MATHIAS Mengaku BANGGA Memakai KAIN Tenun NTT

Mathias: Himbauan Gubernur NTT, agar ASN wajib berpakaian sarung adat pada setiap pecan, adalah terobosan baru yang berdampak ganda (multiplier effect) bagi masyarakat. Terutama peningkatan ekonomi bagi ibu-ibu dan mama-mama yang keseharian hidupnya bergantung pada menenun. Juga menimbulkan rasa cinta terhadap budaya sendiri bagi generasi muda untuk terus dilestarikan.

Kupang, citra-news.com – KEPALA SMKN 1 KUPANG, Mathias M. Beeh, S.ST.Par, MM mengaku bangga dengan upaya taktis yang dilakukan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. Ini adalah terobosoan baru yang selama ini ditunggu-tunggu masyarakat NTT, katanya.   

Dengan adanya himbauan melalui Surat Edaran (SE) Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat tentang aturan bagi ASN memakai kain sarung tenun ikat NTT ini, hemat saya (Mathias) ini sesuatu yang ditunggu-tunggu masyarakat NTT. Karena sudah sejak dulu kala kita NTT dikenal dengan keberagaman pakaian adat dengan motif kain tenun yang sangat variatif nan unik. Namun kurang dipromosikan.

“Karena kurang promosi kita kalah bersaing dengan provinsi lain. Kita contohkan di Provinsi Bali mungkin mereka hanya satu jenis pakaian adat saja. Tapi mereka begitu menjunjung tinggi dan begitu banyak orang tertarik dengan pakaian adatnya. Kenapa kita Orang NTT dengan aneka pakaian adat dan ribuan motif begitu lamban mempromosikan hasil karya yang sudah membudaya ini,”ucap Mathis retoris.

Menurut dia, ‘Orang NTT’ harus bangkit mempromosikan budaya tenun ikat yang menjadi warisan nenek moyang. Kita wajib melestarikannya. ASN adalah orang terdepan yang memberi contoh bagi khalayak masyarakat untuk mencintai kain tenun milik sendiri. Yakni dengan cara mengenakan kain tenun ikat pada setiap pecan. Dan ini baru terjadi di era kepemimpinan Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi.

“Bagi saya kita patut mengapresiasi hal baik yang dibuat pak Gubernur Viktor. Dengan rutin mengenakan kain adat dalam setiap pecan memberikan manfaat ganda. Selain terus mempromosikan keberagaman jenis kain adat ke dunia luar, juga sekaligus mewarisinya ke generasi muda. Bahwa keberagaman atau kebhinekaan kita orang NTT terwujud melalui kain tenunan yang dihasilkan para ibu-ibu. Semakin banyak orang berminat untuk membeli kain tenunan NTT akan menambah penghasilan keluarga,”beber Mathias.

Adalah fakta, aku Mathias, pada apel pagi kepada rekan-rekan guru di SMKN 1 Kupang saya sampaikan efeknya yang paling dirasakan adalah para ibu atau mama-mama, di kampung-kampung yang selama ini hidup dengan menenun.

Bahwa Kerja menenun ini selama ini kita tidak pernah dapatkan dari orang yang berpendidikan tinggi. Hanya ada pada mereka yang tingkat pendidikannya pas-pasan di kampung. Dan ekonomi keluarga mereka sangat bergantung sekali dengan menenun. Tapi rata-rata hasil tenunan ini kebanyakan di-‘museum’kan saja. Atau disimpan sampai berbau apek. Karena hanya digunakan sekali-sekali saja pada acara-acara adat. Tidak ada yang membeli. Padahal hasil karya seni mereka ini bila dikenakan dan terus dipromosikan maka banyak yang berminat untuk membelinya.

Jadi dengan terobosan baru dari bapak Gubernur Viktor Laiskodat ini, lanjut Mathias,  memberikan manfaat berganda (multiplier effect) bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Terutama bagi mama-mama yang keseharian hidupnya bergantung pada menenun. Dan juga bagi henerasi muda ada rasa cinta budaya terhadap budaya sendiri dan patut untuk dilestariakan.

Mengapa di hari pertama setelah keluarnya Surat Edaran Gubernur NTT, saya langsung meresponnya. Saya langsung action. Karena saya mau mendorong para generasi bangsa di SMKN 1 Kupang ini untuk selalu mencintai budaya sendiri. Saya bangga dengan terus mengapresiasi melalui pakaian adat yang saya kenakan.  Ini juga sebagai wujud terima kasih saya dan kita sekalian akan seni dan budaya asli tenun NTT untuk terus dilestarikan.

“Mari kita semua berbudaya dengan pakaian adat masing-masing dan tunjukkan kepada dunia luar bahwa NTT adalah Flobamora yang kaya potensi dengan budaya tenun ikat,”himbau Mathias yang hari itu mengenakan pakaian adat Helong.

Sembari menambahkan, dalam setiap pecan mengenakan pakaian adat bisa bervariasi. Tidak harus ‘Orang Rote’ pake pakaian adat Rote. Atau orang Timor, Orang Ngada, Orang Manggarai, Orang Ende, Orang Sikka, Orang Sabu, Sumba, Flores Timur, Alor dan lain-lain etnik, harus ego mengenakan pakaian adatnya masing-masing. Akan tetapi kita Orang NTT kita Flobamora wajib menjunjung tinggi pakaian adat khas dari NTT.

“Iya bisa saja dalam satu pecan satu saat saya bisa pake pakaian adat Helong, dan di lain waktu saya bisa pake pakaian adat Rote, Timor, Sumba, Sabu, Ngada, Manggarai, Ende, Sikka, Flores Timur, Alor, dan lain-lain etnik yang ada di Provinsi NTT. Karena kita ini Flobamora, kita wajib mengenakan pakaian adat NTT yang bervariasi. Disini ada unsur pemersatu. Dimana dari  masyarakat heterogen ini tentunya berbangga. Bahwa ada orang yang juga memakai pakaian adat dari etnik lain,”beber Mathias.

Sebagai warga Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT yang berasal dari lintas budaya maka siapapun dia boleh mengenakan. Karena Kita Ini Flobamora. Tidak memandang dari daerah mana atau dari suku mana. Tetapi kita ini Flobamora, yang sudah tentu menjadi representasi dari keberagaman yang ada. Dari pakaian adat yang kita kenakan ini menjadi jembatan pemersatu heterogenitas adat dan budaya kita di Provinsi NTT.

Jadi jangan ragu atau bimbang  untuk terus mempromosikan budaya sendiri ke orang-orang luar. Ini adalah salah satu cara kita membangun negeri. Kita sama-sama turut membantu masyarakat dengan cara dari waktu ke waktu kita selalu mengenakan pakaian adat milik kita. Kalau bukan kita siapa lagi kalau bukan sekarang kapan lagi. Sekarang saatnya warisaan budaya tenun ikat NTT ini kita lestarikan, ungkap Mathias. +++ marthen/citra-news.com

Gambar : Mathias M. Beeh, S.ST.Par, MM ((kanan) berpose dalam pakaian adat Timor Helong di ruang kerjanya Gedung SMKN 1 Kupang di Kota Kupang-Timor Provinsi NTT,  Jumat 5 April 2019.

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *