Bertemakan “Kasih di Hari yang Fitri” yang diusung panitia memperkuat narasi tersebut. Ketua PHBI Kota Kupang, Bustaman, memaknai Idul Fitri bukan sekadar kemenangan spiritual setelah Ramadan, tetapi momentum sosial untuk merawat empati dan memperkuat persaudaraan dalam masyarakat majemuk.
Dalam konteks ini, pawai takbir berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan nilai keimanan dengan praktik kehidupan bersama. Yang menarik, harmoni yang tercipta tidak berhenti pada simbol. Ia hadir dalam tindakan nyata.
Keterlibatan lintas agama, termasuk partisipasi jemaat gereja yang turut memeriahkan suasana dengan nuansa Islami, menjadi representasi konkret dari toleransi yang hidup.
Bahkan, tradisi berbagi bingkisan Idul Fitri kepada gereja-gereja yang dilalui pawai memperlihatkan bahwa keberagaman di Kupang bukan sekadar slogan, melainkan praktik keseharian.
Ruang Hidup Merawat Perbedaan
Dalam perspektif interpretatif, fenomena dari Kupang Bertakbir Season III ini menunjukkan bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesadaran untuk menyeimbangkan perbedaan.












