Mengapa Paskah Selalu Diperingati di Tanggal yang Berbeda?

Bulan purnama dan sistem kalender yang berbeda perlu diperhatikan

untuk menentukan tanggal Hari Paskah.

citranews.comPASKAH diperingati sebagai hari kebangkitan Yesus bagi umat Kristen. Pada tahun 2018 Hari Paskah jatuh pada tanggal 1 April.  Yang diawali dengan misa oleh PAUS FRANSISKUS membasuh kaki 12 narapidana Regio Ceoli dalam Kamis Putih pra Paskah 2018.
Tidak seperti Natal yang selalu diperingati setiap 25 Desember, setiap tahun. Hari Paskah yang dirayakan di seluruh dunia itu  selalu diperingati pada tanggal yang berbeda.

(Baca juga : Benarkah Ada Bintang yang Mengiringi Kelahiran Yesus?)

Pada 2014, Paskah diperingati pada 20 April. Sedangkan pada 2015 dan 2016, hari sakral yang juga disebut “Easter Day” tersebut jatuh masing-masing pada 5 April dan 27 Maret.

Tahun ini, Paskah diperingati pada Minggu, 1 April 2018. Sedangkan pada 2019 dan 2020, peringatan yang dijadikan hari libur nasional di Indonesia ini tiba lebih lambat, yakni pada 21 April dan 12 April. Itu berarti butuh waktu 11 tahun hingga Hari Paskah kembali diperingati pada 1 April. Sedangkan terakhir kali umat Kristen memeringati Paskah pada tanggal tersebut terjadi 62 tahun lalu, yakni pada 1956.

Mengapa Paskah diperingati pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya?

Paskah berakar dari kata dalam bahasa Yunani “pascha” atau kata dalam bahasa Ibrani “pesach”.
Pada 1530, William Tyndale, seorang pembaharu Kristen dan penerjemah Perjanjian Lama ke dalam bahasa Inggris, menerjemahkan “pesach” yang terdapat dalam pasal 12 Kitab Keluaran menjadi “Passover“.  Secara harfiah, kata itu berarti “melewati” dan secara khusus dalam tradisi Yahudi merujuk pada perayaan pembebasan orang-orang Yahudi dari perbudakan di Mesir.

Dalam keyakinan umat Kristiani, penyaliban dan kebangkitan Yesus dipercaya terjadi saat Passover tahun 30. Oleh karena itu, penentuan tanggal Paskah pada awalnya mengikuti hari orang-orang Yahudi merayakan Passover, yakni pada bulan purnama pertama setelah ekuinoks vernal (Pascha Full Moon/PFM) atau tanggal 14 bulan Nisan dalam kalender Yahudi.
Ekuinoks vernal adalah fenomena ketika matahari melintas tepat di atas khatulistiwa. Menurut perhitungan astronomis, fenomena itu terjadi pada 21 atau 22 Maret dan menandakan perubahan dari musim dingin ke musim semi di belahan bumi utara.

John Fotopoulos dalam artikel berjudul “Some Common Misperceptions About The Date of Pascha/Eastermengatakan  sejumlah pengikut ajaran Yesus terdahulu merayakan Paskah pada hari Minggu pertama setelah perayaan Passover. Sedangkan sejumlah pengikut Yesus lainnya merayakan Paskah tepat pada hari Passover sekalipun tidak jatuh pada hari Minggu. Mereka inilah yang kemudian disebut kaum Quartodecimans, yang secara harfiah berarti orang-orang empat belasan.

Nyatanya, perhitungan tanggal dalam kalender Yahudi rumit. Untuk menyesuaikan agar Passover berlangsung pada musim yang tepat, orang-orang Yahudi menambahkan beberapa bulan dalam penanggalan yang berdasarkan periode bulan tersebut.

“Keputusan lambat untuk menambahkan satu bulan dalam kalender Yahudi dan sulitnya mengomunikasikan itu menandakan tidak semua masyarakat Yahudi mawas terhadap penambahan bulan. Hasilnya, beberapa komunitas Yahudi menyelenggarakan Passover pada bulan yang berbeda, sementara lainnya merayakan Passover dua kali dalam satu tahun,” ujar Fotopoulos.

Untuk keluar dari kerumitan dan perbedaan peringatan Hari Paskah, Kaisar Romawi Konstantin menyelenggarakan Konsili Nicea I pada 325. Selain mengakui Yesus sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Tuhan, konsili tersebut juga menetapkan peringatan Paskah dilaksanakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama yang muncul setelah ekuinoks vernal; jika bulan purnama muncul pada hari Minggu, Hari Paskah diperingati pada hari Minggu pekan depannya.

Namun demikian, bulan purnama muncul tidak pada waktu yang bersamaan untuk setiap pengamat yang tinggal di lokasi berbeda. Oleh karena itu, gereja membuat kalender perhitungan bulan purnama paskah tersendiri yang disebut Ecclesiastical Full Moon (EFM). Saat itu penetapan Hari Paskah dilakukan dengan memanfaatkan tabel siklus Metonik 19 tahunan Bulan dalam kerangka kalender Julian.

Selanjutnya, penetapan tersebut disesuaikan seiring diberlakukannya sistem baru, kalender Gregorian, sejak 1582. Kalender Gregorian membuang 10 tanggal, 5-14 Oktober 1582, dari kalender Julian untuk menyesuaikan kembali ekuinoks vernal yang semula bertanggal sekitar 3 April ke tanggal sekitar 20 Maret.

Syahdan, karena bergantung pada bulan purnama yang tanggal kemunculannya tidak tetap menurut kalender masehi, Hari Paskah jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahun.

Peneliti di Carnegie Instituion of Washington Alexandor Pogo, dalam artikel berjudul “Early and Late Easter Datesmenunjukkan  tanggal Hari Paskah merentang dari yang paling cepat pada 22 Maret hingga paling lambat 25 April.

Sejak penyesuaian ke kelender Gregorian hingga sekarang, Paskah telah dirayakan pada 22 Maret sebanyak 4 kali, yakni pada 1598, 1693, 1761, dan 1818. “Sebuah rekor interval sebanyak 467 tahun merentang antara 1818 dan 2285, tahun termutakhir dan tahun perayaan Paskah selanjutnya pada 22 Maret menurut penanggalan paskah Gregorian,” terang Pogo.

Mula Berlanjutnya Kehidupan

Brent Landau, pengajar Kajian Agama di University of Texas at Austin, mengatakan berbagai hari penting nan suci dalam tradisi Kristen erat kaitannya dengan perubahan musim.

Dalam artikel bertajuk “Why Easter is called Easter, and Other Little-known Facts About the Holiday“, Landau mengatakan,  alasan utama kelahiran Yesus diperingati setiap 25 Desember karena tanggal tersebut bertepatan dengan terjadinya solstis musim dingin menurut kalender Romawi, yang jamak digunakan sebelum kalender Julian di Eropa.

Solstis musim dingin merupakan peristiwa Matahari melintas di garis 23,4 derajat lintang selatan.  Garis yang dinamakan Tropic of Capricorn itu adalah lintang paling selatan yang dicapai Matahari. Menurut kalender Gregorian, momen tersebut terjadi pada 21 atau 22 Desember dan menandai dimulainya musim dingin di Bumi belahan utara.

“Karena durasi siang hari berangsur lebih lama setelah solstis musim dingin, ia menjadi simbolisme ideal untuk kelahiran ‘cahaya dunia’ sebagai termaktub dalam Injil Yohanes,” jelas Landau.

Setelah solstis musim dingin, lintasan Matahari berpindah lebih ke utara hingga mencapai ekuinoks vernal yang pada akhirnya juga menjadi penanda dimulainya musim semi di Bumi belahan utara dan menjadi patokan perayaan Paskah.

“Musim semi juga berarti kembalinya kehidupan tumbuhan dan hewan yang tidak aktif selama musim dingin. Di musim semi pula, sebagian besar hewan beranak-pinak. Mengingat simbolisme kehidupan baru dan kelahiran kembali, adalah wajar untuk merayakan kebangkitan Yesus,” ujar Landau.

Meski demikian, antara tanggal perayaan dan fenomena alam yang menjadi patokannya bisa jadi tidak sesuai karena ketidaktepatan cara perhitungan.

Gereja ortodoks dan sejumlah denominasi lain hingga kini tetap menggunakan kalender Julian untuk menetapkan perayaan Natal dan Paskah. Pada 2018, para penganut Kristen Ortodoks memperingati Natal pada 7 Januari, sementara hari Paskah ditetapkan jatuh pada 8 April.

Menurut Fotopoulos yang juga Associate Professor bidang Perjanjian Baru di Departemen Kajian Agama Saint Mary’s College at Notre Dame, Indiana, AS, penetapan ekuinoks vernal yang digunakan oleh Gereja Ortodoks untuk perhitungan Hari Paskah tidak sesuai dengan keadaan aktual pergerakan bumi dan bulan purnama Paskah yang sebenarnya. Perhitungan gereja Ortodoks menyatakan ekuinoks vernal terjadi pada 3 April, padahal semestinya 21 Maret.

“Secara sederhana, kalender dan sains terbaik yang ada kini tidak lagi digunakan untuk perhitungan Paskah yang menghasilkan perayaan Paskah Gereja Ortodoks yang kerap tidak sinkron dengan fenomena astronomi: ekuinoks vernal, bulan purnama paskah dan sering diperingati saat sudah lama masuk musim semi,” jelas Fotopoulos.

Di tengah perbedaan itu, usaha-usaha untuk menunggalkan tanggal Hari Paskah bermunculan para pemimpin tertinggi umat Kristen sejak lama.

 Catholic News Agency melansir  Paus Koptik Tawadros II menulis surat kepada Paus Fransiskus pada 2014 yang isinya meminta pertimbangan untuk melakukan upaya baru menunggalkan tanggal Paskah. Pada Juni 2015, Paus Fransiskus mengatakan kesepakatan bersama bahwa tanggal tunggal Hari Paskah mesti dicapai berdasarkan perhitungan kalender Gregorian gereja Ortodoks.

Seminggu kemudian, National Catholic Reporter  melansir Aphrem II, pemimpin tertinggi gereja Ortodoks Suriah yang mengatakan kepada Paus Fransiskus bahwa dua tanggal berbeda dalam merayakan Paskah adalah sumber ketidaknyamanan.

Pada bulan Januari 2016, nama Persekutuan Gereja Anglikan, Uskup Agung Canterbury Justin Welby mengumumkan bahwa mereka bergabung bersama perwakilan Katolik, Koptik dan Ortodoks untuk menetapkan tanggal tunggal Paskah. Sebagaimana dikutip The Telegraph, Welby menyarankan Paskah diperingati pada hari Minggu kedua atau ketiga bulan April kalender Gregorian. +++ cnc/web

 

Benarkah Ada Bintang yang Mengiringi Kelahiran Yesus?

Segala usaha dilakukan untuk mencari tahu keberadaan “bintang” yang mengiringi kelahiran Yesus ini.

citra-news.com – SALAH satu ayat dalam Injil Matius menceritakan orang-orang majus yang bertandang ke Yerusalem guna mencari tahu kelahiran Yesus. Kabar itu membuat Peter Barthel amat penasaran. Injil Matius (2:1) menyebutkan, sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Raja Herod, datanglah orang-orang majus dari timur ke Yerusalem.

Sesampainya di sana, mereka bertanya-tanya kepada Herod. “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia,” sebut Injil Matius (2:2).

