtera,”tegasnya berulang.

Pentas Seni Budaya Etnis Baru Pertama Kali Terjadi di NTT

Pada kesempatan terpisah, Ketua Forum Komunikasi Antar Sanggar Seni (FORKASE) Provinsi NTT, JOHNY Tedens mengatakan FORKASE adalah wadah untuk menampung aspirasi tentang seni budaya etnis.

“Kita di Forkase hanyalah wadah menampung berbagai sanggar seni etnis yang ada di NTT. Malam ini ada 27 dari 29 sanggar seni  yang tampil di panggung. Dan kegiatan semacam ini baru pertama kalinya terjadi di NTT. Dari gubernur-gubernur sebelumnya belum pernah ada penampilan sanggar seni etnis seperti ini,”kata Johny.

Menurut mantan Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi NTT, hingga dilaksanakan pentas seni budaya etnis ini atas prakarsa dari Bunda Julie Laiskodat. Karena hemat saya, demikian Johny, Bunda Julie jauh sebelum suaminya, VIKTOR Bungtilu Laiskodat jadi Gubernur NTT, beliau sudah sering bawa sanggar seni dari berbagai etnis di tanah air tampil di luar negeri.

Apalagi saat ini sebagai isteri gubernur yang adalah putra daerah NTT sudah tentu melihat seni budaya etnis NTT yang potensial ini, pastinya menjadi ‘kerjaan’ beliau. Sehingga setelah mendengar bahwa ada wadah Forkase, beliau ajak kita bertemu dan presentasikan. Dan malam ini ada buku yang diberikan Forkase adalah buku panduan seni budaya etnis se-NTT. Buku ini lengkap dengan alamat dan nomor telepon bila ada yang minta untuk tampil (pentas) maka sanggar seni melayani jasanya. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *