Selain itu, satu hal yang juga mendapat perhatian khusus dari wali kota adalah desain kantor lurah yang ramah bagi penyandang disabilitas. Akses masuk tanpa tangga memungkinkan pengguna kursi roda masuk dengan mudah, sesuatu yang menurutnya penting dalam membangun kota yang inklusif.
“Orang yang menggunakan kursi roda bisa langsung masuk tanpa harus naik tangga. Artinya kota ini inklusif, terbuka untuk semua,” ujarnya.
Rumah Rakyat
Di sisi lain, warga Airnona menyambut kehadiran kantor lurah baru itu dengan rasa bangga. Ketua LPM Kelurahan Airnona, Jami Riwu Hegi, menyebut gedung tersebut sebagai bukti nyata perhatian pemerintah terhadap masyarakat di tingkat kelurahan.

Menurutnya, kantor lurah seharusnya tidak hanya menjadi tempat kerja aparat, tetapi benar-benar menjadi ‘rumah rakyat’. “Gedung ini harus menjadi tempat aspirasi ditampung dan pelayanan masyarakat berjalan lebih baik,” katanya.
Ia juga menyambut baik rencana pemberian pagu anggaran pembangunan bagi setiap kelurahan, karena dinilai memberikan kepastian bagi program-program yang benar-benar dibutuhkan warga.
Di akhir acara, suasana kembali cair. Warga berbincang, beberapa berfoto di depan gedung baru, sementara anak-anak berlarian di halaman. Gedung itu mungkin hanya bangunan bagi sebagian orang.

Namun bagi warga Airnona, ia adalah simbol awal dari sesuatu yang lebih besar—pelayanan yang lebih dekat, ruang dialog yang lebih terbuka, dan harapan baru untuk lingkungan mereka.
Sebab di tempat itulah, seperti yang dikatakan wali kota, harapan warga mulai dirawat bersama. +++ marthen/*













