Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

Dari ALTAR Untuk HARMONI, Christian Widodo Sebut GEREJA Mampu Menghadirkan AGEN PERDAMAIAN

Reporter: Marthen RadjaEditor: Redaksi
CitraNews

Diutus Untuk Melayani

Christian Widodo bahkan mengajak para diakon membangun sinergi dengan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Baginya, hakikat kepemimpinan, baik dalam Gereja maupun pemerintahan, memiliki titik temu yang sama yaitu Semangat untuk Melayani.

“Menjadi diakon, menjadi pemimpin, ataupun pejabat publik bukan soal seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, melainkan seberapa dalam kita mau terjun melayani sesama”, tegasnya.

Pesan serupa juga disampaikan Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga. Ia menyebut tahbisan 30 diakon baru sebagai anugerah besar bagi Gereja Katolik, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga :  PKS Bank NTT–PT AP Bali, Pembiayaan PMI Masuki BABAK BARU yang Lebih AMAN dan TERENCANA

Saat banyak wilayah di dunia mengalami krisis panggilan, NTT justru terus melahirkan calon imam dan biarawan. Fenomena ini, menurutnya, bukan hanya berkat yang patut disyukuri, tetapi juga tanggung jawab besar.

Panggilan yang tumbuh subur di tanah Flobamora harus siap diutus melayani Gereja universal, bahkan hingga ke tempat-tempat yang jauh dari kampung halaman mereka.

Baca Juga :  TERIMA GDPK Christian Widodo Tekankan KEBIJAKAN Berbasis DATA Fondasi MASA DEPAN Kota KUPANG

Sementara itu, Praeses Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Rm. Theodorus Aloysius Silab, Pr., mengingatkan bahwa para diakon dipilih bukan karena kesempurnaan mereka, melainkan karena belas kasih Tuhan yang terlebih dahulu memanggil. “Maka tugas mereka (30 Diakon, red) bukan mengejar penghormatan, melainkan menghadirkan wajah kasih Allah bagi sesama”, kata Romo Theo.

Di akhir perayaan, rasa syukur mengalir dari para diakon yang baru ditahbiskan. Mereka mengenang perjalanan panjang pembinaan, pendidikan, doa, dan pengorbanan yang telah dilalui bersama keluarga, para formator, dan umat yang setia mendukung.

Baca Juga :  Tim Kesenian SABU Berlaga di FESTIVAL Oslo Norwegia

Namun, seperti yang berulang kali ditegaskan dalam perayaan itu, tahbisan bukanlah titik tiba. Ia adalah titik berangkat. Sebuah awal untuk menghadirkan kasih Tuhan, merawat harmoni, dan menjaga harapan tetap hidup di tengah dunia yang terus membutuhkan pelayan-pelayan yang setia.  +++ marthen/*