Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

WALI Kota Kupang CHRISTIAN Widodo Usul DUA Kampung Nelayan MERAH PUTIH Masuk Program PRIORITAS

Reporter: Marthen RadjaEditor: Redaksi
CitraNews

Kelurahan Lasiana, dengan sekitar 900 nelayan dan luas kawasan 9,3 hektare, menyimpan potensi produksi ikan hingga 350 ton per tahun. Namun, bencana alam yang sempat merusak peralatan tangkap membuat produktivitas mereka terhambat.

Di sisi lain, Oesapa menjadi simpul aktivitas perikanan yang tak pernah benar-benar tidur. Subuh hingga malam, aktivitas bongkar muat hasil laut terus berlangsung walau sering kali tanpa fasilitas yang memadai.

“Semua persyaratan sudah siap. Lahan tersedia, administrasi lengkap, dan telah diverifikasi. Kami hanya butuh percepatan,” tegas Christian Widodo.

Baca Juga :  Marak PENCURIAN Kayu JATI Kawasan Hutan BIPOLO, Ini Reaksi BBKSDA

Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang pun menyatakan kesiapan penuh: mulai dari penyediaan lahan, dukungan regulasi, hingga pendampingan nelayan agar program tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.

Usulan itu mendapat respons cepat dari Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono. Ia langsung meminta jajarannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menindaklanjuti, mengingat kesiapan daerah yang dinilai matang.

Baca Juga :  TUMBUHKAN Fiskal Daerah Bangkitkan NIAT Para Pihak Teken MoA

“Targetnya bukan sekadar membangun gedung atau dermaga, tetapi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kawasan pesisir harus menjadi pusat produksi dan industri perikanan berkelanjutan,” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih merupakan bagian dari strategi nasional membangun ekonomi dari bawah : dari desa, dari kampung, dari nelayan.

Baca Juga :  Tempo 100 Hari Kerja Walkot CHRISTIAN Fokus Mengurus SAMPAH dan Pemberdayaan UMKM

Di Nusa Tenggara Timur sendiri, saat ini telah berdiri tujuh lokasi kampung nelayan. Pada 2026, koordinasi lanjutan akan dilakukan untuk memperluas jangkauan program, termasuk di Kupang.

Komitmen pemerintah pusat terhadap NTT tak berhenti pada sektor perikanan tangkap. Pengembangan industri garam di Rote dan wilayah potensial lainnya terus didorong, dengan target Indonesia bebas impor garam pada akhir 2027.