Seandainya Anak Manusia Jadi Komodo

Liberius Langsinus : Seandainya anak-anak di SD ini dirubah jadi Komodo maka Bupati Manggarai Barat mau urus mereka karena pasti uang masuk ke kas daerah. Nanti selanjutnya masuk ke kas daerah dan kemudian dipakai membangun sesuatu untuk kemaslahatan rakyat. Atau justeru masuk ke kantong pribadi? Saya tidak tahu. Tapi……

 

Kupang, citranews.com – MOMENTUM Pemilihan umum entah Pemilu anggota legislative dan atau Pemilu eksekutif, rakyat di desa-desa pedalaman selalu jadi momok. Terlalu sering janji manis keluar dari mulut sang pengembara politik agar mendapat simpati masyarakat. Mereka rajin keluar masuk kampung meski tamu tidak diundang. Namun mereka bisa skenariokan dengan acara kecil-kecilan. Sehingga seolah terlihat bak penyambutan ‘raja kecil’ dikalungi selendang kain tenun. Bahkan juga dilepaspergikan dengan sesuatu bingkisan home industry hasil kerajinan rakyat.

Tapi bagi LIBERIUS LANGSINUS atau dia senang disapa Bung Sila, semuanya itu akan sia-sia jika tamu yang datang itu tidak diikat dengan sebuah komitmen. “Rakyat bersama penjaja politik perlu bikin komitmen  dari jauh-jauh hari sebelumnya dia terpilih. Sehingga janji manis yang dilontarkan saat kampanye bisa dia wujudnyatakan,”tuturnya.

Pernyataan itu disampaikan Bung Sila kepada wartawan usai menftarkan diri sebagai Calon Anggota DPD RI di pelataran Kantor KUPD Provinsi NTT, Rabu 25 April 2018 lalu.

Menurut dia, meminta dukungan rakyat melalui pengumpulan KTP tidak harus ‘jual kecap’ atau bikin janji-janji manis. Kasihan rakyat.  Lagi-lagi rakyat jadi korban. Setelah rakyat sudah dibuat  susah dengan menunggu lama KTP Elektronik (E-KTP)  karena ulah Setya Novanto yang juga politisi, kini rakyat kembali dibuat susah. Iya, ada banyak keluhan rakyat yang dimintai KTP-nya oleh oknum-oknum yang mau  maju di bursa calon anggota DPD RI, sudah lama baru diserahkan kembali ke tangan empunya E-KTP.

Padahal E-KTP ini penting untuk berbagai urusanadministrasi  semuanya membutuhkanE – KTP. Saya (Bung Sila) kasihan melihat rakyat yang hanya dipakai sebagai alat untuk memuluskan kepentingan oknum-oknum yang siap jadi calon anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD).

Yang lebih miris lagi rakyat dimintai oknum calon DPD agar mem-foto copy KTP-nya. Lho, rakyat mau beli garam saja susah. Mau beli beras saja susah. Tapi rakyat terpaksa melakukan itu karena sudah direcoki dengan janji-janji manis tadi. Bahwa kalau jadi terpilih saya akan buat ini buat itu untuk kesejahteraan rakyat. Tapi kenyataannya mana. Yang pandai berjanji termakan oleh janjinya sendiri.

“Masih segar dalam ingatan kita kalau beberapa waktu lalu ada kejadian satu unit mobil terbakar di Desa Kakan Kecamatan Kuanfatu Kabupaten Timor Tengah Selatan.  Hemat saya kejadian itu bisa saja janji-janji  yang diumbar terdahulu tidak ditepati,”kata Bung Sila kepada citra-news.com usai konperensi pers.

Bung Sila dalam temu pers bersama sejumlah wartawan media cetak dan elektronik saat itu, dia membeberkan sejumlah pengalamannya terkait membela kedaulatan rakyat. Saya (Bung Sila) punya pengalaman setelah berkeliling di wilayah kabupaten Malaka. Jalan yan menghubungkan daera kantong ekonomi dibiarkan terlantar sampai sekarang.  Saya tidak saja sebatas prihatin tapi saat itu juga saya menelpon pihak Istana agar bisa melanjutkan informasi ke Presiden Joko Widodo agar menurunkan bantuan pembangunan jalan di Kabupaten Malaka Provinsi NTT.

Saya bilang ke pihak Istana bahwa wilayah perbatasan mutlak penting untuk diperhatikan. Karena jika tidak maka saya tidak tahu lagi entah mereka masih mau tetap NKRI atau mereka ‘nyeberang’ ke Negara Timor Leste. Permintaan saya ini ternyata mendapat respons positif dari pihak Istana. Setelah kali berikutnya saya datang lagi ke tempat yang sama infrastruktur jalan itu sudah terbangun dilapisi aspal mulus.

