Entah KEMANA Rimbanya LABA Bisnis Perkapalan PT FLOBAMOR

Semuel Rebo : PT Flobamor menjalankan koor bisnis perkapalan. Namun transaksi dari hasil penjualan tiket tidak tercatat secara baik. Sehingga disana sini terjadi banyak in efiensi. Menjadi salah satu agenda RUPS ini adalah mencabut cara kerja in efisiensi yang tidak transparan seperti ini.

Kupang, citra-news.com – ASISTEN Bidang Perkonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Setda Prov. NTT), Ir. SEMUEL Rebo, M.Si mengatakan, hal urgensi yang dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Flobamor adalah terkait dengan bidang usaha yang digelutinya selama ini.    

“Dalam RUPS ini hal urgen yang harus diselesaikan itu terutama berkaitan dengan  bidang usaha yang menjadi koor bisnis dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Flobamor. Yang selama ini kita lihat bahwa mereka (PT Flobamor) menjalankan bisnis perkapalan. Nah, aktivitas bisnis yang dijalankan ini terjadi banyak in efisiensi,”ungkap Rebo.

Perihal in efisiensi tersebut, Rebo kepada citra-news.com menjelaskan, salah satu contoh kecil dan menjadi rujukan akibat in efisiensi dimaksudkan adalah  dalam hal penjualan tiket. Bahwa manajemen yang ada saat ini mereka bertekad untuk mengelola system manajemen yang lebih transparan. Ada banyak perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan agar bisa menepis cara kerja in efisiensi yang ada.

Kita ambil contoh dalam hal penjualan tiket, sebut Rebo. Yang dulunya dilakukan secara manual ke depannya dirubah ke system pelayanan online. Ini akan lebih transparan. Sehingga semua hasil transaksi itu tercatat dan terevaluasi secara baik. Dan ke depannya kita optimis bahwa ada peningkatan usaha. Selain terjadinya peningkatan mutu pelayanan dan transparansi dalam mempertanggungjawabkan semua hasil transaksi bisnis yang dijalankan.

Itu artinya manajemen baru saat ini mereka mengedepankan pengelolaan manajemen terbuka, tegas dia. Dan dalam menerapkan sistem manajemen terbuka (transpran) ini perlu inovatif, kreatif, efektif, dan efisien. PT Flobamor juga harus bisa melirik sector-sektor baru dan mampu melakukan ekspansi pasar. Tidak saja dalam negeri tetapi ke luar negeri.

“Karena diketahui bersama PT Flobamora saat ini mengelola 3 unit kapal Fery atau kapal motor penyeberangan (KMP). Masing-masing KMP Ile Boleng, KMP Sirung, dan KMP Pulau Sabu. Nanti ebih jelas informasinya ditanyakan saja ke Direktur Operasi PT Flobamor,”pinta Rebo.

Tapi yang pasti, lanjut dia,  manajemen pengelolaan kapal milik Pemprov NTT oleh PT Flobamor ke depannya, diharapkan bisa lebih transparan. Dari Dewan Komisaris sampai Dewan Direksi mereka punya tekad yang sama untuk meraih target keuntungan Rp 4-5 miliar.

Selain itu upaya mereka melakukan ekspansi usaha dengan membaca peluang-peluang bisnis yang ada. Baik di sector kelautan dan perikanan, sector pertanian dan peternakan, serta bisnis sector lainnya yang sekiranya mampu menyumbang PAD.

Tahun 2019 Bisa Meraih Target 4-5 Miliar

Direktur Operasi PT Flobamor, Budhy Syahroni Karsidin mengatakan wilayah Provinsi NTT memiliki potensi kekayaan alam yang beragam. Hal ini memberi peluang bagi banyak investor domestic maupun asing melakukan usaha bisnis di wilayah NTT. Tidak dinyana kalau dari sejumlah investor ini berupaya merebut empati masyarakat (konsumen).

Bagi konsumen kata kuncinya ada pada pelayanan, ucap Budhy. Oleh karena itu kepuasan pelayanan yang perlu dikedepankan. Bagi kami sesungguhnya mudah membuat konsumen puas. Yakni me-manage perusahaan yang lebih professional. Dengan mengedepankan unsur ‘savety’ (aman). Baik aman manajemen internal maupun aman dalam pengelolaan prasarana yang dibutuhkan konsumen. Seperti prasarana 3 unit kapal Roro yang dikelola BUMD PT Flobamor, kata Budy dalam temu pers.

