Belajar DARING Disinyalir Menimbulkan Persoalan Baru

Kepala SMAN 6 Kota Kupang, Timor Provinsi NTT, JEMMY A. Baria (kanan) didampingi Wakasek Kurikulum MARSELINUS Tika (kiri). Doc.marthen radja/citra-news.com

Sistem pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) di era pandemi Covid-19 saat ini dinilai sangat tidak efektif. Secara kwalitatif selain materi pembelajaran tidak terserap secara baik oleh siswa. Juga akan memunculkan persoalan baru bagi guru mata pelajaran. Lalu apa strategi yang dilakukan sekolah?

Citra-News.Com, KUPANG – KEPALA SEKOLAH Menengah Atas Negeri 6 (Kasek SMAN 6) Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur  (NTT), JEMMY A. Baria mengakui pandemi Covid-19 berdampak buruk bagi pelaksanaan pendidikan di tanah air. Pasalnya, suasana pembelajaran yang lazimnya ada tatap muka siswa dengan guru, hal itu sudah tidak terjadi.

“Saat ini pemerintah pemerintah menerapkan pembelajaran dalam jaring (daring) yakni belajar dari rumah saja. Meski demikian ada beberapa persoalan baru yang muncul, diantaranya siswa mengabaikan pertemuan via belajar online itu. Hanya sekitar 30-40 persen saja siswa yang taat dengan model pembelajaran Daring,”ungkap JEMMY dan diamini Wakil Kasek MARSEL saat ditemui awak citra-news.com di SMAN 6 Kota Kupang, Timor-NTT, Senin 28 September 2020.

Kasek Jemmy mengatakan, penerapan model pembelajaran Daring sudah dilaksanakan semua tingkatan sekolah. Persisnya, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas bahkan perguruan tinggi (PT). Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan telah memberlakukan Daring sejak bulan Juli 2020 atau awal tahun ajaran baru 2020/2021.

“Saya kira sekolah pada tingkatan SMA/SMK se-Kota Kupang, kami di SMAN 6 Kota Kupang adalah sekolah pertama menerapkan model pembelajaran Daring. Ini kami lakukan mengingat kondisi riil pandemi Coivid-19 ini semua aktivitas dihentikan. Aktivitas belajar-mengajar di sekolah dimana antara harus ada interaksi antarsiswa dan guru, tidak bisa dilakukan gara-gara harus taat protokol Covid-19 (social distancing/jaga jarak). Dan juga aturan-aturan ikutan lainnya. Sehingga tidak mungkin sekolah melakukan tatap muka,”tegas Jemmy.

Guna menjaga stabilitas pendidikan dari kesenjangan yang ada, sambung dia, pihak Kemendikbud RI mengarahkan pihak sekolah  agar menggunakan model pembelajaran Daring. Dengan teknis operasionalnya sesuai petunjuk yang digariskan pemerintah.

“SMAN 6 Kota Kupang menerrapkan mnodel pembelajaran Daring dengan 2 (dua) strategi.  Yakni melalui Google Classroom untuk meng-upload tugas-tugas dari guru mata pelajaran. Serta n Google Meeting  atau belajar virtual (video conference,red),”beber Wakil Kasek Bidang Kurikulum Marselinus Tika atau akrab disapa Marsel.

Senada dengan Kasek Jemmy, Marsel juga mengakui secara kualitatif  model pembelajaran daring tidak efektif. Akan tetapi pandemi Covid-19 ini adalah bencana nasional maka aturana-turan yang diterapkan pemerintah wajib dii8kuti semua elemen masyarakat. Tidak terkecuali sekolah sebagai lembaga pendidikan yang adalah kumpulan para siswa.

Lebih jauh Marsel menjelaskan, untuk dua model pembelajaran daring tersebut diatas dilakukan sekolah melalui guru-guru mata pelajaran. Dan berlaku umum untuk semua tingkatan, mulai dari kelas X sampai kelas XII. Untuk Google Classroom  maupun Google Meeeting  dilaksanakan satu minggu dua kali pertemuan. Dengan mata pelajaran terjadwal seperti lazimnya Roster Harian di sekolah tatap muka.

Kasek JEMMY (kanan) dan Wakasek Kurikulum SMAN 6 Kupang, MARSEL (kiri). Doc.marthen radja/citra-news.com

“Model pembelajaran Daring sesungguhnya sama saja dengan tatap muka seperti lazimnya sekolah formal. Hanya saja tidak bisa berhadap-hadapan seperti pembelajaran di kelas saat normal. Dan media komunikasi yang digunakan adalah handphone anroid. Semua materi belajar termasuk tugas-tugas dari guru mata pelajaran disampaikan melalui telepon seluler,”ucap Marsel.

Evaluasi Harian Bersama

Menjawab kendala yang dihadapi sekolah, Kasek Jemmy sontak menjawab, yang menjadi kendala utama adalah Siswa. Ini menjadi masalah baru, tegas Jemmy,  yang ditimbulkan kala kita guru menerapkan pembelajaran Daring. Karena siswa meskipun mereka miliki HP anroid tapi mereka tidak mau ambil bagian dalam Daring. Ada juga mausuk group Daring tapi tugas-tugas dari guru mata pelajaran diabaikan begitu saja,” kata Jemmy.

Oleh karena itu sekolah punya strategi jitu, tambah Jemmy, yakni dengan memberlakukan Evaluasi Harian Bersama. Melalui cara ini kita bisa mengetahui mana siswa yang sungguh-sungguh mana sisa yang asal-asalan saja penuhi klewajibannya.

“Saya baru saja marah dengan salah satu orangtua siswa. Yang datang kesini marah-marah lalu tanya tugas dan lain-lain. Saya meladeninya dengan menjelaskan kondisinya. Bahwa hampir pasti anak bisa balik menipu orangtua kalau sekolah tidak kasih tugas dan pelajaran Daring. Iya orangtua dengan kesibukannya percaya-percaya saja. Nah dengan momentum Evaluasi Harian Bersama ini baru ketahuan kedok siswa yang main-main dengan belajar Daring,”kata Jemmy.

Marsel menambahkan, untuk Evaluasi Harian Bersama dijadwalkan mulai tanggal 28 September 2020. Syaratnya semua siswa harus sudah menyelesaikan semua tugas yang diberikan guru mata pelajaran Daring. Termasuk syarat administrasi lainnya.

“Pak wartawan lihat sendiri hari ini ada banyak siswa datang mengambil soal ujian. Tapi ada banyak yang datang itu beberapa diantaranya mereka tidak tahu tugas-tugas yang diberikan guru mata pelajaran melalui Daring. Ini memberi bukti kalau metode Daring  memang tidak efektif tapi paling tidak sekolah bisa mengetahui aktif tidaknya siswa,”tandasnya.

Marsel menambahkan, pada evaluasi semesteran nanti baru menjadi salah satu tolok ukur kualitas pelaksanaan pembelajaran selama satu semester. Kita berharap pada Desember 2020 suasana sudah kembali pulih dan pembelajaran di sekolah bisa terjadi lagi. Kerjasama semua pemangku kepentingan pendidikan, harap Marsel, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mencerdaskan anak bangsa. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *