Surat Terbuka LUDONI Kepada MEGAWATI Berbuntut Ujaran Kebencian?

Kika : MARTINUS Amabi didampingi JOSEF Lumban Gaol saat temu pers di kediaman YOSEPH Ariyanto Ludoni, Oebufu Kota Kupang,  TIMOR-NTT. Doc. marthen radja/citra-news.com

Setiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk mengemukakan pendapat di muka umum karena dijamin oleh Pancasila, UUD 45 dan Deklarasi Universal HAM dunia. Namun menjadi kebablasan jika pendapat atau gagasan yang disampaikan itu bersifat destruktif.

Citra-News.Com, KUPANG – SURAT TERBUKA yang dikirim Yoseph Ariyanto Ludoni atau Meo Naek Teflopo An Bi Pah Timor kepada Ibunda Hja. Megawati Soekarnoputri, tertanggal 17 Juni 2021 telah menuai beragam tanggapan minor. Dan reaktif minor dari beberapa nitizen tersebut diunggah melalui akun Forum Kota Kupang.

“Kami minta tolong hargai adat budaya kami orang Timor. Kami sangat menjaga etika dan tata krama dalam bertuturkata. Apalagi etika tidak santun itu diutarakan melalui media sosial, “ucap Martinus Amabi atau dikenal dengan Na’ii Jabi Uf Amabi dalam temu pers di Kupang, Senin, 28 Juni 2021.

Terhadap ungahan yang beraroma ujaran kebencian itu, Martinus Amabi mengatakan pihaknya segera melaporkan hal itu ke Polda NTT.

“Tadi siang kami sudah berknnsultasi dengan pihak kepolisian di Mapolda NTT. Kami bawa juga bukti-bukti surat trrbuka ke ibu Megawati Soekarnoputri dan dokumen ujaran kebencian yang disebar melalui akun Forum Kota Kupang,”kata Josef Lumban Gaol.

Sembari menambahkan kalau dirinya diminta untuk mendampingi Martinus Amabi. Hasil konsultasi kami tadi pihak Pold NTT menyarankan agar pihak yang merasa dirugikan, dalam hal ini Yosef Ariyanto Ludoni (korban) membuat laporan poliisi.

“Iya maaalah ini harus diselesaikan secara hukum. Ini sudah pencemaran nama baik sehingga kami keluarga besar sepakat masalah ini harus kami laporkan ke polisi,”tambah Amabi.

 

Menjawab citra-news.com6 pokok permasalahan hingga memantik niat keluarga Amabi melapor polisi, Lumban Gaol mengatakan, “”Ini bermula dari Surat terbuka pak Yosef Ariyanto Ludoni kepada Hj. Megawati Soekarnoputri.Denhan berperihal dugaan kasus SARA yang dilakukan Ketua DPRD Kota Kupang (Yehezkiel Lodoe) yang juga Ketua DPC PDIP Kota Kupang”.

Pada intinya, sambung Limbah Gol, surar terbuka tersebut ditujukan kepada Hj. Megawati Soekarnoputri san telah diterimanya tanggal 19 Juni 2021. Sebelum dikirim ke Ibunda Hj. Megawati Soekarnoputri, Meo Naek Teflopo, Yoseph Ariyanto Ludoni, merilis surat terbuka itu kepada publik dengan membacakannya secara terbuka di Sonaf Meo Naek Teflopo, 18 Juni 2021.

“Nanti uraiannya silakan teman-teman wartawan bisa lihat isi siaran pers yang ada, “pinta Lumbah Gool.

Kemerdekaan Berpendapat di Muka Umum

Kasus terkini menimpa Meo Naek Teflopo An Bi Pah Timor, Yoseph Ariyanto Ludoni. Postingan facebook pada Forum Kota Kupang yang dilakukan individu tertentu sebagai pengguna gadget melalui media sosial tanggal 22 Juni 2021 dapat disebut sebagai ujaran kebencian terhadap Yoseph Ariyanto Ludoni.

Dalam siaran pers tersebut dibeberkan bahwa Kemerdekaan mengemukakan pendapat di muka umum, entah itu dalam forum terbuka atau melalui media sosial, adalah kebebasan setiap orang. Bisa berupa pemikirannya atau gagasan. Asalkan konstruktif.

Setiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk mengemukakan pendapat di muka umum karena dijamin oleh Pancasila, UUD 45 dan Deklarasi Universal HAM dunia. Itu dalam forum terbuka atau melalui media sosial, adalah kebebasan setiap orang. Bisa berupa pemikirannya atau gagasan. Asalkan konstruktif. Namun menjadi kebablasan jika pendapat atau gagasan yang disampaikan itu bersifat destruktif.

Lebih buruk lagi jika menyerang pribadi individu/personal atau kelompok tertentu, yang disebut sebagai ujaran kebencian. Ujaran Kebencian dan penggunaan bahasa yang kasar di media sosial sangat berpotensi menimbulkan konflik. Baik antar individu maupun kelompok.

Hal itu terjadi karena ujaran kebencian tak jarang menggunakan bahasa-bahasa tak santun, bahkan hingga menyebut kata-kata makian. Tentu sangat tidak manusiawi.

Postingan sebagai bentuk ekspresi itu telah menimbulkan keresahan, antipati, bahkan perlawanan terhadap individu. Kejahatan verbal tersebut berimplikasi merusak harkat dan martabat manusia.

Adapun bentuk ujaran kebencian pada jejaring media sosial terhadap Yoseph Ariyanto Ludoni itu sebagai berikut, Pertama, kalimat deklaratif pernyataan pencemaran nama baik. Yoseph Ariyanto Ludoni dituding melakukan korupsi dana PLS. “Ternyata orang ini juga bagian dari koruptor dana PLS….” Demikian salah satu postingan.

Kedua, kalimat deklaratif aktif pernyataan fitnahan. Yoseph Ariyanto Ludoni disebut sebagai panglima palsu, panglima gadungan. Tak paham budaya Timor. Dan masih banyak pernyataan lainnya yang bernada serupa.

Ketiga, kalimat deklaratif kebencian, penghinaan berupa makian. “Yoseph Ariyanto Ludoni meo asu fui, meo pisu, Mr Ludoni bai ngao…”

Seluruh ujaran kebencian yang dilakukan individu pada Forum Kota Kupang terhadap Yoseph Ariyanto Ludoni semuanya merujuk pada tiga bentuk pernyataan ini, terkategori sudah menyerang kepribadian tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Merujuk pada surat edaran Kapolri Nomor SE/6/X/2015, kami menilai ujaran kebencian terhadap Yoseph Ariyanto Ludoni ini memenuhi unsur pidana berbentuk penghinaan, penistaan, dan pencemaran nama baik.

Kami berharap aparat kepolisian memanggil dan memeriksa pihak-pihak terkait untuk diproses secara hukum. Hal ini untuk menimbulkan efek jera agar kasus serupa tidak terjadi lagi. +f+ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.