ANEH, Banyak Masalah Pemerintahan JOKOWI Justru Bangga

Fahri Hamzah menuliskan kritikan tajam untuk pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Wakil Ketua DPR RI itu menyatakan pemerintahan saat ini bangga dengan banyak permasalahan yang dihadapi rakyat ditanah air. “Pemerintahan  justeru bangga banyak masalah makin sukses. Aneh!”

 

Jakarta, citra-news.com – MELALUI akun Twitter @Fahrihamzah pada Rabu 16 Mei 2018, Fahri menulis dan mengawali kritikannya dengan membahas soal dana APBN. Kemudian, Fahri menyebut bahwa UU 1945 adalah konstitusi terbaik.

Fahri mencontohkan beberapa Undang-undang yang dibuat dengan kemarahan yang mengandung proteksi besar, lantaran hal itu uang APBN terserap banyak dengan hasil yang tidak ada.

Berikut cuitan Fahri Hamzah selengkapnya seperti dikutip Woro Seto dari TribunWow.com : “Pemerintahan yang setiap hari meminta kewenangan tambahan dan uang APBN tambahan adalah pemerintahan gagal. Lawan

Konstitusi negara UUD 1945 adalah pagar dan payung warga negara bagi perlindungan HAM dan menjaga agar pemerintah tidak melampaui batas. Dan ini adalah salah satu konstitusi terbaik di dunia. Yang ingin menjadi otoriter Gak cocok pakai Konstitusi ini. Lupakan!

Semua UU yang dibuat pasca amandemen ke-4 UUD45 adalah UU yang mengandung proteksi HAM. Ada yg dibuat sebelum itu yang mengandung kemarahan di dalamnya seperti UU KPK No.30/2002. Karena itu lihatlah hasil-nya. Kewenangan besar, uang APBN besar hasil nihil. BOHONG!

UU yang dibangun setelah dipompa kemarahan biasanya begini: marah dengan kejadian dan dramanya, lalu minta kewenangan besar yang punya konsekwensi uang besar. Inilah yang sedang kita alami persis menjelang 2002. Marah akan korupsi lagi UU aneh. Parah!

Bahayanya, setelah jadi UU dan aparatur negara beserta para stakeholders merasa bahwa mereka sudah mapan, mereka ingin terus minta kewenangan tambahan dan Uang APBN tambahan. Mereka juga mengumumkan dan menampakkan bahwa masalah tambah banyak. Aneh!

Dalam kasus korupsi kita menyaksikan pemerintahan yang justru bangga dan menganggap bahwa makin banyak masalah makin sukses pemerintahan. Padahal, korupsi itu penyakit dalam pemerintahan. Loh kok menganggap diri sukses karena masalah tambah banyak? Ajaib!

Lalu, dalam kasus terorisme juga demikian. Kegagalan menangani dan mendeteksi teroris malah menjadi dasar meminta uang dan kewenangan lebih besar bukannya mengevaluasi pejabat yang berwenang. Lalu kapan pejabat diminta pertanggungjawaban? Parah!

Coba bandingkan dengan cerita ini: Di sebuah pantai di Eropa, ikan hiu sering menyerang dan memangsa orang mandi di pantai. Banyak yg mengenaskan, kehilangan tangan atau kami. Sampai terbunuh oleh mamalia laut yg buas itu. Masyarakat marah sekali. Wajar!

Puncak kemarahannya, karena ada jenis ikan hiu tertentu yang kalau sudah menerkam mangsanya bisa hilang dan tidak ketemu sama sekali. Hiu putih itu membawanya ke dasar lautan yang dalam. Emosi publik teraduk dengan kemarahan yang semakin menjadi. Apa reaksi negara?

Seharusnya, kalau mengikuti kemarahan rakyat, negara mengerahkan angkatan perang dan menambah armada laut untuk memburu hiu sampai habis di laut. Mereka malah melarang membunuh hiu juga melarang memancing anak hiu. Apa yang dilakukan pada binatang buas itu?

Binatang atau manusia kalau diperangkap dalam sistem dia akan Tunduk pada sistem. Manusia membuat early WARNING system di pantai. Lalu dibuat jaring pengaman dan di pinggir pantai selama jam mandi ada pengawas yg jeli melacak sirip hiu jika mendekat. Memakai teknologi.

Sejak itu tak ada lagi kejadian. Jika ada hiu mendekat, sirine berbunyi. Jika ada jika ada hiu putih yg suka mengendap di dasar kaut dia kena jaring. Para petugas juga sigap dengan alat pemantau yang canggih. Dan tak ada lagi berita manusia dimakan hiu. Tuntas!

Korupsi dan terorisme adalah 2 penyakit manusia yang bisa dilanpaui dan diantisipasi dengan sistem. Kita bisa membuat PERILAKU korup dan teror itu semakin lama semakin tidak terdengar. Dan jawabanya bukan uang dan kekuasaan tetapi kecerdasan.

Jadi, pemerintahan yang hebat adalah yang setiap hari melahirkan kebijakan yang segar dan cerdas dan solutif bukan yang saban hari minta uang dan kuasa tambah banyak. Padahal masalah tambah banyak. Sekian,” tulis Fahri. +++ cnc/web

Gambar : Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI (doc.CNC/Tirto,id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *