JPU Tuntut 15 Tahun Penjara ‘Dikebiri’ HAKIM 7 Tahun Saja

Ketua Pengadilan Negeri TTS Provinsi NTT SoE, I WAYAN Yasa, SH, MH. Doc.CNC/Jor Tefa-Citra News.

Aneh, keputusan hakim yang meringankan terdakwa dalam kasus pembunuhan. Padahal sudah jelas-jelas terdakwa dengan sengaja menghilangkan nyawa manusia. Tindakan hakim model ini tentunya membangkitkan ‘libido’ kemarahan keluarga korban hingga melakukan aksi-aksi brutal saat persidangan.

Citra-News.Com, SOE – BATAS KESABARAN keluarga dari korban pembunuhan memuncak ketika mendengar putusan hakim yang menghukum terdakwa hanya 7 tahun penjara. Padahal Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut selama 15 tahun penjara. Fakta langka ini terjadi di Pengadilan Negeri (PN) SoE Kabupaten Timor Tengah Selatan.   

Berikut kronologis kejadiannya. Pada Rabu 23 Oktober 2019 PN SoE menggelar sidang kasus pembunuhan dengan terdakwa NARKIS. Lazimnya sidang-sidang pengadilan dengan kasus seperti ini keluarga korban berjubelan datang menyaksikan jalannya persidangan.

Tapi naasnya ketika hakim memutuskan si Narkis hanya 7 tahun penjara, keluarga korban marah dan melakukan aksi butal di ruang sidang. Pagar pembatas ruang sidang dirusakkan. Keluarga korban dan massa merangsek masuk menyerang hakim. Adalah aneh, kata salah satu kluarga korban, digit waktu yang dibuat hakim hampir setengah bagian dari tuntutan JPU yakni 15 tahun penjara, dikebiri hakim hanya 7 tahun penjara saja.

Persidangan yang awalnya berlangsung aman dan tertib berubah jadi ‘neraka’. Api kemarahan keluarga korban meletup-letup dan ‘menjilat’ seisi ruangan sidang. Upaya polisi untuk meredam amarah warga tidak jua untung. Karena massa sudah berhasil menguasai ruangan sidang. Lantaran takut menghadapi massa para hakim, jaksa dan pengacara harus lari tunggang langgang mencari pintu keselamatan.

Pagi hari sebelum gelar sidang, massa yang membaur bersama keluarga korban telah melakukan ‘jab-jab ringan’ (aksi, red) dengan membakar ban mobil di halaman PN SoE. Dengan kesigapan petugas Damkar (Pemadam Kebakaran) berhasil memadamkan api yang sempat menjilat paving blok dan melayukan tanaman hias sekitar halaman gedung itu.

Direngkuhpatahkan ‘Pasukan’ Herman Bessie

Saat dihelat sidang, keluarga korban dan beberapa massa diijinkan masuk oleh petugas. Ada yang duduk tapi ada banyak yang berdiri sambil menyendengkan telinga mendengar jalannya sidang. Tapi apa lacurnya ketika pembacaan putusan, massapun berteriak, bunuh dia! Sambil menggoyang-goyang pagar pembatas di ruangan sidang.

Karena takut dibunuh maka tiga orang hakim, jaksa, dan pengacara, juga terdakwa Narkis harus berebutan pintu untuk menyelamatkan diri dari amukan massa. Beruntung saja malang belum dapat diraih. Karena yang hadir di gedung PN SoE adalah anggota Polisi dari Polres TTS yang dipimpin langsung  Wakapolres, Kompol (Komisaris Polisi) HERMAN Bessie.

Dibawah komando sang Wakapolres TTS ini, aksi brutal tersebut direngkuhpatahkan oleh polisi. Keluarga korban dan beberapa massa yang tadinya ganas dielus polisi menjadi jinak kembali. Bahkan beberapa pelaku anarkis berhasil diamankan kepolisian.

Setelah suasana aman terkendali Ketua PN SoE, I WAYAN Yasa, SH, MH kepada wartawan menjelaskan, peristiwa-peristiwa serupa seringkali dialami di persidangan Pengadilan. Sehingga bagaimana upaya taktis kami di Pengadilan untuk bisa menyelamatkan diri dari bencana dan atau amukan massa.

“Tapi kejadian barusan tadi hanyalah setingan semata. Ini kegiatan SIMULASI saja. Simulasi untuk bagaimana dapat menyelamatkan diri dari bencana atau amukan massa. Yang menyerang atau menimpa pegawai di PN SoE,”jelas Wayan. +++ jofan/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *