Hubungannya dengan masyarakat adalah sebuah ruang tanpa sekat; ia bisa berada di gang-gang sempit, duduk bersila di dapur warga tanpa rasa canggung, meruntuhkan tembok-tembok feodalisme yang biasanya memisahkan pemimpin dan rakyatnya.
Kehadirannya yang bersahaja adalah antitesis dari kemewahan pejabat, sebuah bukti bahwa kepemimpinan yang paling otentik tidak ditemukan di balik meja kayu jati yang mengkilap, melainkan di tengah peluh warga yang mendambakan keadilan.
Kebijakan-kebijakannya adalah manifesto kemanusiaan yang konkret, di mana ia dengan berani memangkas kemewahan diri demi harkat hidup orang banyak. Lihatlah bagaimana ia merelakan anggaran perjalanan dinas dan mobil jabatan hanya untuk memastikan program bedah rumah layak huni bagi warga miskin terus berdenyut.
Baginya, kenyamanan tidur seorang Wali Kota tidak ada harganya jika dibandingkan dengan ketenangan seorang ibu yang tak lagi perlu menatap langit saat hujan turun karena atap rumahnya yang bocor.
Ini bukan sekadar kebijakan administratif, ini adalah pertaruhan nurani seorang pemimpin yang tahu betul bahwa rumah adalah benteng pertama pertahanan martabat manusia.
Di sektor kesehatan, dr. Christian Widodo melahirkan kebijakan “Pengaman Keselamatan Rakyat” dengan dana darurat miliaran rupiah di RSUD SK Lerik, sebuah oase bagi mereka yang terhimpit ketiadaan administrasi.












