Festival Budaya Manulai 2 kemudian menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa kerja bersama tersebut dapat dimulai dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat.
Melalui kegiatan budaya, warga tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi ikut menjadi pelaku yang menjaga identitas, memperkuat hubungan sosial, dan menanamkan nilai kebersamaan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan Festival Budaya ini melibatkan pelajar tingkat SD hingga SLTA di wilayah Kelurahan Manulai 2. Berbagai lomba digelar, termasuk lomba Siul untuk kelompok ibu-ibu, sementara sejumlah stan menghadirkan makanan lokal dan souvenir. Aktivitas tersebut mempertemukan unsur pendidikan, budaya, kreativitas, ekonomi lokal, dan interaksi sosial dalam satu ruang kegiatan masyarakat.
Dari Manulai 2, pemerintah dan masyarakat kembali diingatkan bahwa keberagaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling mempertentangkan perbedaan.
Sebaliknya, perbedaan budaya dapat menjadi modal sosial untuk memperkuat persatuan dan menjadi energi pembangunan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan Indonesia.
Kegiatan ini turut dihadiri Prof. Dody yang membidangi teknologi Biopori, anggota DPRD Kota Kupang Esy Bire, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Kupang, Ila Loudou, Babinsa, Bhabinkamtibmas, para lurah se-Kecamatan Alak, LPM, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta insan media.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa merawat budaya dan membangun kota membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dari Festival Budaya Manulai 2 menyampaikan pesan yang sederhana tetapi mendasar bahwa kemajuan tidak harus membuat sebuah masyarakat kehilangan akar.

Justru dengan mengenali budaya, menghargai perbedaan, dan bekerja bersama, Kota Kupang dapat terus bertumbuh sebagai Rumah Bersama.
Adalah Rumah yang tidak hanya dibangun dengan beton dan infrastruktur, tetapi juga dengan persaudaraan, karakter, dan rasa memiliki warganya. +++ marthen/cnc











