SEKOLAH Swasta Juga ANAK KANDUNG di Republik Ini

Kornelis Usboko: Meskipun dengan kondisi sarana prasarana yang minim dan terbatas tapi output dari sekolah-sekolah swasta menciptakan anak-anak yang bermoral dan beriman yang baik. Pemerintah semestinya lebih adil dalam menerapkan system penerimaan peserta didik baru (PPDB) dan pemberian bantuan Sarpras  pendidikan.

Kupang, citra-news.com – MENYONGSONG Hari Ulang Tahun Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2018 yang ke-90 Badan Musyawarah Perguruan Sawsta Provinsi Nusa Tenggara Timur (BMPS NTT) menyelenggarakan Gebyar SMA/SMK Swasta se-NTT.

Hal itu dikatakan, WINSTON N. Rondo, S.Pt., Ketua Umum Badan Musyawarah Perguruan Sawsta Provinsi Nusa Tenggara Timur, di ruang Fraksi Demokrat Gedung DPRD Provinsi NTT, di Kupang, Rabu 17 Oktober 2018.

Menurut Anggota DPRD NTT ini, acara SMA/SMK Swasta se-NTT adalah acara perdana untuk membina kebersamaan dari semua sekolah swasta tingkat SMA/SMK yang tersebar di kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. BMPS NTT menyelenggarakan acara gebyar ini dalam kerangka usaha untuk mempromosikan spirit kebersamaan sekolah-sekolah swasta. “Yang pasti kami tetap kompak dan solid untuk memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan serta memajukan pendidikan di Provinsi NTT khususnya dan negara Indonesia pada umumnya. Karena kita ketahui bersama bahwa pada 100 tahun yang lalu pemegang pendidikan di tanah air ada di pihak swasta. Yang eksistensinya sampai dengan saat ini patut diperhitungkan,”ungkap Winston.

Untuk mengisi semangat Sumpah Pemuda BMPS NTT menyajikan berbagai acara. Diantaranya, sebut Winston,  Lomba pidato Bahasa Indonesia. Lomba ini penting  untuk melatih soal leadership, gagasan, dan artikulasi dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena Bahasa Indonesia menjadi salah satu butir Ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Berikut Lomba cerdas cermat dalam Bahasa Inggris. Dengan menggunakan bahasa Inggris yang mumpuni bagi generasi sekolah swasta dalam memasuki pasar global. Dan kami serius betul untuk membenahi pendidikan swasta dalam kesiapan memasuki era globalisasi, tandasnya.

Menjawab citra-news.com soal pembangunan, pengembangan, dan peningkatan sarana prasarana (Sarpras) terkesan ada perbedaan yang menyolok antara lembaga pendidikan swasta dan negeri, Winston membeberkan, sekolah-sekolah swasta belakangan ini mulai dilupakan pemerintah.

“Kami mengalami diskriminasi yang luar biasa. Dan ini tercermin dalam berbagai bentuk. Misalkan keberpihakan anggaran pemerintah lebih mengutamakan sekolah-sekolah negeri daripada sekolah swasta. Kebijakan-kebijakan khusus seperti PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) pada tahun ajaran (TA) 2017 dan TA 2018 juga lebih memprioritas  sekolah-sekolah negeri Sekolah-sekolah swasta dilupakan,”tegasnya.

Padahal dengan jumlah siswa yang cukup di sekolah swasta, kata Winston, merupakan urat nadi eksis tidaknya sekolah-sekolah swasta. Karena dari SPP bisa dipakai untuk bisa bayar gaji guru, bisa biayai kebutuhan operasional sekolah. Adanya sistem PPDB yang diterapkan pemerintah dimana mengambil alih semua siswa maka jumlah siswa di sekolah swasta semakin menurun. Padahal aturan pemerintah dimana ada sekolah siswa yang jumlah siswanya  hanya 20 atau 30 orang saja maka lembaga sekolah yang ada bisa terancam untuk ditutup.

“Ini yang menjadi Litani Perjuangan sekolah swasta di NTT hari ini. Karenanya kami berharap pemerintah untuk lebih adil, lebih terbuka, dan lebih komitit dalam melihat kami di sekolah-sekolah swasta. Kami juga anak Kandung di Republik ini,”ungkap Winston.

 

Pemerintah Memonopoli Aturan

Romo Kornelis Usboko, selaku Ketua Panitia Pelaksana Gebyar SMA/SMK Swasta se-NTT mengatakan, HUT Sumpah Pemuda ke-90 tanggal 28 Oktober 2018 adalah momentum untuk menggerakan sekolah-sekolah swasta SMA/SMK se-Provinsi NTT untuk melakukan beberapa kegiatan.

Salah satu kegiatan adalah Seminar Pendidikan yang berthemakan, Peran Sekolah Swasta Dalam Membangun Pendidikan di NTT. Seminar ini akan menghadirkan 300-an undangan. Dimana salah satu pembicara adalah Gubernur NTT, VIKTOR Bungtilu Laiskodat Pada acara gebyar ini juga akan dipamerkan keunggulan-keungulan yang dimiliki SMA/SMK Sawasta.

Berbicara soal sarana prasarana, kata Usboko, ada beberapa gedung sekolah swasta bagus-bagus tapi isinya hampir kosong. Iya, jumlah siswanya setiap tahun terus berkurang. Bukan saja sekolah swasta Katholik tapi sekolah swasta lainnya juga merana dalam hal jumlah siswa.

Ini lantaran sekolah-sekolah negeri dengan kelengkapan faslitas penunjang kebutuhan yang disiapkan pemerintah. Sementara sekolah swasta hanya atas upaya mandiri. Itu yang SULIT bagi kami di sekolah swasta. Apalagi dengan istilah ‘sekolah gratis’ atau ‘sekolah murah’ sehingga orang tua terbius untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah negeri, jelas Usboko.

“Ada ribuan siswa yang terdaftar di sekolah negeri. Tetapi hanya belasan orang saja yang daftar di sekolah-sekolah swasta. Saya sering melihat itu ketika awal tahun ajaran baru. Jadi ini semacam monopoli aturan yang dibuat pemerintah. Dengan jumlah ribuan siswa ini saya tidak tahu apakah dibina dengan baik atau tidak,”kritik Usboko.

Soal eksistensi sekolah swasta menurut Usboko, sesungguhnya sekolah swasta itu peletak dasar pendidikan dimana-mana di dunia ini. Kalau di Indonesia baru beberapa puluh tahun blakangan ini baru ada sekolah negeri.

Spirit apa yang mau disampaikan melalui acara Gebyar ini, tanya wartawan. Dari Kegiatan BMPS NTT ini, jelas Usboko, sesungguhnya mau menyuarakan kepada masyarakat agar jangan ragu dan bimbang serta merasa rugi menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah swasta. Karena di sekolah swasta punya tradisi dengan nilai-nilai displin yang sudah mengakar disana. “Guru-gurunya biar honor cuma 300 ribu sebulan tapi memiliki semangat dedikasi yang tinggi. Karena mereka memahami menjadi guru adalah sebuah panggilan yang harus dilaksanakan. Para guru di sekolah swasta berdidikasi total untuk anak-anak. Meskipun dengan kondisi sarana prasarana yang minim dan terbatas tapi menciptakan anak-anak yang bermoral dan beriman yang baik,”pungkasnya.  +++ cnc 1

Gambar : WINSTON N. Rondo, S.Pt, Ketua Umum Badan Musyawarah Perguruan Swasta Provinsi Nusa Tenggara Timur (BMPS NTT)

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *