SEMUA Pemangku Kepentingan HINDARI Kolaborasi CANGKANG

Illustrasi , Gubernur VIKTOR Bungtilu Laiskidat pada sebuah kesempatan. Doc. citra-news.com/istimewa

Gubernur Viktor : “Bencana Siklon Tropis Seroja bulan April tahun 2021 telah memberikan kita banyak pelajaran berharga. Kita mesti….”

Citra News.Com, KUPANG – GUBERNUR Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), VIKTOR Bungtilu Laiskodat meminta semua pemangku kepentingan yang terkait dengan penanganan bencana agar menghindari ‘kolaborasi cangkang’. Sinergitas harus nampak dalam output dan out come yang signifikan.

Demikin isi sambutan tertulis Gubernur Viktor pada Apel Siaga Cuaca Ekstrem di Lapangan Polda Kupang, Jumat 18 Pebruari 2022.

Sambutan Gubernur dibacakan lkeh Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Danlantamal) VII Kupang, Kolonel Laut (P) HERIBERTUS Yudho Warsono. Ia bertindak sebagai Komandan Upacara.

Apel yang dihadiri unsur TNI, Polri, Basarnas, Polisi Pamong Praja Provinsi NTT, tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT. Bertujuan untuk membangun kewaspadaan dan kesiapsiagaan bersama untuk menghadapi keadaan darurat akibat cuaca ekstrem.

Juga untuk memastikan ketersediaan dan kesiapan berbagai peralatan penangulangan bencana; meningkatkan koordinasi, kolaborasi serta memastikan peran setiap stake holder dalam penanggulangan bencana cuaca ekstrem.

Apel ini juga dimaksudkan untuk memastikan aktifnya Pos Komando Siaga Cuaca Ekstrem di setiap unit yang disatukan dalam Pos Komando Tanggap Darurat tingkat Provinsi NTT.

“Kita hendaknya tidak terjebak di dalam kolaborasi yang saya sebut sebagai kolaborasi cangkang. Yang saya maksudkan kolaborasi cangkang adalah kolaborasi semu. Piihak-pihak yang terlibat dibatasi oleh ego sektor yang menjadi cangkang pembatas kolaborasi. Nampak sama-sama bekerja tetapi tidak bekerja sama. Pihak-pihak yang berkolaborasi tidak saling mengetahui apa yang diketahui dan dikerjakan oleh pihak lain,”ungkap gubernur dalam sambutnya.

Gubernur mengingatkan, Provinsi Nusa Tenggara Timur termasuk wilayah yang rawan bencana. Data menunjukkan sejak tahun 1982 sampai dengan 2021 telah terjadi 811 kejadian bencana di NTT.

Jika dipilah berdasarkan faktor penyebab, maka ada 16 persen atau sebanyak 131 kejadian bencana non alam. Dan 84 persen atau 680 kejadian bencana alam.

Sementara itu jika dilihat lebih jauh, terdapat 95 persen atau 643 bencana hidrometeorologis seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, kekeringan dan kebakaran. Sisanya 5 persen atau 37 kejadian bencana non hidrometeorologis. Seperti gempa bumi, erupsi gunung berapi dan tsunami

Lebih lanjut Gubernur Viktor menyatakan pada tahun 2021 telah terjadi 34 kejadian bencana yang terdiri dari angin kencang 4 kejadian, angin puting beliung 1 kejadian, banjir 7 kejadian, banjir bandang 2 kejadian, banjir dan longsor 5 kejadian, kebakaran rumah 2 kejadian, dan tanah longsor 13 kejadian. Akibatnya 2 korban jiwa meninggal, 65 rumah dan 2 fasilitas umum mengalami kerusakan serta kerugian material lainnya.

“Bencana Siklon Tropis Seroja bulan April tahun 2021 telah memberikan kita banyak pelajaran berharga. Kita mesti berbenah dan menguatkan kordinasi dan kolaborasi di dalam upaya penanggulangan bencana di NTT,” kata Gubernur Viktor.

Pada akhir sambutannya Gubernur Viktor meminta pemerintah Kabupaten/Kota di NTT agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan serta memantau informasi cuaca dari BMKG serta mengaktifkan posko siaga bencana.

Pemerintah kabupaten/kota juga harus mampu menetapkan titik evakuasi aman dan memastikan ketersediaan dukungan logistik dalam situasi darurat. Saya minta para bupati/walikota untuk menggerakan warga agar membersihkan pohon yang mudah patah dan rapuh di sekitar rumah, kantor dan dekat fasilitas umum. Termasuk juga menjaga kebersihan lingkungan.  +++ citra-news.com/biro AP setdantt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.