Persoalan jalan kemudian menjadi titik sensitif lain dalam konflik ini. Keluarga korban menegaskan lokasi tersebut bukan fasilitas umum, melainkan area pribadi yang selama ini hanya dilalui warga untuk mempersingkat akses perjalanan.
Klaim itu memperlihatkan adanya persoalan laten mengenai batas ruang milik pribadi dan kebiasaan sosial masyarakat yang mungkin telah berlangsung lama tanpa penyelesaian jelas.
Dalam banyak kasus konflik desa, sengketa akses jalan sering kali tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan hak kepemilikan, kebiasaan turun-temurun, hingga relasi sosial antarwarga yang mudah retak ketika dipicu persoalan kecil.
Karena itu, kasus di Susulaku A tidak hanya menjadi ujian bagi aparat penegak hukum dalam mengungkap fakta pengeroyokan. Tetapi juga menjadi cermin rapuhnya mekanisme penyelesaian konflik sosial di tingkat masyarakat.
Hingga kini, polisi belum memberikan keterangan resmi mengenai apakah para terduga pelaku telah diperiksa secara intensif ataupun ditahan. Penyidik masih mengumpulkan bukti dan keterangan saksi untuk memastikan kronologi kejadian secara utuh.
Di tengah proses penyelidikan yang masih berjalan, warga berharap kasus ini tidak berhenti pada penanganan hukum semata. Sebab yang terluka bukan hanya korban secara fisik, tetapi juga hubungan sosial antarwarga yang kini mulai dipenuhi kecurigaan dan ketegangan. +++ marthen/hiro













