Bagi Bobby, FTZ juga harus memberikan ruang bagi industri lokal. Kehadiran investor dan industri besar diharapkan menciptakan rantai pasok yang dapat melibatkan UMKM NTT. Dengan demikian, UMKM tidak hanya menjadi penonton, tetapi memiliki peluang menjadi pemasok barang dan jasa bagi industri yang tumbuh di kawasan tersebut.
Aspek tenaga kerja juga menjadi bagian penting. Dari pengalaman Batam, tambah Bobby, menunjukkan bahwa pertumbuhan kawasan industri dalam jangka panjang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Kondisi itu menjadi pelajaran bagi NTT untuk mulai menyiapkan sumber daya manusia sejak sekarang. Dengan perspektif tersebut, pembicaraan mengenai FTZ tidak hanya berbicara tentang kawasan, investasi atau perdagangan lintas negara.
Ada pertanyaan mendasar, siapa yang mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut?
Bobby melihat salah satu jawabannya berada pada keterlibatan tenaga kerja lokal dan UMKM. Semakin banyak industri yang masuk, semakin besar pula kebutuhan terhadap pemasok lokal dan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
Karena itu, konsep FTZ yang sedang didorong Kadin NTT diarahkan untuk tidak berhenti pada pasar Timor Leste yang relatif terbatas. Orientasinya lebih luas yakni menjadikan NTT sebagai salah satu pintu dari Indonesia menuju pasar internasional.
“From NTT to the world menjadi gambaran sebuah visi yang masih membutuhkan rangkaian kebijakan, kesiapan infrastruktur, kepastian regulasi, sumber daya manusia dan investasi agar dapat diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi nyata”, kata Bobby.
Terpantau awak Portal Berita citra-news.com, benang merah dari FGD 15 September 2026 bukanlah garis akhir. Forum tersebut menjadi salah satu tahapan untuk mempertemukan pengalaman, gagasan dunia usaha dan kesiapan pemerintah daerah dalam menyusun konsep FTZ yang sesuai dengan kekuatan NTT.
Tantangannya kini adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam konsep yang realistis, regulasi yang mendukung, serta ekosistem perdagangan dan industri yang memberi ruang bagi masyarakat lokal.
Sebab, jika FTZ benar-benar menjadi pintu menuju lompatan ekonomi NTT, maka yang paling penting bukan hanya seberapa besar investasi yang masuk, tetapi seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat. +++ marthen/cnc













