Tahun 2021 UN Berubah POLA Pelaksanaannya

Drs. BENYAMIN Lola, M.Pd saat diwawancarai di Kantor Dinas P dan K Provinsi NTT, Kupang,Selasa 28 Januari 2019. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Nadiem Makarim : Bukan ingin menghilangkan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) melainkan dievaluasi kembali karena dianggap banyak berdampak negative.

Citra-News.Com, KUPANG – MENTERI PENDIDIKAN dan Kebudayaan Republik Indonesia, NADIEM Makarim dalam pertemuan bersama seluruh kepala dinas pendidikan se-Indonesia pada pertengahan Desember 2019 menyatakan, mulai tahun 2021 UN berubah system pelaksanaannya. Siswa di sekolah tidak lagi menghadapi UN sebagai syarat penentuan kelulusan. Sebagai gantinya siswa akan mengikuti Assesment Kompetensi Minimum dan Survey Karakter sebagai syarat kelulusan.

“Jadi bukan pelaksanaan UN dihapus tapi dirubah pola pelaksanaannya. Dan tahun 2020 ini tahun terakhir pola pelaksanaan UN seperti lazimnya. Nanti tahun 2021 penilaian UN dilakukan melalui Assesment Kompetensi Minimum dan Survey Karakter sebagai syarat kelulusan,”jelas Drs. BENYAMIN Lola, M.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang, Selasa 28 Januari 2020.

Benyamin menuturkan, Assement Kompetensi Minimum ini difokuskan pada 2 (dua) aspek yakni terkait dengan kemampuan literasi (bahasa) dan kemampuan numerasi (matematika). Kemampuan literasi bukan sekadar kemampuan membaca. Dan kemampuan numerasi bukan hanya kemampuan berhitung. Akan tetapi bagaimana menggunakan kemampuan untuk berinovasi dan berkreasi dalam menyelesaikan suatu masalah.

Itu berarti yang diukur disana, lanjut dia, adalah kemampuan berpikir tinggi. Jadi tidak sekadar mengukur kemampuan pengetahuan seperti mengetahui, memahami, atau menghafal. Tetapi lebih dari itu kemampuan menganalisis atau kemampuan mensintesakan dan kemampuan untuk memecahkan persoalan (problem solving).

Hal kedua terkait dengan Survey Karakter, kata Benyamin, dilakukan untuk mengetahui kompetensi atau perkembangan karakter anak (peserta didik) dalam satu proses pembelajaran. Kita ketahui bahwa dalam pendidikan kita, karakter itu sangat penting. Selama ini guru hanya mendidik dan mengajar dengan mengutamakan kemampuan kognitif saja. Sementara kemampuan Afeksi kita kurang memberikan porsi. Sekalipun ada tetapi di dalam tes untuk mendapatkan kompetensi dalam aspek afeksi ini masih sangat kurang.

Kepala SMKN 5 Kupang, Dra. SAFIRAH Cornelia Abineno mengawasi siswa menerapkan inovasi dan kreasi memperbaiki kendaraan ringan dan teknik mengelas, Kupang, Selasa 28 Januari 2019. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Nah di dalam survey karakter ini justru yang diukur karakter untuk sifat, sikap yang dibelajarkan yang kemudian bisa menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan itu akan menjadi krakter seseorang. Tentunya karakter positif itu yang diharapan menjadi milik dari peserta didik kita.

Model Penilaian Karakter Membutuhkan Instrumen

Menjawab Citra-News.Com bagaimana model penilaian survey karakter dimaksud, mantan Kadis Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT ini mengatakan, model penilaiannya dalam penerapan nantinya harus membutuhkan instrument yang spesifik untuk mengukur karakter peserta didik.

“Model penilaian karakter peserta didik ini membutuhkan instrument. Memang sampai saat ini kita belum punya petunjuk yang detail terkait dengan instrument dimaksud. Tapi yang jelas bahwa dia akan ada instrument yang dikembangkan untuk mengukur perkembangan karakter peserta didik kita,”tandasnya.

Benyamin mencontohkan, misalnya kita (guru, red) memberikan pelajaran tentang kejujuran. Semua orang bisa menghafal pengertian atau defenisi dari kejujuran itu secara verbal. Dari pengetahuan yang dia (peserta didik, red) peroleh secara kognitif dia bisa menjelaskan. Bahwa kejujuran adalah suatu sikap yang mengatakan apa adanya, tidak merekayasa sesuatu untuk dilihat baik padahal dibaliknya tidak baik.

“Tapi yang diukur dalam prakteknya dia seperti apa. Kalau jujur kita tanya semua orang pasti mengaku dia jujur. Tidak ada yang mengatakan bahwa dia penipu. Orang penipu sekalipun kalau ditanya pasti dia katakan dia jujur. Tetapi survey karakter akan membuktikan, apakah dalam prakteknya benar seperti yang dia katakan? Artinya secara factual yang dia miliki itu apa. Bukan yang dia ketahui. Yang dia miliki dan yang dia praktekkan itu apakah hal yang positif atau yang negative. Nah ini harus melalui sebuah survey tentang karakter anak,”tegasnya.

Lebih jauh dikatakan, karena instrumennya menyangkut sikap anak didik selain dia menjawab secara lisan (verbal) juga butuh pengamatan dari guru. Yang namanya survey itu bisa melalui wawancara. Tapi sepanjang itu dibutuhkan informasinya melalui wawancara (interview). Kalau karakter itu harus dinilai maka harus melalui pengamatan. Dari hasil pengamatan tercatat mengenai perilaku itulah yang menggambarkan tentang karakter.

“Demikian dua komponen utama dalam upaya untuk merubah pola UN dimaksudkan. Yakni merubah pola UN ke pola Assement Kompetensi Minumum dan Survey Karakter. Jadi UN tidak dihapuskan tetapi hanya dirubah polanya saja,”ucap Benyamin.

Lalu kapan kedua pola tersebut mulai diterapkan, tambah dia, penerapan dan proses penilaiannya dilakukan  di tengah periode belajar sesuai tingkatan pendidikan. Artinya kalau SD mulai diterapkan di kelas 4, untuk SMP di kelas 8, dan SMA/SMK di kelas 11. Jadi proses penilaiannya dalam rentang waktu 1-2 tahun periode pembelajaran.

”Kedua pola ini sengaja diterapkan di pertengahan periode pembelajaran. Dengan harapan masih ada  jedah waktu untuk perbaikan sebelum peserta didik memasuki masa Ujian Nasional (UN). Sehingga ada hal-hal yang masih dianggap kurang perlu ditambahkan dan hal-hal yang tidak perlu ditiadakan,”tuturnya. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *