Ia mengapresiasi pembentukan Task Force Social Forestry dan Kebun Wanapangan Perempuan sebagai wadah kolaborasi agar perhutanan sosial benar-benar menjadi ruang hidup yang adil dan lestari.
Ketika perempuan diberi ruang memimpin dalam tata kelola lahan, menurutnya, yang lahir bukan hanya kebun yang subur, tetapi juga komunitas yang tangguh dan ekonomi yang lebih berkeadilan.
OVOP: Membangun Desa dari Produk Lokal
Di hadapan para peserta, Johni Asadoma juga memperkenalkan program unggulan daerah yaitu One Village One Product (OVOP).
Program ini diarahkan untuk mengembangkan satu produk unggulan desa berbasis potensi lokal, dengan perempuan sebagai aktor utama—mulai dari produksi, peningkatan kualitas, hingga pemasaran.
“OVOP bukan hanya soal nilai tambah produk, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kebanggaan masyarakat desa,” katanya.
Bagi banyak peserta, gagasan ini terasa dekat dengan realitas mereka: mengolah hasil kebun menjadi pangan olahan, obat herbal, atau produk bernilai ekonomi yang mampu menembus pasar lebih luas.
Merawat Hutan, Mengurangi Kemiskinan
Sementara itu, Veronica Tan mengingatkan bahwa peran besar perempuan dalam pengelolaan pangan dan hutan belum sepenuhnya diakui secara formal.
“Tidak cukup hanya membuka akses lahan. Perempuan harus tercatat, diakui, dan memiliki akses langsung terhadap hasilnya,” tegasnya.
Ia menyoroti pentingnya reformasi administrasi dan sistem distribusi manfaat agar ekonomi perhutanan sosial benar-benar adil.
Menurutnya, Kebun Wanapangan Perempuan bisa menjadi pintu masuk penguatan ekonomi keluarga, dimulai dari meja makan yang berkeadilan.












