“Hari ini kita menorehkan sebuah babak baru pembangunan Indonesia Timur. Perjanjian kerja sama ini bukan sekadar formalitas birokrasi, tetapi manifestasi tekad kolektif untuk meruntuhkan sekat-sekat isolasi dan membangun jembatan kolaborasi antarwilayah,” ujarnya.
PKS KR-BNN mencakup lima bidang strategis yang dinilai menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat, mulai dari konektivitas transportasi, pariwisata dan ekonomi kreatif, pengembangan super grid energi terbarukan, penguatan perdagangan dan ekspor, hingga integrasi perencanaan pembangunan.
Di sektor konektivitas, ketiga provinsi sepakat mengintegrasikan transportasi laut, udara, dan penyeberangan agar mobilitas orang dan barang semakin lancar. Bahkan, penjajakan rute-rute baru seperti seaplane mulai dibidik untuk membuka wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi.
Sementara di bidang pariwisata, Bali, NTB, dan NTT ingin melangkah bersama dalam satu ekosistem terpadu. Wisatawan yang selama ini terpusat di Bali diharapkan dapat menjelajah lebih jauh ke NTB dan NTT melalui penguatan branding bersama, peningkatan kualitas SDM, serta standar layanan pariwisata berkelas internasional.
Kerja sama energi terbarukan juga menjadi sorotan. Potensi surya, angin, dan air yang melimpah di kawasan ini akan dipetakan secara bersama melalui studi kelayakan dan peta jalan menuju ketahanan energi yang berkelanjutan. Adapun dalam perdagangan dan ekspor, Bali disepakati sebagai hub regional, membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk unggulan NTB dan NTT.
“Ini adalah legacy. Kita bergerak melampaui ego sektoral dan ego teritorial. Penandatanganan ini membuka pintu kerja sama yang lebih luas, termasuk kesehatan, pendidikan, transformasi digital, hingga mitigasi bencana,” tegas Gubernur Melky.












