KLUDOLFUS Tuames, S.P – Kepala BP DAS Benain Noelmina, saat diwawancarai di Kupang, Selasa 28 Oktober 2025. Doc. marthen radja/citra-news.com
Gubernur Melky Laka Lena nyatakan Pengelolaan DAS menjadi salah satu pilar penting dalam strategi adaptasi perubahan……
Citra News.Com, KUPANG – KEPALA BALAI Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Benain Noelmina, Kludolfus Tuames, S.P., mengatakan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang efektif dan berkelanjutan menjadi sangat krusial untuk kebutuhan hayati. Pengelolaan DAS adalah pilar kelestarian alam dan kebutuhan manusia.
Secara khusus bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan kondisi alam yang semi-kering, curah hujan terbatas, dan rentan terhadap perubahan iklim, kawasan DAS di NTT memegang peranan penting. Baik dalam menjaga fungsi ekologis maupun memenuhi kebutuhan manusia seperti air bersih, irigasi, hingga mitigasi bencana hidrometeorologi.
Selaku Kepala BPDAS Benain Noelmina, Dolfus Tuames secara terbuka menyampaikan urgensi pengelolaan DAS dalam beberapa kesempatan. Bahwa Penanaman Pohon dan Rehabilitasi Hulu Sungai, ini sangat strategis untuk menjaga keseimbangan hidrologi dan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah hilir.
Dolfus menyerukan agar masyarakat di wilayah hulu dilibatkan secara aktif, sehingga menjaga DAS bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Langkah strategis prioritas yang didorong yaitu, Pertama, merehabilitasi hulu yaitu Penanaman Kembali Vegetasi, Pengendalian Erosi, dan Pembangunan Sumur Resapan. Ini dilakukan agar aliran air lambat dan DAS lebih sehat. Kedua, penataan tata guna lahan diantaranya Pengaturan penggunaan lahan agar tidak merusak hulu DAS. Untuk hal ini perlu pelibatkan masyarakat lokal dalam pertanian yang ramah lingkungan.
Ketiga, Kolaborasi multi-pihak yang Melibatkan pemerintah daerah, masyarakat, akademisi dan sektor swasta untuk memastikan keberlanjutan. Keempat, Melakukan Pemantauan dan evaluasi: Memanfaatkan data citra satelit dan survei lapangan (seperti kajian di DAS Noelmina) untuk melihat perubahan tutupan lahan dan kondisi DAS dari waktu ke waktu.
“Jika hal-hal ini tidak dikelola dengan baik dan bijak serta terintegrasi maka menimbulkan dampak risiko besar”, kata Dolfus di Kupang, Selasa (28/10).
Dia menjelaskan, risiko besar yang terjadi jika tanpa pengelolaan yang terintegrasi, seperti menurunnya ketersediaan air bersih untuk rumah tangga dan irigasi, mengingat musim kering panjang di NTT; Peningkatan erosi dan sedimentasi yang mempengaruhi kualitas air dan infrastruktur sungai; Berikut, Meningkatnya frekuensi bencana seperti banjir dan longsor di musim hujan karena aliran air tak terkendali; Hilangnya keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis DAS yang mempengaruhi mata pencaharian masyarakat sekitar.












