Analogi yang disampaikan Walikota Christian Widodo tentang “nada dalam lagu dan warna dalam lukisan” menggambarkan bahwa keindahan sosial justru tercipta dari keberagaman yang dirangkai secara proporsional.
Capaian Kota Kupang yang masuk dalam jajaran kota toleran dan inklusif tingkat nasional pun dapat dibaca sebagai konsekuensi dari praktik-praktik sosial semacam ini.
Toleransi di NTT khususnya Kota Kupang tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan dibangun melalui interaksi sehari-hari yang sederhana namun bermakna. Walikota Christian menyebut contoh seperti berburu takjil di sekitar gereja tanpa mengganggu ibadah, atau sapaan hangat antarumat yang berbeda keyakinan.
Kehadiran sekitar 5.000 peserta dalam pawai yang dilepas oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, semakin menegaskan bahwa perayaan ini bukan milik satu kelompok, melainkan milik bersama. Ia menjadi ruang perjumpaan sosial yang mempertemukan identitas, keyakinan, dan harapan dalam satu irama kebersamaan.
Pada akhirnya, Kupang Bertakbir Season III atau Pawai Takbir 2026 di Kota Kupang dapat dimaknai sebagai cermin dari wajah kota itu sendiri. Yaitu sebuah ruang hidup yang terus belajar merawat perbedaan.
Di balik gema takbir, tersimpan pesan yang lebih dalam bahwa harmoni adalah proses yang harus dirawat, bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Dan di kota ini, harmoni itu tidak hanya diucapkan, tetapi dijalani. +++ marthen/*












