Di kota dingin Bajawa, tambah Liefen, kreativitas anak NTT menemukan rumahnya. AnTiK Fest bukan hanya festival, tetapi perjalanan menuju masa depan ekonomi kreatif yang lebih cerah.
Bahwa pada tanggal 21 hingga 22 November 2025, Bajawa menjadi titik kumpul energi positif anak muda, perempuan kreatif, pelaku UMKM, serta seluruh ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif.
Festival yang Menghidupkan Ekonomi
Dengan tema, Merajut Kreativitas, Menguatkan Ekonomi Lokal Flores, jelas Liefen, AnTiK Fest Series III 2025 mengusung konsep edutainment yang menggabungkan hiburan, pembelajaran, dan akses pasar bagi UMKM.
Tujuannya dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata pelaku ekonomi kreatif. Yaitu Pertama, Mempromosikan produk kreatif lokal dari Bajawa dan kabupaten sekitar. Kedua, Meningkatkan kapasitas pelaku ekraf lewat pelatihan dan pameran khusus; Ketiga, Membangun sinergisitas multipihak, baik pemerintah, komunitas, dunia usaha, hingga lembaga keuangan; Keempat, Menggenjot kunjungan wisatawan ke Bajawa dan Flores; Dan Kelima, Memperkuat identitas budaya lokal sebagai fondasi ekonomi kreatif berkelanjutan.
Di Bajawa yang dingin, kreativitas bukan sekadar kata kerja, tapi ia menjadi gerakan bersama. Rangkaian aktivitas penuh warna AnTiK Fest Series III 2025 ini menghadirkan berbagai kegiatan yang mengajak semua orang terlibat. Mulai dari pelajar, komunitas wanita, seniman muda hingga UMKM lokal.
“Dalam balutan kebersamaan nan penuh akrab para peserta dipertemukan dan berlenggangria di panggung AnTiK Fest Series III 2025. Dari kabut Bajawa akan melahirkan warna-warna kreatif yang siap menguatkan ekonomi lokal dan membanggakan Nusa Tenggara Timur”, tuturnya.
Mengutip release press dikirim pajabat yang nyaris berakhir kariernya di Kantor Gubernur NTT ini, bahwa materi yang diperlombakan adalah : Lomba Kreatifitas; Lomba Fashion Desain; Lomba Band; Lomba Tari Ja’i Kreasi; dan Lomba Memasak. Sementara pesertanya datang dari SMA/SMK dan Tim Penggerak PKK dari Ngada, Sikka, Nagekeo, Ende, hingga Manggarai Timur.












