Ia menegaskan, donasi bukanlah kewajiban, melainkan bentuk cinta dan kepedulian terhadap sesama yang sedang mengalami penderitaan. Karena itu, ajakan berdonasi menurutnya bukan sebuah perintah, tetapi panggilan nurani untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Lebih jauh Emy menjelaskan, selain melalui donasi masyarakat, secara lembaga DPRD NTT juga mempercepat pembahasan anggaran perubahan. Salah satu perhatian diarahkan pada penambahan Belanja Tidak Terduga (BTT), dari sebelumnya Rp8 miliar menjadi Rp25 miliar untuk juga bisa menopang kebutuhan pembiayaan pascagempa Flores.
Namun, menurut Emy, penanganan bencana tidak cukup hanya menyentuh kebutuhan fisik. Kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lanjut usia harus mendapat perhatian khusus, termasuk pemulihan kesehatan serta penanganan trauma, terutama bagi anak-anak yang berada di tenda-tenda darurat.
Di tengah proses pemulihan itulah makna solidaritas menjadi penting. Donasi yang terkumpul membawa pesan “Dari NTT untuk Flores” memberi signal bahwa ketika satu daerah terluka, daerah lain pun ikut merasakan dan berusaha meringankan beban.
“Kita berterima kasih kepada para pihak yang sudah memberi donasi walau dalam keterbatasan. Dari banyak pihak berdonasi kita berharap benar-benar sampai ke tangan masyarakat terdampak. Bantuan itu harus sampai dan benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat,” ujar Emy.
Dari sebuah pameran pembangunan, masyarakat NTT belajar bahwa kepedulian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang ia berawal dari doa, kemudian berubah menjadi sumbangan kecil, lalu berkumpul menjadi kekuatan besar untuk membantu saudara yang sedang menghadapi bencana. +++ marthen/cnc