Hal fatal lainnya yang juga terjadi di Kabupaten Malaka dimana ada satu unit sekolah yang mau ditutup oleh Bupati Malaka (Stef Bria Seran). Setelah mendengar keluhan rakyat Malaka saya datang dengan sepeda motor dan menghadap sang Bupati. Saya tanya apa maunya sehingga sekolah ini mau dia tutup. Hal itu juga saya posting ke pihak Istana. Dan beberapa waktu kemudian kabarnya Bupati Stef Bria sudah mengurungkan niatnya menutup sekolah itu.

Juga SD Nangaboleng di Kabupaten Mangarai Barat, lanjut Bung Sila. Kondisinya seperti kandang sapi. Saya posting ke Bupati-nya saya katakan, seandainya anak-anak ini dirubah jadi Komodo maka Bupati mau urus karena pasti uang masuk. Iya uang masuk sebagai sumber penerimaan atau pendapatan asli daerah. Namun kalau incme yang datang itu masuk kantong pribadi, iya saya tahu.

Tapi saya bilang ke pak Bupati, janganlah. Ini anak-anak manusia  yang butuh ilmu pengetahuan dan kecerdasan melalui lembaga pendidikan. Bangunlah infrastruktur pendidikan yang bisa memberikan rasa aman dan nyaman sehingga anak-anak negeri ini bisa menikmati pendidikan. Karena melalui pendidikan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa bisa diraih. Melalui kecerdasan bertindak maa pendapatan perkapita daerah bisa dilipatgandakan. Karena akan percuma membangun istana/menara gading sementara orang-orang penjaga istana rendah SDM.

“Bagi saya perjuangan-perjuangan yang berpihak pada rakyatlah yang dibutuhkan. Karena rakyat sekarang sudah cerdas. Mereka tidak akan mau ditipu lagi dengan janji-janji manis. Bahwa cara-cara kotor dengan janji manis para elitis akan membuat rakyat miskin terus,”tandasnya.

Menjadi pertanyaan lanjutan, tambah Bung Sila,  kenapa akhir-akhir ini banyak calon legislative atau yang mau duduk terus di kursi dewan terhormat juga para calon legislative begitu rajin turun ke desa. Terlepas dari kendala apa yang bakal dihadapi setelah turun di desa, seperti yang terjadi baru-baru ini di Desa Kakan Kecamatan Kuanfatu Kabupaten TTS. Itu contoh soal kalau akibat nafsuisme kekuasaan dan jabatan kendala apa yang dihadapi iya ‘tabrak’ saja.

Mengapa mereka harus rajin turun ke desa,tegasnya berulang. Karena oknum-oknum elitis ini beranggapan kalau rakyat di pedesaan minim sumber daya. Atau kelompok masyarakat yang belum tersentuh teknologi dan informasi. Rakyat kelompok seperti inilah yang mudah dikibuli. Dengan janji-janji, kalau saya terpilih saya pasti akan bangun jalan, akan bangun air bersih, listrik bisa masuk desa. Ah, yang benar saja. Sudah pasti koq pakai kata ‘akan’ lagi? Kan aneh. Dengan lip service alias janji manis yang keluar dari mulut sang pengumpar janji, rakyat lantas percaya.

Tapi faktanya apa setelah terpilih? Ketika dia terpilih belum tentu dia penuhi janji-janji kampanye dulu. Belum tentu bernafsu lagi masuk keluar desa melihat apa yang tengah diderita rakyat disana. Di jalanan ramai saja kaca riben mobil tertutup apalagi jalan masuk desa yang penuh debu dan lumpur. Kebutuhan dasar masyarakat seperti yang dijanjikan banyak yang terabaikan. Itu karena apa. Karena setelah terpilih urusannya sudah lebih pada kepentingan diri dan keluarga daripada memikirkan rakyat yang pernah dia janjikan. Iya ujung-ujungnya rakyat konyol juga. Kan kasihan.

Karena itu tekad saya, demikian Bung Sila, dengan satu komitmen tunggal kembalikan kedaulatan berada di tangan rakyat. Artinya sebelum masuk tahapan verifikasi KPUD NTT mari kita buat satu kesepakatan. Karena tahapan pemilihan umum masih terlalu jauh disana, sekarang mari kita selesaikan hal-hal yang tidak beres di lapangan.

Setelah lolos verifikasi pun kita bikin kesepakatan lagi. Bila ada point-point kesepakatan dilanggar maka saya siap dianulir. Iya kita harus siap, karena rakyat yang beri daulat kepada kita. Dan rakyat pulalah yang membuat keputusan-keputusan itu. Wong  kita hanya wakil rakyat, kita hanya sebagai pemimpin rakyat yang juga menjalankan kedaulatan rakyat. +++ cnc1

 

Gambar: Liberius Langsinus usai mendaftar jadi Calon Anggota DPD RI di KPUD NTT pada Rabu, 25 April 2018 (doc. marthen radja/CNC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *