Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

NONA SARI BAHENOL Memburu Cinta Rupiah di PANGAN LOKAL (Seri 2)

Reporter: Marthen RadjaEditor: Dedy -Rumah Web Jakarta
CitraNews

“Bagi masyarakat Provinsi NTT ini ibarat gayung bersambut karena bertepatan dengan awal kepemimpinan bapak Melky Lakalena dan bapak Johny Asadoma sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT maka Pergub Pangan Lokal pun dilaksanakan. Kami yakin pangan lokal yang ada di NTT bisa menjawab akan kebutuhan produk dari MBG dimaksud”, ucapnya.

Lebih jauh Oemboe Wanda menegasikan, MBG ini pointernya di penyediaan pangan lokal sesuai potensi wilayah. Agar supaya sumberdaya lokal bisa didayagunakan dan punya nilai kesehatan dan punya nilai ekonomi. Dengan kata lain kita kembali manfaatkan pangan lokal kita yang Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman itu bagi generasi emas.

Oleh karena itu setelah ada Pergub Pangan Lokal ditindaklanjuti oleh semua kabupaten/kota. Kita harapkan Pemkab/Pemkot bisa menggiatkan membudidayakan pangan lokal sampai ke tingkat desa dan dusun.

Baca Juga :  AYODHIA Kalake Ajak PT GGP Kembangkan Tanaman NANAS di NTT

Ini kontribusi dari pertanian tapi kita tidak bisa bergerak sendiri. Pergerakannya harus kolaboratif dan saling sinergis. Mulai dari hulunya oleh bidang KPU-an dengan penyiapan infrastruktur berupa irigasi. Lalu di hilirnya ada bidang perindustrian dan perdagangan.

Baca Juga :  DUKUNGAN Wapres GIBRAN Angkat PAWAI PASKAH Naik Kelas, TOLERANSI di NTT Kian MENGGEMA

Dari program MBG kita mengharapkan agar bisa memberikan pertumbuhan ekonomi baru di desa. Alokasi dana desa 20 persen untik ketahanan pangan dimana pangan lokal menjadi satu perhatian. Tapi juga ada ekonomi yang tumbuh di desa-desa.

Sebagai ilustrasi jika dalam satu desa ada satu SD, satu SMP, dan satu SMA dengan jumlah masing-masing sekolah ada 100 orang. Kemudian menu makan B2SA dalam satu porsi Rp 10.000 per siswa per hari maka sebanyak Rp 3 juta dalam satu hari uang yang beredar dalam desa itu. Jika di tiga lembaga pendidikan ini dikalikan dengan 25 hari belajar/sekolah maka ada Rp 75 juta uang yang beredar di desa itu selama satu bulan.

Baca Juga :  PESAN Apolos Djarabonga DIBALIK Musda II DPD KAI Pedang Merah NTT

“Itu artinya dengan memanfaatkan pangan lokal yang BBSA itu maka kita sudah bisa mencegah capital flight atau uang rupiah kita tidak keluar dari NTT. Bukankah perputaran ekonomi kita kian maju di desa dan berimplikasi pada peningkatan ekonomi keluarga (bersambung) +++ marthen/citra-news.com

Sumber: Joaz Billy Oemboe Wanda
Disclaimer: Artikel Ini Merupakan Kerja Sama CitraNews.Com Dengan Kepres No.81/2024, Badan Ketahanan Pangan Nasional. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Kepres No.81/2024, Badan Ketahanan Pangan Nasional.