OPTIMIS Raih Kursi PIMPINAN Dewan Tapi Ada MEKANISME

YOHANES Rumat, SE,  Anggota DPRD Provinsi NTT dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Foto diabadikan usai Pidato Perdana Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, Senin 10 September 2018 Doc.CNC/marthen radja

Pasca penetapan kursi DPR hasil Pemilu 2019 oleh KPU, masing-masing Parpol mulai menghitung secara matematis peluang-peluang untuk menempati kursi pimpinan. Siapa-siapa dan dari Parpol mana saja yang sekiranya bisa duduk sebagai ketua dan wakil. Bagaimana dengan kursi pimpinan di DPRD Provinsi NTT? Berikut sentilannya….

Citra-News.Com, KUPANG – PELANTIKAN 65 orang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (DPRD NTT) khususnya, akan segera digelar pada September 2019. Walau demikian tarik menarik soal jabatan Ketua dan atau Wakil Ketua DPRD mulai panas bergulir. Pimpinan Partai Politik (Parpol) mulai menggodok anggota DPRD NTT terpilih di Pemilu 17 April 2019.

Bila diurut-urutkan berdasarkan potensi suara yang dikumpulkan masing-masing anggota dewan terpilih dan layak menampuk di kursi pimpinan, maka di Provinsi NTT teridentifikasi ada 4 (empat) Parpol. Mereka-mereka itu masing-masing dari PDIP, Partai Golkar, Partai Nasdem, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Hasil Pantauan citra-news. com menyebutkan ada sejumlah nama potensial yang santer disebut-sebut. Nama-nama yang bakal menjadi nominasi pertimbangan ketua Parpol  itu masing-masing, dari PDIP diantaranya, EMILIA Julia Nomleni (Mantan Calon Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023), PATRIS Laliwolo, EMANUEL Kolfridus, dan NELSON Obed  Matara (yang juga mantan Wakil Ketua DPRD NTT namun diberhentikan karena ikut kontestasi di Pilkada Kabupaten Kupang sebagai Calon Bupati tapi gagal).

Berikut, INCHE Sayuna, Jonas Salean (Golkar); Chris Mboeik, Alexander Take Ofong dari Partai Nasdem (Nasional Demokrat); dan Johanes Rumat, Aloysius Ladi, Pdt Yunus dari PKB. Jika saja dikehendaki ‘orang baru’ dengan pertimbangan lain-lainnya tapi bisa duduk di kursi pimpinan DPRD NTT maka mengerucut pada figure Emi Nomleni, Inche Sayuna, Alex Ofong, dan John Rumat.

YUCUN Lepa (kiri), Ketua Fraksi PKB di DPRD Provinsi NTT. Foto diambil usai Sidang Paripurna, Jumat 21 Juni 2019. Doc. CNC/marthen radja.

“Dari PKB kami ada beberapa nama yang sedang digodok DPP. Iya saya salah satu nama yang masuk dalam nominasi itu. Tapi mekanismenya kita kembali ke partai dengan pertimbangan-pertimbangannya seperti apa kita tunggu saja,”kata Yohanes Rumat, SE.

Kepada wartawan di Gedung DPRD NTT, Kamis, 04 Juli 2019, pria yang akrab disapa JHON ini mengakui, untuk sampai pada tahapan menentukan siapa yang bisa duduk di kursi pimpinann dewan melalui proseur dan mekanisme yang diatur dalam AD/ART masing-masing Parpol.

“Kalau kami di PKB ada syarat-syarat prinsip yang harus dipenuhi. memang optimistis iya tapi ada mekanisme. Yang harus ditaati pertama mekanisme Parpol, kedua kepengurusan di Parpol dan ketiga…iya sebagai manusia yang beragama, iya kita bergantung pada keputusan Tuhan. Karena manusia hanya merencanakan tapi TUHAN yang menentukan kemana arah kehidupan anda (kita umat-NYA),” ungkap John –demikian ia akrab disapa.

Ketua DPC PKB Manggarai Timur 2014 hingga kini dan Wakil Ketua Dewan Tamfitz DPW PKB Provinsi NTT ini menyebutkan, ada beberapa nama yang sedang siap untuk mengikuti fit and proper test DPP PKB di Jakarta  pada tanggal 18-20 Juni 2019.

YOHANES Rumat (kedua dari kiri) pose bersama sejumlah wartawan di Gedung 2 DPRD Provinsi NTT, Kamis 04 Juli 2019. Doc. CNC/marthen radja.

“Iya kalau saya ditanya berapa yang layak, iya idealnya sebanyak-banyaknyalah. Hahaha….. Tapi kan tidak begitu. Ada pertimbangan, ada mekanisme dan aturan yang harus dipenuhi. Apalagi mau jadi pimpinan dewan siapa tidak optimis. Tapi kan ada mekanisme. Ketua punya perhitungan bahwa nanti si A, si B, si C dan seterusnya yang layak. Tanya ke ketua DPW PKB NTT (Yucun Lepa, red) yang lebih tahu. Iya boleh tiga boleh lima boleh tujuh, itu semua kewenangan Ketua untuk menentukan sesuai dengan mekanisme yang ada,”imbuh John dengan logat (dialek) kental Manggarai-nya itu.

Namun terus ditantang wartawan, John menyebutkan yang siap mengikuti fit and proper test  di Jakarta adalah,  saya sendiri (Yohanes Rumat, red), Aloysius Ladi, Pdt Yunus, dan beberapa lagi. “Nanti wartawan cari tahu sendiri di Parpol masing-masing. Atau pasnya di Ketua Parpol karena saya hanya mengatakan apa yang saya tahu”,

Menjawab ekseistensinya di DPW PKB Provinsi NTT, John menyatakan dirinya menjabat sebagai Wakil Ketua Tamfitz. Dengan modal ini, sambung dia, saya kira menjadi pertimbangan juga bagi panitia saat fit and proper test. Dewan Tamfitz itu adalah mengurus bagaimana maju mundurnya manajemen operasional partai.

YOHANES Rumat (ke-5 dari kiri) pose bersama Pengurs ASITA Provinsi NTT di Pelabuhan Tenau Kupang. Doc. CNC/john rumat-asitantt.

Mengendus kabar kalau PKB syarat dengan politik transaksional. Alias ada bayaran-bayaran uang (politik uang) untuk mendapatkan posisi  jabatan tertentu di politik? John dengan suara merendah menyatakan, seharusnya itu tidak ada.

“Iya kalau partai ini mau baik seharusnya itu tidak ada. Karena inikan berkaitan dengan jabatan public. Jadi kalau bisa upaya neko-neko itu dihilangkan. Itu jauh lebih bermartabat dan jauh lebih elegan. Dan masyarakat lebih simpatik.  Karena tidak boleh ada neko-neko  seperti begitu. Kalau sesuai aturan itu tidak boleh ada. Dan untuk hal ini tidak akan pernah ada, itu yang kita harapkan. Tidak akan pernah ada…tidak akan pernah ada,”tegasnya berulang.

Sembari mengatakan, tapi kalau sebagai manusia itu iya…saya tidak tahu lagi. Kalau sesuai aturan itu tidak boleh dan tidak ada. Semuanya harus clear and clean, ungkap Wakil Ketua DPD  Asosiasi Travel Agent (ASITA) Provinsi NTT itu ngakak. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *