Menurut Camat Amsi, karakter wilayah Kecamatan Alak yang gersang saat musim kemarau membutuhkan langkah yang tidak hanya bersifat jangka pendek. “Alam kami di wilayah Kecamatan Alak sangat keras. Saat musim kemarau kondisinya sangat gersang. Dengan adanya program biopori ini pemerintah berupaya menjadikan alam kami tetap terlihat hijau,” ujarnya.
Bagi Amsi, teknologi biopori bukan semata-mata soal membuat lubang di tanah. Tapi lebih jauh, gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya menahan air hujan agar tidak seluruhnya mengalir pergi, sekaligus membuka peluang bagi lingkungan untuk menyimpan air lebih baik.
Karena itu, setelah peluncuran gerakan “Tanam Air”, Pemerintah Kecamatan Alak mendorong kelurahan hingga tingkat RT/RW untuk mengambil bagian.
Harapannya, upaya sederhana yang dilakukan secara bersama dapat memberi dampak lebih besar terhadap kondisi lingkungan, terutama ketika musim kemarau tiba.
Menurutnya, tantangan konservasi air di Alak tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendirian. Keterlibatan masyarakat, pemuka agama, tokoh masyarakat, LPM, dunia usaha, BUMN, BUMD dan berbagai elemen lainnya menjadi bagian penting dari keberhasilan gerakan tersebut.
“Kami mengimbau warga masyarakat di 12 kelurahan se-Kecamatan Alak untuk memberikan dukungan positif serta berpartisipasi aktif menyukseskan gerakan ‘Kupang Berair’ melalui aksi nyata demi anak cucu ke depan,” tegasnya.

Lebih jauh Camat Amsi menerangkan, kebutuhan kolaborasi itu juga berkaitan dengan keterbatasan sumber daya pemerintah di tingkat kecamatan. Ia menyebut jumlah ASN pemerintahan Kecamatan Alak, baik di kantor kecamatan maupun 12 kelurahan, sekitar 140 orang.
Dengan keterbatasan sumber daya manusia dan sarana prasarana, tidak seluruh program pemerintah dapat berjalan optimal apabila hanya mengandalkan kekuatan birokrasi. Untuk itu kolaborasi menjadi penting.













