Di kota ini, di bawah kepemimpinannya, sakit tak lagi berarti kiamat kecil bagi si miskin; karena ada jaminan bahwa nyawa harus diselamatkan terlebih dahulu sebelum bicara soal kartu identitas.
Pun dalam dunia pendidikan, ia bergerak melampaui kata-kata dengan menyediakan seragam dan beasiswa bagi anak-anak Kupang agar mata rantai kemiskinan bisa diputus oleh pena dan buku, bukan oleh keputusasaan yang diwariskan.
Pada akhirnya, Christian Widodo adalah narasi tentang bagaimana kekuasaan seharusnya bekerja: lincah dalam bertindak, tajam dalam berpikir, namun tetap lembut dalam merangkul.
Ia telah mengubah wajah Kupang menjadi kota yang lebih hangat, di mana pemerintahannya tidak lagi terasa seperti menara gading yang dingin, melainkan seperti rumah besar yang pintunya selalu terbuka.
Melalui kebijakan-kebijakan pro-rakyat yang ia tanam, dokter Christian sedang membangun sebuah monumen yang tidak terbuat dari beton atau marmer, melainkan dari rasa syukur dan harapan yang mekar di hati rakyatnya sebuah warisan kepemimpinan yang akan dikenang jauh melampaui waktu jabatannya. *)