Raja Herod dan seluruh Yerusalem merasa terganggu. Melalui penasihatnya, Herod tahu bahwa raja yang bikin penasaran orang-orang majus itu pasti lahir di Betlehem. Ia pun mengarahkan mereka untuk pergi ke sana.

Dalam perjalanan, orang-orang majus menemukan, sebagaimana diceritakan Injil Matius (2:9), bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka dan berhenti di atas tempat Yesus berada. Pada berbagai tradisi, “bintang-Nya di Timur” yang menyertai kelahiran Yesus itu jamak disebut sebagai bintang Betlehem atau bintang timur.

Tiga Majus, Tiga Orang Bijak, dan Tiga Raja

Dalam sebuah artikel berjudul “What, If Anything” yang dimuat dalam The Star of Bethlehem and the Magi (2015), Barthel menilai bintang Betlehem adalah salah satu kisah benda langit yang indah dan memukau. Keterpukauan yang sama memantik para seniman untuk mengabadikannya. Salah satunya tertuang dalam lukisan “The Adoration of the Magi” yang dibuat Leonardo da Vinci dan Domenico Ghirlandaio pada abad ke-15.

Tiga orang majus itu juga kerap disebut “Tiga Orang Bijak” yang berakar dari kata dalam bahasa Yunani “magoi”. Sedangkan dua penulis Romawi, Tertullian (160-230 M) dan Origen (185-254 M), menyebut mereka “Tiga Raja”.

Alison Barnes dalam artikel di History Today (Desember 2007) berjudul English Legends of the Three Kings menjelaskan, nama tiga raja itu muncul pada abad ke-6 dalam manuskrip Yunani Excerpta Latina Barbari. Ketiganya bernama Caspar, Balthasar, dan Melchior.

Kisah ketiganya menjadi populer dalam cerita rakyat Inggris. Melchior merupakan Raja Arabia yang mempersembahkan emas. Balthasar memiliki jenggot dan merupakan Raja Etiopia yang mempersembahkan kemenyan. Caspar merupakan Raja Tarsus yang mempersembahkan dupa.

Suatu kali, Barthel, seorang profesor astrofisika di Kapteyn Institute of the University of Groningen, bertanya kepada seorang teolog mengenai kisah tiga orang majus dan keberadaan bintang tersebut. Beberapa teolog yang dijumpainya menjawab, “Itu hanya sebuah cerita yang dikarang evangelis.” Sementara teolog lainnya berkata, “Bintang itu bukan urusanmu, astronom!”

 Bintang Betlehem yang Penuh Teka-teki

Hasil penelitian gurubesar astronomi dan astrofisika Louisiana State University Bradley E. Schaefer yang berjudul “An Astronomical and Historical Evaluation of Molnar’s Solution” menjelaskan, setidaknya ada sejumlah tipe pernyataan orang-orang ketika ditanya mengenai bintang Betlehem.

Pertama, mereka yang menjawab bintang Betlehem adalah dongeng semata yang secara faktual tidak eksis. Kedua, mereka yang mengklaim bahwa kata-kata Matius tersebut menggambarkan keajaiban, yakni sesuatu yang melampaui hukum fisika.

Meski berbeda, kedua jawaban berdampak pada berhentinya usaha pencarian terhadap bintang Betlehem. Jika yang pertama berhenti mencari karena mereka percaya bintang Betlehem tidak ada, yang kedua berhenti karena ia adalah mukjizat.

Selain itu, Schaefer juga mencatat jawaban ketiga, yang muncul dari orang-orang yang bergelut dengan dunia astronomi, sejarah, dan budaya. Bagi mereka, menurut Schaefer, bintang Betlehem menjadi misteri tersendiri yang perlu dipecahkan.

Ditinjau dari segi astronomi, David A. Weintraub, dalam artikelnya di The Conversation, “Can Astronomy Explain the Biblical Star of Bethlehem?”, membeberkan keanehan dalam kesaksian penasihat Herod mengenai bintang Betlehem.

Menurut Weintraub, “Bagaimana mungkin penasihat Raja Herod sendiri tidak mengetahui bintang yang begitu terang dan jelas sehingga bisa membawa orang-orang majus ke Yerusalem?”

Selain itu, bintang Betlehem merupakan bintang di timur. Namun orang-orang majus itu, berdasarkan arahan Herod, justru pergi ke Betlehem yang letaknya di sisi selatan Yerusalem. Entah bagaimana pula bintang Betlehem “berjalan di depan mereka” sampai di tempat bayi Yesus berada.

“Seseorang dapat mengklaim bahwa kata-kata Matius menggambarkan sebuah keajaiban, sesuatu yang melampaui hukum fisika. Tapi Matius memilih kata-katanya dengan hati-hati dan menulis ‘bintang-Nya di timur’ dua kali, yang menunjukkan bahwa kata-kata ini sangat penting bagi pembacanya,” sebut Weintraub.

Bagi Weintraub, jawaban atas keberadaan bintang Betlehem juga mesti bisa menjelaskan berbagai keanehan tersebut.

Astronomi dan Bintang Betlehem

Menjelang Natal 1603, melalui observatoriumnya di Praha, astronom Johannes Kepler mengamati terjadinya konjungsi planet Jupiter dan Saturnus. Konjungsi merupakan istilah astronomi untuk peristiwa dua atau lebih benda langit yang tampak sejajar di langit.

Bagi Kepler, konjungsi Jupiter dan Saturnus itu spesial karena terjadi di bagian langit di mana rasi Pisces muncul. Menurut kepercayaan orang Yahudi, peristiwa tersebut merupakan penanda datangnya Sang Juru Selamat.

Kepler yakin peristiwa serupa terjadi pada masa lampau. Berdasar perhitungannya, pada 7 SM terjadi konjungsi planet Jupiter dan Saturnus di langit bagian rasi Pisces muncul. Kemudian, pada 6 SM, konjungsi juga terjadi lagi di bagian langit yang sama dan kali ini antara Mars, Jupiter, dan Saturnus.

Setahun kemudian, 17 Oktober 1604, Kepler mengamati penampakan sebuah supernova (ledakan bintang) yang cukup terang sehingga bisa diamati sepanjang malam dan bahkan terlihat keesokan paginya. Kepler pun terus mengamati fenomena itu hingga supernova tersebut redup sekitar satu tahun kemudian.

Kepler yakin konjungsi planetlah yang menyebabkan supernova. Ia menduga muncul supernova setelah konjungsi planet pada 7 dan 6 SM yang diamatinya itu. Dan bintang Betlehem yang menyertai kelahiran Yesus, dalam keyakinan Kepler, merupakan sebuah supernova.

Sayangnya keyakinan Kepler itu mesti pupus. Para astronom modern kemudian mengerti bahwa posisi planet dan supernova yang jauh itu tidak saling berkaitan dan bahkan tidak saling memengaruhi. Jadi anggapan Kepler salah.

Selain itu, ada yang mengklaim, berdasarkan naskah-naskah Cina kuno yang mencatat fenomena benda langit, telah terjadi supernova pada 5 SM dan 4 SM. Namun klaim ini terbantahkan karena yang dimaksud bukan supernova, melainkan hui-hsing (bintang sapu) dan po-hsing (bintang kabur).

Meski secara harfiah diartikan “bintang”, namun ia lebih tepat disebut komet. Dalam berbagai tradisi, komet, meteor, dan gerhana merupakan benda-benda langit yang dianggap sebagai pertanda buruk dan karenanya tidak pas menjadi kandidat bintang Betlehem yang dianggap penanda suka cita kelahiran Sang Juru Selamat.

 Lihatlah ke Langit

Usaha pencarian terhadap keberadaan bintang Betlehem pun dilakukan dengan astrologi. Namun, sebelum beranjak ke ranah tersebut, Weintraub menjelaskan, dalam pengamatan benda langit, penting untuk membedakan antara bintang dan planet.