Dia menyebutkan 3 unit kapal Roro jenis Fery milik Pemprov NTT tersebut,  masing-masing KMP Ile Boleng, KMP Sirung, dan KMP Pulau Sabu. Sebagai perusahaan, bisnis yang dilakukan sudah tentu ada profit atau keuntungan. Akan tetapi konon kabarnya hasil keuntungan atau laba yang didapat dihabiskan untuk membiayai perbaikan kapal. Dan adalah pantas kalau selama ini kapal yang masuk docking pada galangan yang bukan empunya pembuat kapal. Iya praktis saja memakan biaya, ujarnya.

Menjawab ada tidaknya keuntungan atau laba bisnis perkapalan PT Flobamor, Budhy menegaskan, yang namanya bisnis itu perlu untung. “Ndak ada pebisnis yang mau rugi. Apalagi menjalankan bisnis perkapalan yang mengantarpulaukan orang dan barang. Tapi dimana pertanggungjawabannya. Coba tanya beberapa karyawan PT Flobamor yang ada sebelum kami ada di ini BUMD. Itu salah satunya, meski gaji mereka ndak dibayar  berbulan-bulan tapi terus bertahan sampai kami ada saat ini,”ucap Budhy sembari menunjuk seorang pria yang duduk di pojok ruangan digelarnya konperensi pers.

Dari data yang kami himpun, lanjut Budhy, PT Flobamor meraih untung Rp 14,1 miliar. Dan tahun 2018 menyabet di angka Rp 17 miliar. “Nah, menjadi pertanyaan kemana semua hasil keuntungan yang didapat ini. Lalu berapa banyak sumbangan dari PT Flobamor untuk PAD. Dari kelola satu unit kapal saja sudah dapat untung. Apalagi PT Flobamor mengelola 3 unit kapal. Bukankah keuntungan menjadi berlipat ganda? Iya kalau bertanya kemana larinya (rimba) dari hasil laba ini, jangan tanya kami dong,”tepis Budhy.

Sembari menambahkan, itu manajemen masa lalu. Dan kami dalam menatap masa depan PT Flobamor punya upaya-upaya untuk ‘bangkit’ lagi. Faktanya ‘jelang maut’ akhir tahun 2018, seperti diungkap pak Hadi (Dewan Komisaris), kata Budhy, kami mampu menyumbang PAD sebesar Rp 500 juta. Ini prestasi bukan?

Oleh karena itu tekad kami yang sudah panjang lebar dibahas dalam RUPS, kami harus harus BISA meraih target PAD Rp 4-5 miliar di tahun 2019 ini. Nah, dalam menggapai target ini maka efisiensi adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar lagi.

“Karena secara matematis dari 3 unit kapal Roro (angkut barang dan orang) ini mendapat subsidi Rp 14,3 miliar. Dari angka ini masa ndak bisa kasih PAD Rp 4-5 miliar. Kan lucu,”kritik Budhy.

Menjawab rute pelayaran 3 unit kapal Roro ini, tiga petinggi BUMD PT Flobamor baik Agustinus Zadriano (IAN) Bokotei (Dirut) juga Hadi A. Djawas (Dewan Komisaris) dan Budhy senada menjawab. Bahwa rute ’bisnis pelayaran’ vice versa (pergi pulang/PP) KMP Sirung meliputi Kupang-Ende-Kupang. Sementara KMP Ile Boleng dengan rute  Kupang – Naikliu – (Kabupaten Kupang) – Teluk Gurita (Atambua Kabupaten Belu). Dan KMP Pulau Sabu lebih panjang lintasannya. Meliputi Kalabahi (Kabupaten Alor) – Teluk Gurita – Ile Wake (Maluku Barat Daya/MBD). +++ marthen/citra-news.com

Gambar : Salam Komando ‘Go and Fight’ dalam pose bersama usai RUPS PT Flobamor. Dari kiri ke kanan (Kika): Direktur Operasi, Budhy Syahroni Karsidin; Komisaris Utama Samuel Haning, SH, MH; Ir. Semuel Rebo, M.Si (keempat dari kiri); Kepala Biro Perekonomian dan Kerjasama Setda Provinsi NTT DR. Drs. Jusuf Lery Rupidara, M.Si (kelima dari kiri); Agustinus Zadriano Bokotei (Dirut) dan Dewan Komisaris, Hadi A. Djawas di halaman Kantor PT Flobamor di bilangan Jl. Teratai Oepura Kota Kupang Provinsi NTT, Kamis 25 April 2019.

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *