PERHUTANAN Sosial Perlu DIOPTIMALISASIKAN Pemanfaatannya

Ir. FERDY J. Kapitan, M.Si didampingi Ny. Sartje Willa Huky (tengah) dan Kepala UPT KPH Kabupaten Sumba Barat Daya, Marthen Bullu, S.Hut, di Kupang Provinsi NTT, Senin 16 Desember 2019. Doc. CNC/,marthen radja-Citra News

Ferdy Kapitan : Skema perhutanan social adalah tanam-rawat-dan lestarikan. Gerakan penghijauan (go green) ini secara terus-menerus disosialisasikan sekaligus mengajak masyarakat sadar akan jasa lingkungan (Jasling) sekitarnya.

Citra-News.Com, KUPANG – PEMIKIRAN VISIONER dari Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), VIKTOR Bungtilu Laiskodat adalah NTT Bangkit Menuju Sejahtera Dalam Bingkai NKRI. Alur tindak dari dasar pemikiran ini menjadi pijakan pembangunan NTT 5 (lima) tahun ke depan. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) adalah selaku eksekutor diharapkan mampu menterjemahkan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT, Ir. FERDY J. Kapitan, M.Si mengatakan, selaku dinas teknis pihaknya mengajak masyarakat untuk terus –menerus menanam dengan jenis pepohonan apa saja guna menutup setiap jengkal tanah (lahan) yang kosong.

“Kami dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan sesuai dengan bidang tugas dan kewenangan kami  mengajak masyarakat untuk terus-menerus melakukan aksi nyata melalui program gerakan penghijauan (go green). ‘Bangkit’ menurut versi kami adalah menjadikan NTT –nusa terus tumbuh– dengan berbagai jenis tanaman pepohonan (kayu-kayuan) dan non kayu. Karena Dampak ikutan dari lingkungan hutan berkurang adalah air berkurang dan berisiko bencana,”jelas Kapitan ketika ditemui di Kupang, Senin, 16 Desember 2019.

Menurut dia, pihaknya selalu berkoordinasi dan mensinergiskan program kegiatan  bersama UPT dinas yang tersebar di 22 kabupaten/kota se-Provinsi NTT. Gerakan penghijauan secara massif ini kami lakukan untuk menyadarkan sekaligus mengajak masyarakat untuk terus-menerus melestarian hutan dan lingkungan hidup yang ada di sekitarnya. Dengan menanami aneka jenis tanaman kayu-kayuan dan non kayu. Setelah tanam rawat dia sampai hidup dan lestarikan.

Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas LH dan Kehutanan pada prinsipnya memberikan kesempatan seluas-seluasnya kepada semua elemen masyarakat untuk memanfaatkan perhutanan social yang ada. Dengan pemanfaatan jasa lingkungan ada, kata Kapitan, sekaligus juga mengedukasi masyarakat untuk ikut mengkampanyekan gerakan go green. Artinya memberikan kebebasan yang bertanggung jawab dengan tidak menyalahgunakan fungsi hutan kawasan yang ada.

Tiga Pilar Harus Saling Sinergis

Dalam skema perhutanan social, sebut Kadis Kapitan, ada tiga pilar yang saling terkait satu diantara yang lain. Yakni pemerintah, masyarakat, dan jasa lingkungan (Jasling) yang ada. Pemerintah selaku pembuat kebijakan seyogiayanya memberikan ruang kebebasan bagi masyarakat untuk berekspresi dengan inovasi-inovasi dan berkreasi secara positif. Apakah dengan menanam tanaman umur panjang atau dengan tanaman semusim dan tanaman holtikultura di dalamnya. Masyarakat yang peduli terhadap jasa lingkungan adalah masyarakat yang ikut merasa memilikinya.

“UPT KPH sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah provinsi turut mengawasi masyarakat untuk tidak boleh membuat sertifikat hak perorangan. Masyarakat boleh menggunakan jasa lingkungan diberikan jangka waktu maksimal 35 tahun,”tegasnya.

Pagelaran Ladang Balon di Taman Wisata Alam Bu’at TTS oleh JIWAN’S Garden. Doc. CNC/jor tefa-Citra News

Khususnya pemanfaatan kawasan wisata alam BU’AT di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), elemen masyarakat diberikan ruang kebebasan untuk berekspresi. Kalau beredar informasi bahwa Bupati TTS  memberikan peluang kepada elemen masyarakat untuk menggelar event-event edukatif, adalah langkah kreatif pemerintah dalam mengoptimalisasi jasa lingkungan kawasan perhutananan sosial yang ada.

“Langkah bijak bapak Bupati TTS menggelar acara-acara kepemerintahan di  kawasan wisata alam Bu’at, ini patut menjadi contoh bagi elemen masyarakat lainnya. Apalagi ada sekelompok pemuda menggelar semacam festival balon udara  dalam kawasan ini. Sekaligus menyiapkan lubang-lubang tanaman bagi setiap pengunjung untuk menanam dengan bibit tanaman dari pohon apa saja. Itu sama juga kita pemerintah mengedukasi masyarakat untuk berpartsipasi aktif menjaga dan melestarikan lingkungan hidup yang ada,”beber Kapitan.

UPT KPH kami di Kabupaten TTS, sudah pasti sangat mendukung. Hanya saja perlu dikomunikasi dari jauh-jauh hari. Sehingga rekan-rekan di UPT KPH dapat mendalaminya, kira-kira bagaimana  bentuk dukungannya itu. Iya, terkait perijinannnya bagaimana serta kemungkinan-kemungkinan hal-hal teknis yang terjadi. Karena kita berbicara soal Jasling hutan kawasan, sudah tentu ada banyak pihak terkait di dalamnya.

“Saat ini kita sedang mengembangkan eko wisata alam. Baik wisata alam maritim juga di spot-spot kawasan perhutanan sosial lainnya. Karena NTT punya potensi alam yang beragam yang perlu dioptimalisasilkan pemanfaatannya,”kata Kapitan. +++ marthen/citra-news.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *