Dari SOPIA hingga Mesin VNS, Begini Penjelasan NAZIR Abdullah

Belakangan ini publik menggelorakan soal kelayakan ijin edar Sopia, merk dagang (branding) minuman berakohol tradisional nan khas NTT. Pasalnya, belum mendapat legalitas dari pihak BPOM sebagai minum yang layak dikonsumsi.  Tapi koq sudah beredar di pasaran?

Citra-News.Com, KUPANG – KEPALA DINAS Perindistrian dan Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), NAZIR M.Abdullah mengatakan SOPIA-Sopi Asli yang divermentasi dari minuman tradisional (moke, sopi, arak) khas NTT, sudah diproses untuk mendapatkan hak paten atau hak kekayaan intelektual orang NTT.

“Perjuangan pemerintah Provinsi NTT akan potensi unggulan NTT dengan branding SOPIA ini bersamaan dengan tenun ikat. Dimana kedua produk ini sudah dilaunching pada tanggal 20 Desember 2019 bertepatan dengan HUT NTT ke 61 di Waingapu ibukota Kabupaten Sumba Timur Provinsi NTT. Tapi khususnya SOPIA hingga saat ini belum mendapat ijin edar dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Iya kita tetap upayakan untuk memperjuangkan hal ini,”ungkap Nazir saat diwancarai awak citra-news.com di Kupang, Kamis 18 Maret 2021.

Dikatakanya, secara de jure (hukum) produk SOPIA belum layak edar ke pasaran nasional maupun internasional. Hanya saja secara fakta (de facto) minuman SOPIA sudah sampai ke tangan investor (pihak ketiga) dan untuk kalangan terbatas di masyarakat, nilai rasanya sudah dinikmati.

Menjadi pertanyaan mengapa pemerintah seolah memonopoli produk usaha masyarakat ini (moke, arak, atau sopi) untuk diperjualbelikan secara bebas di pasaran? Ditegaskan Nazir, produk SOPIA ini bukan pemerintah Provinsi NTT memonopoli pasar. Akan tetapi pemerintah berniat menaikkan harga produk minuman tradisional orang NTT ini dengan harga yang wajar. Oleh karena itu pemerintah provinsi akan membeli semua hasilnya dari tangan masyarakat kemudian memprosesnya lagi melalui mesin vermentasi. Agar kadar methanol yang ada dibuang dan hanya ada kadar ethanolnya saja.

Artinya dari segi hyegenitas dan kelayakan permintaan pasar itu yang diutamakan, tegas Nazir.  Dari sisi keamanan dan kenyamanan hidup masyarakat bisa diminalisir karena tidak ada lagi kekacauan akibat miras. Oleh karenanya pemerintah akan membeli semua hasil usaha masyarakat ini di beberapa centra dengan harga yang wajar. Jika harga sebelumnya hanya 20-30 ribu sebotol pemerintah akan membelinya dengan harga di kisaran 50-an ribu sebotol.

Soal kendala ijin edar, Nazir menjelaskan kendalanya pada IMB dan UPL UKL untuk diapload ke OSS dan BPOM. Jika saja semuanya sudah ready (siap) maka SOPIA akan siap edar secara terbuka di pasaran.

“Soal ijin edar ini sesungguhnya ada di pihak investor. Pemerintah hanya memfasilitasi dan mem-back up dari sisi regulasi. Iya menyangkut standar dan kelayakan pabrik penyulingan,”tegasnya.

Dia menambahkan,  Pemprov NTT sudah melewati beberapa proses mulai dari survey hingga uji laboratorium. Dari hasil uji Lab bersama pihak Undana Kupang dinyatakan  layak untuk dikonsumsi.

Karena itu untuk launching produk sudah dilakukan pada tanggal 20 Desember 2019 tepat HUT NTT ke 61 di Waingapu ibukota Kabupaten Sumba Timur. Sementara ijin niaganya telah dilakukan pada tanggal 20 Maret 2020. Dengan pemegang mandat niaganya yakni Toko NAM Kupang.

“Beberapa waktu lalu dilakukan survey soal kelayakan pabrik penyulingan moke di bilangan Lasiana Kupang. Tepatnya di Pabrik NAM dan hasilnya siap edar. Tinggal saja kita menunggu ijin edar saja,”kata Nazir.

Mesin VNS Siap Menyuplai Pakan Saat Paceklik

Menurut Nazir sebagai dinas teknis yang punya Tusi (tugas pokok dan fungsi) membantu masyarakat meningkatnkan perekonomiannya, pihaknya juga berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi sebagai leading sector  gerakan Tanam Jagung Panen Sapi.

“Kita tidak tidak bisa lagi kerja sendiri-sendiri, kita harus bangkit bersama membangun rakyat NTT menuju hidup yang lebih baik, mandiri dan sejahtera. Karena itu untuk mensuskseskan gerakan TJPS ini dari Dinas Perindag Provinsi NTT berinovasi membuat mesin  potong rumput dan hijauan makanan untuk ternak. Kami punya mesin yang kami beri nama VNS (Victory National Strong) sebagai mesin copper,”jelas dia.

Jadi untuk mendukung gerakan TJPS, lanjut dia, Dinas Perindag Provinsi NTT menyediakan mesin pakan ternak. Saat bergelimangnya hijauan makanan ternak saat ini termasuk limbah jagung dari TJPS ditampung pada sillage dimana ditempatkan mesin VNS. Sebagai pengelola mesin VNS adalah dengan mendayagunakan tenaga kerja honorer provinsi.

“Mesin VNS ini kerjanya hanya memotong limbah jagung dan hijauan makanan ternak. Produk pakan ini kemudian ditampung dan akan dimanfaatkan sebagai makanan ternak pada musim paceklik. Yaitu pada musim kemarau dimana masyarakat petani ternak selalu mengeluhkan soal kesulitan pakan. Iya dengan kata lain mesin VNS mengatasi masalah pakan menjadi tidak bermasalah,”ungkap Nazir.

Dia menambahkan, pada tahun 2021 pemerintah menyiapkan 5 (lima) unit mesin copper VNS. Juga menjadi lokasi produksi pakan ternak.  Salah satunya di Desa Pantulan Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang. Pada tanggal 22 Maret 2021 mesin VNS ini akan diujicobakan langsung oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. Sedangkan lkauncing product-nya direncakan pada April 2021 di UPT Logam dan Alsintan Dinas Perindag Prov.NTT. +++ marthen/citra-news

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *