Tugas bersama antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat adalah memastikan bahwa setiap anak dengan mimpi besar memiliki jalan yang cukup terang untuk melangkah.
Citra News.Com, OELAMASI – SENJA di kebun jagung garapan Kelompok Tani Nonotasi mulai turun. Di sela hamparan jagung yang menguning di Amarasi Selatan Kabupaten Kupang, langkah Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena seolah tidak hanya berhenti pada agenda panen raya.
Gubernur Melky bergerak lebih jauh menuju sebuah alamat sederhana, tempat tumbuhnya mimpi besar seorang bocah Kelas V SD bernama Caesar Archangels Hendrik Meo Tnunay atau biasa disapa Nono.
Dari kebun Nonotasi ke rumah Nono, perjalanan ini menjadi simbol pergeseran fokus: dari hasil bumi menuju investasi masa depan bernama manusia. Nono bukan sekadar anak desa. Ia adalah representasi dari potensi yang sering tersembunyi di pelosok negeri.
Tiga kali Nono menjuarai Olimpiade Sempoa Dunia bukan hanya catatan prestasi, tetapi juga penanda bahwa batas geografis tidak lagi relevan dalam menentukan capaian intelektual. Dari Sonraen, Amarasi Selatan, Nono menembus panggung global membawa nama NTT ke ruang kompetisi dunia.
Bagi Gubernur Melky, kehadiran Nono adalah narasi tandingan atas pesimisme yang kerap melekat pada daerah. Ia membaca kisah ini bukan sebagai kebetulan, melainkan hasil dari ekosistem kecil yang bekerja: ketekunan seorang anak, disiplin belajar, serta dukungan keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama.
Dalam konteks ini, prestasi Nono bukan berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari nilai-nilai yang dijaga dalam rumah tangga. Pesan yang disampaikan Gubernur Melky kepada Nono, yang terdengar sederhana, namun sarat makna, “Terus belajar, jaga sikap, dan jangan berhenti bermimpi”.












