Membangun BENDUNGAN Formula Tepat Untuk Kondisi NTT

Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam setiap tahunnya selalu diperhadapkan dengan masalah kekeringan. Akibatnya tidak saja tanaman pertanian jadi puso (tidak menghasilkan) dan hewan ternak mati. Tapi terutama manusia akan menderita kesulitan air minum. Oleh karena itu membangun banyak bendungan di NTT adalah terapi yang benar.

 

Kupang, citra-news.com – KONDISI alam di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak terlalu jauh berbeda dengan NTT. Akan tetapi NTB telah menjadi salah satu provinsi ‘lumbung padi’ di Indonesia. Sementara Provinsi NTT hanya menjadi wilayah sasaran pengantarpulauan beras yang dipasok melalui pelabuhan Lembor di Pulau Lombok NTB.

Kepada citra-news.com Ir. Andre W.Koreh, MT Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT di ruang kerjanya, Rabu 30 Mei 2018, mengatakan di Provinsi NTB sedikitnya terbangun 18 buah bendungan besar. Masyarakat memanfaatkan air irigasi dari belasan bendungan yang sudah terbangun, untuk perluasan dan percetakan sawah baru.

“Kondisi wilayah NTB hampir sama dengan NTT. Jika saja NTT dibangun banyak bendungan maka akan mampu menjawab kesulitan air baku masyarakat dan kekeringan yang dialami sepanjang musim kemarau. Sehingga kalau sekarang pemerintah pusat menyiapkan dana APBN untuk membangun bendungan di Provinsi NTT maka ini adalah terapi yang benar. Bendungan adalah formula yang sangat tepat untuk menjawab kondisi NTT. Tinggal saja sekarang bagaimana masyarakat memanfaatkan peluang ini untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan,”jelas Andre.

Manfaat ganda (Multiplier effect ) dari bendungan, menurut Andre, adalah untuk kepentingan semua sector. Terutama untuk penyediaan air baku atau air minum bagi masyarakat. Selain kebutuhan air untuk sector pertanian, peternakan, perikanan, dan kepariwisataan. Karena sudah tentu tiada air tanpa kehidupan dan tiada kehidupan tanpa air, ungkapnya.

Terkait irigasi untuk persawahan, pada kesempatan terpisah Azis kepada citra-news.com mengatakan, Lombok NTB pada umumnya terdapat dataran persawahan yang luasnya sejauh mata memandang. Ini berkat adanya bendungan yang mensuplay air irigasi ke area persawahan yang ada.

“Kota Mataram ini sesungguhnya adalah Kota Diatas Air. Karena hampir setiap sudut kota tidak kita temukan lahan kosong. Yang ada hanyalah lahan sawah dan tanaman holtikultura lainnya.

Dan Lombok menjadi lumbung padi karena dibangun puluhan bendungan besar dan kecil sehingga produksi padi berlimpahrua. Selain untuk kebutuhan dalam daerah juga diantarpulaukan. Dan salah satunya diantarpulaukan ke Provinsi NTT melalui pelabuhan Lembor,”kata Azis.

Kepada citra-news.com dalam liputan khusus joy flight pesawat Wings Air ke Lombok NTT, Azis yang berprofesi sebagai sopir bus pariwisata di Kota Mataram itu menjekaskan, sebagai sopir dirinya sering melayani wisatawan berkeliling masuk keluar kampung dan desa hingga ke daerah Pelabuhan Lembor. Mulai dari Kota Mataram di kiri kanan jalan ada sawah. Di lereng-lereng bukit saja masyarakat mencetak sawah apalagi di dataran, tandasnya.

Untuk lebih jelasnya, tambah Azis, ketika berdiri di Menara Islamic Center bisa dilihat kalau Kota Mataram dikelilingi oleh persawahan. Atau lebih tepat kita berdiri di Simpang Lima  di daerah Gerung Kabupaten Lombok Barat menjadi central dari semua arah.

“Kalau daerah Bandara Lombok International Airport dan sekitarnya ini berada di wilayah Lombok Barat. Dengan jarak tempuh ke Kota Mataram sekitar satu jam lebih. Lihat saja di sekelilingnya Bandara Internasional Lombok terdapat areal persawahan,”kata Azis.

Sembari menunjuk arah, jelas Azis, jika kita berada di Simpang Lima ini maka ke jurusan Timur    ada dua arah yaitu jalan raya menuju Bandara dan jalan ke arah pelabuhan Lembor. Di Simpang Selatan jalan raya ke arah Kantor Bupati Lombok Barat (Lobar) dan sekitarnya. Simpang Barat jalan raya ke arah Islamic Center, dan Simpang Utara jalan ke arah Banjar Negara. Dan kesemua arah itu di kiri kanan jalan terbentang persawahan yang luas. +++ cnc1

 Gambar :  Lahan persawahan di kawasan Bandara Lombok International Airport dan di sekitar D’PRAYA Hotel Kota Mataram. Doc. marthen radja/CNC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *