Nunang : “IJAZAH Ditahan Sejak ALEX Sampai ASA Jadi Kasek”

Pungutan uang komite dari setiap siswa adalah salah satu bukti peranserta dan tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan. Namun akibat pemanfaatannya tidak tepat sasaran menjadikan orangtua siswa tidak membayar tepat waktu.

Citra News.Com, KUPANG – KEPALA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Drs. Benyamin Lola, M.Pd mengingatkan, sekolah-sekolah yang menerapkan aturan pemungutan uang komite harus dimanfaatkan tepat pada sasarannya. Jangan karena sesuatu alasan pihak sekolah menahan ijazah siswa.

“Adanya badan Komite di hampir semua sekolah adalah salah satu bentuk peranserta dan tanggung jawab para orang tua siswa terhadap pendidikan. Karena kita ketahui bahwa tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab bersama semua stakeholder sesuai peran masing-masing.  Sehingga ada kewajiban orangtua siswa membayar sejumlah uang komite demi menunjang kelancaran pelaksanaan pendidikan di sekolah. Tapi jangan sampai karena sesuatu alasan lantas ijazah siswa ditahan, ”demikian Benyamin di ruang kerjanya, Selasa 21 Mei 2019.

Pentingnya pembentukan badan komite sekolah, menurut mantan Penjabat Bupati Alor itu, bertujuan untuk membantu penatalaksanaan pendidikan di lembaga sekolah. Namun banyak sekolah yang salah memanfaatkan uang komite. Adanya ketimpangan-ketimpangan dalam pengelolaan dan pemanfaatan uang komite sekolah inilah menyebabkan para orang tua tidak tepat waktu untuk membayarnya.

“Padahal uang komite sesungguhnya adalah kewajiban. Akan tetapi karena pengurus komite termasuk kepala sekolah salah kelola ini uang komite maka dampak ikutannya pada siswa tidak bisa terima ijazah. Iya, kalau memang benar hal ini benar terjadi. Karena kami dinas belum menelusurinya lebih jauh,”aku Benyamin menanggapi pertanyaan awak media Cakrawala dan mediapurnapolri.id, mempersoalkan dugaan penyalahgunaan uang komite oleh Ambrosius Pan, Kepala Sekolah (Kasek) SMAN 1 Fatuleu Kabupaten Kupang.

Terkait uang komite dan kewajiban lain yang menjadi biang permasalahan pihak sekolah menahan ijazah siswa, seperti fakta yang dialami Bernard Nunang dan Hendra Weto. Kedua siswa yang mengaku lulusan (angkatan) tahun 2018 (Tahun Ajaran 2017/2018) dari SMKN 5 Kupang ini mengatakan, bukan saja satu dua orang (siswa) saja yang tidak bisa ambil ijazah tepat waktu. Hanya gara-gara belum membayar Uang Komite kami tidak bisa terima ijazah dari  sekolah ini (SMKN 5 Kupang, red).

“Saya sudah beberapa kali datang dari Lembata hanya untuk mau ijazah. Tapi sampai di sekolah ini sepertinya saya dipersulit. Saya kira cuma saya saja yang belum terima ijazah karena alasan belum bayar uang komite. Tapi ternyata ada banyak siswa seangkatan dengan saya yang juga mengalami hal yang sama saya alami,”ungkap Bernard saat ditemui awak citra-news.com di halaman SMKN 5 Kupang bilangan Jl. Nanga Jamal Naikoten 1, Kota Kupang-Timor Provinsi NTT, Sabtu 25 Mei 2019.

Dari Sehat Hingga Alex Giri Sakit Stroke, Sampai Asa Lahtang Jadi Kasek

Menjawab citra-news.com soal kewajiban-kewajiban yang belum dia tunaikan, Bernard Nunang mengakui, salah satu kewajibannya adalah uang komite. Ada juga kewaiban-kewajiban lain yang belum terlunas tuntas.

“Benar kaka saya belum bayar uang Komite selama 2 (dua) bulan sebesar Rp 200.000. Waktu itu kepala sekolah (Kasek) disini bernama Alex Giri. Tetapi setelah pak Alex sakit stroke katanya ada ganti kepala sekolah namanya Asa Lahtang. Saya kenal pak Asa Lahtang karena waktu pak Alex  sebagai Kasek, pak Asa menjabat Wakil Kepala (Waka) Kurikulum. Tapi sekarang  bilang sudah ganti lagi Kasek, saya tidak tahu ibu siapa. Itu bayangkan saja kaka. Dari pak Alex belum sakit hingga sakit stroke sampai ganti pak Asa jadi Kasek, bahkan ganti lagi Kasek baru kami punya ijazah ditahan. Kami tahu kewajiban kami. Tapi kalau sudah datang begini layani kami sudah. Ini pegawai yang urus ini kewajiban cuek-cuek saja. Suruh kami tunggu dan tunggu dari pagi sampai sore begini. Makanya ada berapa teman yang sudah pulang,”beber Nunang.

Sambil menunjuk seorang ibu yang berdiri di pintu ruang guru. “Itu kaka ibu yang urus kami punya ijazah. Namanya ibu Martha Nuna, tapi kami biasa panggil Mama Nona. Dia dengan ibu Lin yang biasa urus-urus hak kami ini. Mungkin mereka tidak kasitau (memberitahukan) ibu kepala sekolah yang baru. Kalau mereka kasitau ibu Kasek mungkin sudah selesai urusannya dan kami sudah pulang dari tadi,” ujar Nuneng yang mengaku ambil ijazah untuk ikut test calon kepala desa dan kepala dusun di Kampung Atadei Kaupaten Lembata ini.

Kewajiban-kewajiban siswa dari sekolah yang menjadi prasyarat terima ijazah, sebut Nunang, diantaranya Uang Komite, Uang pas foto, Uang Foto Copy Buku Agama, Laporan Prakering, juga lain-lain kewajban saya sudah lupa.

Bernard Nunang dan Hendra Weto

Hal senada juga diungkapkan Hendra Weto. Siswa yang mengaku kelahiran Bajawa Kabupaten Ngada itu menjelaskan, dirinya dituntut dari Kampus Poltek Undana agar segera memasukan ijazah.

“Saya kuliah tinggal di Kota Kupang jadi aman. Mau datang cek ijazah setiap hari juga idak masalah. Palingan rugi uang bensin saja. Ini saya punya kwitansi bayar-bayar itu semua persyaratan. Tapi Mama Nona suruh tunggu. We paya ko hanya urus-urus begini saja mau datang terus-terus tekor juga ko. Mana mau sibuk kuliah ko urus ijazah,”ucap Weto dengan dialek Bajawa.

Menjawab besaran pengenaan uang Komite, kedua siswa angkatan 2018 ini sontak mengatakan, sejak awal masuk sekolah (kelas X) siswa wajib bayar uang komite sebesar Rp 100.000 per siswa per bulan. Tapi kalau misalkan kakak adik sekandung masuk di sekolah ini maka dibayarkan setengahnya saja, yaitu Rp 50.000 per siswa per bulan. Nanti selama sekolah disini ada kewajiban-kewajiban lainnya.

Soal Jurusan (Program Studi/Prodi) yang digeluti Nunang dan Weto selama sekolah di SMKN 5 Kupang, keduanya berbeda-beda. Bernard Nunang mengaku dari Jurusan Teknik Bangunan Konstruksi Kayu. Sementara Hendra Weto mengaku dari Jurusan Teknik Mesin.

“Waktu itu di kelas jurusan saya, kami ada 19 orang laki-laki semua. Saya tidak tahu berapa banyak siswa di satu kelas atau Rombongan Belajar/Rombel) jurusan lain-lain. Karena waktu kami di Kelas XII ada 9 (Sembilan) kelas dengan jurusan masing-masing. Diantaranya Jurusan Listrik, Kendarana Ringan, Las, Adio Visual, Multi Media, Panel Surya, dan Bangunan dari Konstruksi Kayu dan Bangunan Konstruksi Beton,”jelas Nunang diamini Weto.

Nunang menambahkan, semasa dia dan teman-teman seangkatannya, yang mengurusi adminisrasi kesiswaan oleh Wali Kelas atasnama Lusia Pradalana, S.Pd. +++marthen/citra-news.com

Gambar utama : Martha Runa (berdiri) dan Bernard Nunang depan ruang TU SMKN 5 Kupang, bilangan Jl. Nanga Jamal Naikoten 1, Kota Kupang-Timor Provinsi NTT, Sabtu 25 Mei 2019. Doc.CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *