Sejalan dengan itu, Menteri P2MI Mukhtarudin menjelaskan bahwa rapat tersebut bertujuan menyamakan visi dan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas serta pemanfaatan PMI asal NTT.
Ia memaparkan delapan strategi nasional, mulai dari Migrant Center, SMK Go Global, Desa Migran EMAS, hingga skema KUR Penempatan dan Pemberdayaan. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menutup diskusi dengan nada tegas dan reflektif.
Ia menekankan bahwa perhatian terhadap PMI harus dilakukan secara menyeluruh—sebelum berangkat, selama bekerja, dan setelah kembali.
Bahkan, Gubernur mendorong pembentukan dua tim satgas: satu untuk pendampingan dan penyiapan calon PMI, dan satu lagi untuk memberantas mafia serta jaringan PMI ilegal.
“Jika kita kalah, yang pulang adalah jenazah. Mereka berangkat dengan modal nekat, pulang dengan kehilangan nyawa,” tegasnya.
Di tengah kompleksitas persoalan migrasi, pesan dari ruang rapat itu terasa jelas: PMI bukan sekadar tenaga kerja, tetapi manusia dengan mimpi dan masa depan.
Tugas negara—termasuk pemerintah daerah—adalah memastikan mimpi itu tidak berakhir tragis, melainkan tumbuh menjadi harapan yang kembali menghidupi kampung halaman. +++ marthen/*