Cara membedakannya sederhana. “Di langit, bintang tetap berada di tempat mereka. Ia hanya terbit dan terbenam setiap malam, tetapi tidak bergerak secara relatif satu sama lain. Itu berbeda dengan planet-planet yang bergerak (relatif terhadap satu sama lain), seolah mengembara melalui bintang-bintang yang tetap itu,” sebut Weintraub.

Selain itu, baik planet, matahari, dan bulan bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Hal itu menyebabkan pergerakan mereka di langit tampak saling mendahului dan tumpang tindih.

Konsekuensinya, kadang-kadang matahari dan planet terbit di lokasi horizon yang sama sehingga planet tampak lenyap karena terhalangi cahaya matahari. Dan, ada kalanya juga ketika keduanya terbit cukup berjauhan sehingga memungkinkan mata manusia melihat cahaya dari planet tersebut. Dalam astrologi, peristiwa planet muncul kembali untuk pertama kalinya dan muncul di langit pagi beberapa saat sebelum matahari terbit setelah terhalangi cahaya matahari selama berbulan-bulan disebut “heliacal”.

Dengan menelaah studi yang dilakukan astronom Rutgers University Michael R. Molnar, The Star of Bethlehem: the Legacy of the Magi (1999), Weintraub menjelaskan kata “di timur” yang dimaksud dalam Injil Matius merupakan terjemahan harfiah dari frasa “en te anatole” dalam bahasa Yunani.

Frasa tersebut merupakan istilah astrologi Yunani Kuno untuk menyebut peristiwa heliacal.

“Secara khusus, kemunculan kembali planet seperti Jupiter dianggap astrolog Yunani Kuno sebagai simbol penting bagi siapa saja yang lahir pada hari itu. Dengan demikian, “bintang-Nya di timur” mengacu pada peristiwa astronomi dengan makna astrologi dalam konteks astrologi Yunani kuno,” sebut Weintraub.

Selain kata “di timur”, Weintraub juga menjelaskan bahwa kata “berhenti di atas” yang terdapat dalam kalimat “bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat dimana Yesus berada” juga mesti dipahami dalam konteks astrologi Yunani Kuno.

Menurut Weintraub, kata “berhenti di atas” merupakan terjemahan dari kata “epano” dalam bahasa Yunani. Dalam astrologi Yunani Kuno, istilah tersebut digunakan merujuk peristiwa sebuah planet berhenti bergerak dan mengubah arah: yang semula bergerak ke arah barat menjadi ke arah timur.

“(Secara astronomis) hal ini terjadi ketika Bumi yang mengorbit matahari lebih cepat dari Mars, Jupiter, atau Saturnus sehingga ia mendahului planet tersebut,” sebut Weintraub.

Weintraub mencatat, pada 17 April 6 SM, terjadi heliacal Jupiter pada pagi hari dan berlangsung hingga 19 Desember 6 SM ketika planet itu berhenti bergerak ke barat. Ia diam sebentar, dan mulai bergerak ke timur.

Menurut Weintraub, Molnar percaya tiga orang majus adalah para astrolog. Mereka juga tahu nubuat Perjanjian Lama yang menyatakan seorang raja baru akan lahir dari keluarga Daud. Jika tiga orang majusnya Matius benar-benar melakukan perjalanan untuk mencari raja yang baru lahir, bintang Betlehem itu tidak membimbing mereka, ia hanya memberi petunjuk waktu yang tepat untuk berangkat.

“Matius menulis itu untuk meyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah Sang Juru Selamat. Dengan menyematkan petunjuk astrologis dalam Injilnya, dia percaya kisah bintang Betlehem akan menjadi bukti yang meyakinkan para pembacanya,” sebut Weintraub. +++ cnc/web

 

Penulis : Husein Abdulsalam

Edditor : marthen radja/cnc

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *