TAMPIL Beda Pelaksanaan USBN di SMKN 5 Kupang

Asa : Penampilan guru sangat berpengaruh pada psikologis peserta diri/siswa. Setiap gerak langkah guru mestinya memancarkan hal baik sehingga patut digugu dan ditiru oleh siswa.

Kupang, citra-news.com – SESUAI arahan dari dinas bahwa pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) jadwalnya disesuaikan dengan kesiapan masing-masing sekolah berdasarkan hasil musyawarah kerja kepala sekolah dan musyawarah gugu mata pelajaran (MKKS dan MGMP).

Demikian dikatakan Asa M. Lahtang, S.Pd, M.Pd kepada awak media di ruang kerjanya, Sabtu 16 Maret 2019.

Pelaksana Teknis Kepala Sekolah (Plt. Kasek) SMKN 5 Kupang ini menjelaskan, pelaksanaan UNSB di sekolah kami kali ini, jauh berbeda dengan USBN tahun-tahun sebelumnya. Terutama dalam hal penampilan guru dalam kepanitiaan USBN, dengan berpakaian hitam putih.

“Kami di SMKN 5 Kupang melaksanakan USBN dari tanggal 11-18 Maret 2019. Kami laksanakan sudah sesuai dengan POS (Petunjuk Operasional Sekolah) dari Kemendikbud melalui dinas. Tapi yang menarik adalah penampilan guru dalam kepanitiaan USBN ini. Kali ini saya mewajibkan guru-guru dalam kepanitiaan USBN harus mengenakan seragam (uniform) hitam putih. Yang guru laki pakai dasi dan yang perempuan pakai destar,”kata Asa.

Menjawab citra-news.com alasan wajib uniform guru panitia USBN, Asa menegaskan, iya namanya standar nasional maka tidak saja materi USBN yang berstandar. Akan tetapi penampilan guru juga harus standar. Karena dari penampilan guru yang elegan akan berpengaruh pada psikologis anak peserta didik.

“Berbicara soal standardisasi maka melingkup semua hal. Termasuk penampilan guru pengawas. Saya terinspirasi soal standar nasional dimaksud sehingga saya berinisiatif untuk mewajubkan unifom seperti sekarang yang saya pakai bagi panitia USBN kali ini di SMKN 5 Kupang. Standar soal ujian secara nasional iya penampilan guru juga harus mengikuti standar dimaksud,”tegasnya.

Hal lain yang juga tampil beda di USBN kali ini, lanjut Asa, adalah penyusunan soal melaui IHT (In House Training). Artinya dengan melibatkan narasumber yang berkompeten. Yakni baik dari Pengawas Pembina dan  Tim Pengawas (Timwas) dari Dinasa P dan K Provinsi NTT. Termasuk dalam satu tim dari Assessor dan Instruktur  BAN Badan Akreditasi Nasional) untuk tingkatan pendidikan dasar dan menengah.

”IHT ini kebijakan manajemen sekolah yang saya buat untuk melangkah menuju mutu. Karena yang kita perjuangkan adalah mutu pendidikan,”ucapnya.

Dikatakannya, angka jumlah siswa USBN yang ada dipastikan tetap hingga nantinya UNBK. Ada  270 siswa peserta USBN kali ini. Sementara bobot soal USBN dengan tingkat kesukarannya masing-masing. Dengan ketentuan 25 persen bobot soal penyusunan dari pusat dan 75 persen lokal sekolah. Atau hasil dari MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) dari sekolah penyenggara.

Mekanisme penyusunan soal USBN, terang dia, kita di MGMP susun soal diikirim ke dinas untuk diverifikasi lalu dikirim kembali ke sekolah.

“Setelah saya jabat jadi PLT Kasek di sekolah ini, manajemennya saya lakukan sesuai standardisasi. Kan yang dituntut mengikuti standar nasional maka kita harus taati itu. Performance sekolah yang harus kita ke depankan. Tapi ketika saya melakukan semua itu, ada-ada saja mendapat cemoohan dari teman guru. Padahal saya sudah bilang mari kita selesaikan secara internal. Soal suka tidak suka jangan disampaikan ke pihak luar,”ucap Asa kesal.

Sembari berharap, semua persoalan sekolah jangan dibawa keluar sekolah. Jika pihak luar harus tahu  maka adalah awal kegagalan kita megurus pendidikan di SMKN 5 Kupang  ini. +++ cnc1

Gambar : Gambar : Tampilan uniform Asa M. Lahtang, S.Pd, M.Pd saat diwawancarai di ruang kerjanya, Gedung SMKN 5 Kupang-Timor Provinsi NTT, Sabtu 16 Maret 2019.

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *