“Sejak dua tahun lalu kami telah membentuk Satgas Percepatan Free Trade Zone,” kata Bobby.
Langkah itu, menurut dia, merupakan bentuk komitmen Kadin untuk mengawal agenda FTZ agar tetap menjadi bagian dari kepentingan jangka panjang dunia usaha. Ia menekankan bahwa pemerintahan daerah dapat mengalami perubahan. Namun, kepentingan dunia usaha dan kebutuhan pembangunan ekonomi memiliki rentang waktu yang lebih panjang.
Karena itu, Kadin mendorong FTZ sebagai salah satu instrumen yang diharapkan dapat membawa NTT menuju apa yang disebutnya sebagai “lompatan kuantum ekonomi”. Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi NTT juga mulai menyiapkan kerangka kerja.
Pemerintah NTT disebut telah membentuk tim kerja dan melibatkan konsultan untuk mempersiapkan konsep FTZ, dengan target pada akhir 2026 sudah tersedia konsep mengenai arah dan bentuk kawasan yang akan diusung.
Dari FGD ini dimunculkan dari teman-teman Kadin Batam tentang pengalaman Batam di bidang bisnis perdagangan antarkawasn. Ini dapat memberikan gambaran mengenai persoalan yang mungkin muncul ketika kawasan perdagangan dan industri mulai berkembang, termasuk kebutuhan infrastruktur, tenaga kerja, investasi, regulasi dan keterhubungan pasar.
Kadin NTT sendiri telah membangun komunikasi dengan dunia usaha di Timor Leste dan Australia. Bobby mengatakan komunikasi tersebut dilakukan untuk mengetahui kebutuhan pasar sekaligus memetakan peluang kerja sama yang dapat dikembangkan.
Dengan Timor Leste, Kadin berkomunikasi melalui jaringan kamar dagang dan dunia usaha. Sementara dengan Australia, komunikasi antara lain dilakukan melalui Australian Indonesian Business Council (AIBC), khususnya dalam melihat peluang kerja sama dengan Darwin.
Menurut Bobby, peluang tersebut tidak berhenti pada perdagangan. Kerja sama dengan Darwin juga mencakup sejumlah bidang, antara lain pendidikan, pariwisata, perdagangan, olahraga dan kesehatan. Salah satu agenda yang terus didorong adalah konektivitas udara langsung Kupang-Dili dan Kupang-Darwin.
Bobby juga menyebut inisiatif Friendship City atau Sister City antara Kupang dan Darwin sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan antarkota sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih luas.













