dr. Marsiana : Mesin Insinerator TIDAK Mubasir

dr. MARSIANA Halek, saat diwawancarai di Rumah Sakit S.K Lerik Kota Kupang. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Untuk bisa mengoperasikan mesin Insinerator tidak mudah. Jika saja gampang urusannya maka limbah medis yang dihasilkan oleh institusi kesehatan yang ada, tidak harus diangkut keluar, bukan?

Citra-News.Com, KUPANG – HAMPIR semua Rumah Sakit di Kota Kupang khususnya, sudah memiliki mesin pengolah limbah medis (Insinerator). Sayangnya mesin Insinerator ini tidak bisa  beroperasi karena belum mengantongi ijin operasional dari Kementerian Lingkungan Hidup RI. Lantaran belum mengantongi ijin operasional tersebut maka terkesan mubasir.

Kabar tak sedap mengenai mubasirnya mesin Insenerator di Rumah Sakit S.K Lerik Kota Kupang, membangkitkan amarah dr. Marsiana Halek. Sang Direktur Rumah Sakit Kota Kupang ini menyatakan, mesin Insinerator yang dimiliki Rumah Sakit Kota Kupang, tidak mubasir.

“Mesin Insinerator yang ada di Rumah Sakit S.K Lerik Kota Kupang ini tidak mubasir. Mesin Insenerator yang ada belum beroperasi selayaknya karena kami masih menunggu ijin operasional dari Kementerian Lingkungan Hidup RI. Jadi bukan mubasir,”tegas Marsiana saat diwawancarai awak Citra-News.Com di Kupang, Timor Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis 12 Maret 2020.

Dia menjelaskan, pengadaan mesin Insinerator yang dimiliki Rumah Sakit Kota Kupang Provinsi NTT, baru terjadi di tahun 2019 lalu. Proses perijinan AMDAL (analisa mengenai dampak lingkungan) sedang berproses. Sehingga praktis mesin Insinerator belum bisa beroperasi.

“Kami sedang menunggu ijin operasional yang saat ini sedang berproses di kementerian LH RI. Untuk mengatasi limbah medis yang ada di Rumah Sakit ini atas himbauan Gubernur NTT agar diangkut ke PT Semen Kupang. Karena hanya PT Semen Kupang yang telah memiliki ijin operasional mesin Insinerator,”tuturnya.

dr. MARSIANA Halek pose bersama Walikota Kupang, JEFRI Riwu Kore dan Ny Helda Manafe  di Rumah Sakit S.K Lerik Kota Kupang. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Menjawab kapasitas mesin Insinerator yang dimiliki RS SK Lerik Kota Kupang, Marsiana mengatakan, bobot atau kapasitas olahan limbah medis sebesar 3 kubik. Setiap rumah sakit yang memiliki mesin Insinerator punya kapasitas sendiri-sendiri. Kalau pemerintah Provinsi NTT juga miliki mesin Insinerator malah semakin baik,tandasnya.

Sembari menambahkan, untuk di Kota Kupang khususnya hampir semua rumah sakit, puskesmas, klinik, dokter praktek swasta pasti ada limbah medis. Sehingga semakin banyak pihak yang memiliki mesin insinerator malah semakin bagus. Hasil limbah medis harus bisa tertampung secara baik karena sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan hidup.

Dengan kapasitas mesin insinerator yang kami miliki cukup besar, lanjut dia, sesungguhnya masih dibawah standar. Karena secara matematis olahan limbah cair yang ada dari rumah sakit ini baru sebesar 25 kilogram perhari. Sementara kapasitas tampung mesin 3 kubik.

“Tidak setiap hari diangkut oleh PT Semen Kupang. Kami kumpulkan setiap hari kemudian kita packing hingga dalam jumlah tertentu baru PT Semen Kupang datang angkut. Kan dia yang punya mesin pembakar atau pengolah limbah medis (mesin Insinerator),”tegasnya.

Ketergantungan tinggi pada mesin insinerartor yang dimiliki PT Semen Kupang ini membuat pihak Rumah Sakit SK Lerik Kota Kupang berharap segera dikeluarkannya ijin operasional. Apalagi konon mesin insinerator yang dimiliki PT Semen Kupang juga akan berakhir pada Mei 2020. Maka harapannya sebelum berakhir, iya kita sudah kantongi ijin operasional.

“Iya mudah-mudahan sebelum masa berakhirnya kontrakan itu, kita punya mesin insinerator ini bisa segera terbit ijin operasionalnya. Sehingga kita bisa olah sendiri. Atau kalau ada diskresi dari pihak Kementerian Lingkungan Hidup, nanti kita lihat hasinya seperti apa. Tapi yang pasti bahwa mesin insinerator yang kami miliki tengah menunggu ijin operasional,”tegasnya.

Limbah Medis Datangkan Rupiah Untuk PAD

Sebelumnya, Kepala Badan pendapatan dan Asset Provinsi NTT, Dr. Drs. ZET Sonny Libing, M.Si mengatakan, pengadaan mesin Insinerator mutlak diperlukan. Pasalnya selama ini limbah medis (B3) yang dihasilkan dari rumah sakit, puskesmas dan klinik diangkut keluar atau diantarpulaukan.

“Perlu kita ketahui hasil olahan limbah medis dapat menambah PAD. Selama ini bisa saja pihak rumah sakit yang tidak miliki mesin insinerator, maka limbah medis yang dihasilkan hampir pasti dibawa keluar daerah. Padahal kalau diperjual belikan hasil olahan limbah medis ini, cukup besar untuk menambah PAD kita,”terang Sonny.

Dr. Drs. ZET Sonny Libing, M.Si dan dr. MARSIANA Halek. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Salah satu upaya yang ditempuh Pemprov NTT untuk menambah PAD, lanjut Sonny, adalah pengadaan mesin insinerator.  Mulai tahun 2020 pengadaan satu unit mesin insinerator dan akan ditempatkan di wilayah Manulai 1 Kota Kupang. Dalam mana mesin insinerator ini dikelola oleh UPTD Pengolahan Sampah Limbah B3.

Menurut Sonny, pengadaannya sedang dalam proses tender dan tahun 2020 harus sudah beroperasi. Mesijn ini secara khusus mengolah limbah medis (B3) yang dihasilkan oleh semua rumah sakit pemerintah di daratan Timor barat khususnya. Nanti ke depan akan ada pengadaan dua unit mesin untuk wilayah Flores dan ditempatkan di Flores bagian Barat dan satu unit untuk Flores bagian tengah.

Sementara tahun 2021 pengadaannya untuk wilayah daratan Sumba yang rencananya ditempatkan di wilayah Kabupaten Sumba Timur. Dan pada tahun yang sama juga rencananya satu unit ditempatkan di wilayah perbatasan dengan negara Timor Leste.

“Ini selain untuk kebutuhan rumah sakit di wilayah kabupaten Belu, Malaka, dan TTU juga  mengantisipasi limbah medis yang dihasilkan dari rumah-rumah sakit ayang ada di negara Timor Leste,”tandasnya. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *