Workshop Ajang UPTD Taman Budaya NTT ‘Menggali’ Seni Budaya Etnik

Drs. SOFYAN Kurniwan, MM di gedung UPTD Taman Budaya Gerson Poyk Kupang, Kamis 20 Mi 2021. Doc. marthen radja/citra-news.com

Sofyan : UPTD Taman Budaya Provinsi NTT, sebagai institusi yang punya produk seni budaya daerah lokal (etnik) harus mampu menghasilkan para pelaku seni hingga go internasonal.   

Citra-News.Com, KUPANG – UNIT Pelaksana Teknis Daerah Taman Budaya Gerson Poyk Provinsi NTT (UPTD NTT) dari waktu ke waktu terus berbenah diri. Langkah-langkah perubahan terus dilakukan demi untuk melestarikan dan memajukan seni budaya NTT, yang tidak saja mewarnai khasanah budaya nusantara. Tapi juga mampu menembus kwalifikasi tingkat dunia.

Hal itu dikatakan Drs. SOFYAN Kurniawan, MM saat diwawancarai awak citra-news.com di gedung UPTD Taman Budaya Provinsi NTT di bilangan Jalan Kejora Nomor 1 Kota Kupang-Timor, Kamis 20 Mei 2021.

“Kami disini saat ini sedang melakukan Workshop Tenaga Teknis untuk Seni Tari, Musik, Lukis, dan Teater tingkat pelajar se-Kota Kupang.  Spirit yang kami bangun melalui workshop ini adalah melalui proses kreatifitas para pelaku seni mampu mengangkat seni budaya daerah NTT dari berbagai etnik yang ada. Nuansanya lebih pada karya tenun ikat khas NTT yang diekspresikan melalui seni,”kata Sofyan.

SOFYAN K. lakukan inspeksi ke panggung seni tari dan seni teater. Doc. marthen radja/citra-news.com

Menurutnya, kegiatan workshop kali ini diselenggarakan selama 3 (tiga) hari dari tanggal 19-22 Mei 2021. Para peserta umumnya pelajar dan mahasiswa se-Kota Kupang. Namun narasumber kita datangkan dari luar NTT. Masing-masing untuk Seni Tari yakni Dra.Setyastuti, M.Sn, Dr. Koes Yuliadi, M.Hum narasumber untuk Seni Teater, Drs. Ausapati, M.FA untuk Seni Rupa/Lukis, dan Ony Krisnerwinto, narasumber Seni Musik. Dengan sumber biaya dari DAK Non Fisik Dinas Pendidikan dan Kebudayan Provinsi NTT.

Sebagai thema umumnya adalah Proses Kreatif Seni di Era New Normal. Dengan Sub Thema , Cerita Dibalik Tenun Nusa Tenggara Timur. Uniknya workshop kedua ini pra peserta yang sudah ikut workshop tahap satu tidak dilibatkan lagi. Maksud kita memberikan ruang yang sama juga bagi para pelaku seni yang sebegitu banyaknya putra daerah NTT.

“Iya orang NTT itu kaya akan potensi sumber daya manusia seni dan budaya yang didukung dengan beragam potensi alam serta beragam etnik yang ada. Ini yang harus terus kita kembangkan dan kita lestarikan. UPTD Taman Budaya adalah wadahnya yang tidak saja menghasilkan para pelaku seni untuk skop nasional tetapi juga internasional,”jelas dia.

Menjawab hubungan materi workshop dengan sub thema soal tenun ikat, jelas Sofyan, dari nuansa tenun ikat bisa diekspresikan dalam banyak prespektif seni. Untuk seni musik dikreasikan bgaimaana gambaran para leluhur kita saat mereka sedang menenun. Apakah suara siulan burung atau hembusan angina dalah alunan musik yang menginspirasi para penenun kala itu. Demikian juga dari seni lukis bagaimana para pelaku seni menggambarkan warna dan motif tenun ikat dari beragam etnik yang ada. Sama halnya seni teater dan seni tari.

Menjadi hal penting di workshop kedua ini adalah keterlibatan peserta yang mayoritas kelompok milenial. Kepada para pelajarperlu ditaamkan sejak dini nilai-nilai seni budaya dari semua etnik yang ada. Oleh karena itu untuk peserta dilibatkan banyak unsur.

Saya (Sofyan, red) ambil 5 orang dri semua unsur.  Ada 5 guru kesenian, pelajar mahasiswa masing-masing 5 orang, pelaku seni 5 orang, dan dari Sanggar Etnik 5 orang. Inikan sebentar lagi kita memasuki tanggal 1 Juni sebagai Hari lahirnya Pancasila. Lima sila Pancasila adalah simbol rasa patriotisme (cinta tanah air) inilah yang coba kita kemas dalam sebuah acara yang bermartabat seperti ini.

SOFYAN K. lakukan inspeksi ke panggung seni lukis dan seni musik. Doc. marthen radja/citra-news.com

“Ini jangan main-main, saya tegaskan tadi saat inspeksi. Soal kehadiran peserta dan juga kesungguhan dalam mengikuti workshop ini. D. ari politik anggaran pemerintah siapkan. Sehingga kita harus memanfaatkan momntum ini lebih produktif,”tandasnya.

Sofyan juga menambahkan, pihaknya berkehendak menggelar Konser Sweet Seventeen Indonesia Merdeka pada bulan Agustus 2021. Lokasinya kita survey di Gunung Fatuleu Kabupaten Kupang. Kita kemas acaranya dimana di puncak gunung Fatuleu dikibarkan Bendera Merah Putih.

Dikuinya, dalam mensukseskan konser akbar tersebut sudah terprogram dan sudah aada calon sponshorship. Kita berdayakan semua potensi seni budaya etnik NTT dan kita tampilkan disana. Dan ini sudah mendapat apresiasi dari Dirjen Perfilieman dan hampir pasti akan turut bersumbangsih di dalam kegiatan ini. +++ marthen/citra-news.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *