Stigma Buruk
Lebih lanjut, Gubernur Viktor mengatakan secara pribadi dirinya sangat terganggu dengan stigma kota terkotor yang disematkan pada kota kasih, kota Kupang. Sebagai gubernur yang lahir dan besar di Kota Kupang serta sekarang memerintah dan berkantor di kota ini, merasa tertantang untuk menunjukan kepada kepada semua orang bahwa stigma itu tidak tepat.
“Kita sedang berperang karena ini memberikan stigma buruk kepada kita, sebagai orang-orang kotor. Ini perang kita. Kita harus merefleksi diri untuk menjadi manusia-manusia yang bisa merubah yang tidak mungkin jadi mungkin. Tiap pagi kalau saya keliling, lihat sampah, hati saya sedih,” jelas politisi Partai Nasedem asal Semau-Timor NTT ini.
Tantangan untuk merubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat,lanjut Viktor, memang bukan hal yang mudah. Setiap hari jumat dan sabtu, kita gerakan banyak orang termasuk ASN untuk membersihkan sampah, namun hari senin sampah ada lagi. Tapi ini tantangan bagi kita. Tidak boleh berhenti mengingatkan masyarakat.
“Sebagai Gubernur saya menekankan dan mendorong kita untuk berubah dari waktu ke waktu. Saya menghimbau kita untuk tanam kelor. Orang kadang anggap remeh tentang kelor. Tapi (tanaman) ini berkat yang Tuhan beri untuk NTT.Saya minta para diakon selain urus (layani) umat, urus juga tanam kelor,” pesan Viktor Laiskodat.
Permintaan kelor dari Jepang, lanjut Viktor, satu bulan adalah sebanyak 40 ton dalam bentuk bubuk. Tapi kita tidak sanggup penuhi itu. Bulan Oktober, kita rencanakan ekspor kelor perdana ke Jepang.
“Sekarang pemerintah dorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam banyak hal. Dan untuk membudidaya kelor gereja harus berperan aktif di sana. Itu harus kita lakukan. Karena kelor bertahan sampai 60 tahun. Jangan pernah capeh untuk kerja dan kerja,” pungkasnya.
Sementara itu, Monsinyur (Mgr) Dominikus Saku, Uskup Atambua selaku Uskup Pentahbis dalam sambutannya mengatakan, makna dari tahbisan diakon adalah pelayanan. Menghadirkan kegembiraan dalam pelayanan supaya semakin banyak orang dibawa keluar dari keterkungkungan.
“Apa yang dikatakan Bapak Gubernur merupakan tantangan bagi gereja khususnya para pelayan umat. Banyak yang hanya bergerak seputar altar. Kita ditantang untuk perluas altar Tuhan agar menjangkau pelayanan yang lebih luas dan sampai orang terjauh. Bukan hanya pada orang tetapi juga bidang-bidang. Gereja kalau hanya terpaku pada bidangnya sendiri lama-lama akan jadi kerdil. Kita harus bekerja secara baru, kreatif dan inovatif,” ujar Mgr. Domi Saku.
Diketahui pada hari yang sama ada 18 Diakon yang ditahbiskan dengan rincian 8 orang dari Keuskupan Agung Kupang, 8 dari Keuskupan Atambua dan 2 dari Keuskupan Weetebula.
Gubernur yang didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol NTT mengikuti perayaan misa pentahbisan dari awal sampai akhir dengan penuh khidmat.
Hadir pada kesempatan tersebut para imam, para frater, biarawan/ti, orang tua dan keluarga besar para diakon tertahbis, ratusan umat dan undangan lainnya. +++ marthen/citra-news.com/aven-humas setdantt
Gambar utama : Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, SH,M.Si memberikan sambutan di hadapan Yang Mulia Uskup Atambua dan disaksikan oleh Kepala Biro Humas dan Protokol NTT Dr. Marius Ardu Jelamu M.Si beserta para Diakon yang baru ditahbis. Doc.Foto : CNC/Biro Humas dan Protokol Setda Prov.NTT












