Gerakan MENANAM Pohon Bentuk MITIGASI Iklim Global

FERDY Kapitan menyerahkan anakan kepada Wakapolda NTT, JOHNY Asadoma untuk ditanam pada Jumat, 10 Januari 2020. Doc. CNC/marthen radja-citra-news.com.
Rudi Lismono : Kegiatan penanaman pohon tidak sekadar pelestarian lingkungan hidup. Lebih dari itu ikut serta mengurangi efek rumah kaca sebagai salah satu bentuk mitigasi adanya iklim global. Juga mengurangi degradasi lahan kritis.
Citra-News.Com, KUPANG – KEPALA DINAS Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. FERDY J. Kapitan, M.Si mengatakan, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) berinisiasi menggerakan semua elemen masyarakat melakukan penanaman pohon secara massal. Lokasi kegiatan tersebut terpusat di Jalur 40 dengan titik star di Patung Burung Garuda Bolok Kabupaten Kupang Provinsi NTT.
“Hari ini telah dilakukan penanaman pohon secara massal berlokasi di Jalur 40. Semua elemen masyarakat mengambil bagian turun ke lokasi melakukan penanaman anek jenis pohon. Ini terjadi atas inisiasi Polda NTT sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan hidup. Ada manfaat ganda (multiplier effect) dari menanam. Kita menanam pohon sama dengan menanam air yang berguna bagi kehidupan terutama bagi manusia,”ungkap Ferdy.
Sembari mempersilahkan awak citra-news.com mengkonfirmasi lebih lanjut dengan stafnya di Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Menurut Kepala Bidang Pembinaan LHK, RUDI Lismono, S.Hut, kegiatan penanaman pohon sudah menjadi Gerakan Nasional. Dan sudah memiliki kalender tahunan, dimana setiap tanggal 28 November adalah Hari Menanam Pohon Indonesia.
“Untuk Provinsi NTT khususnya di dinas ini dalam kaitanya dengan Hari Menanam Pohon Indonesia, kegiatan menanam pohon ini sudah menjadi program rutin kami. Bahkan dalam kaitannya dengan pengembangan Kelorisasi program Gubernur saat ini, kita di dinas ini dalam setiap kegiatan yang sifatnya reboisasi itu 10 persennya tanam kelor,”jelas Rudi.
Kegiatan penanaman pohon secara massal hari ini (Jumat, 10 Januari 2020, red). kata Rudi sesungguhnya bagian dari gerakan nasional menanam pohon Indonesia. Karena setelah tanggal 28 November yang diperingati sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia, ikutan setelahnya tiba musim hujan. Sehingga ada Gerakan Bulan Menanam Pohon yang diikuti mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota melakukan hal yang sama. Yakni menanam aneka jenis pohon dalam jumlah yang banyak.


FERDY Kapitan (kiri) dan RUDI Lismono saat diwawancarai awak citra-news.com, di Kantor Dinas LH dan Kehutanan Provinsi NTT, Kupang-NTT, Jumat, 10 Januari 2020. Doc. CNC/marthen radja-citra-news.com.
Rudi menuturkan, pada Jumat 10 Januari 2020 Polda NTT berinisiasi melibatkan semua elemen masyarakat melakukan penanaman pohon secara masal di wilayah Bolok Kupang. Tepatnya di boulevard Jalur 40 dengan menaman sekitar 2000 anakan dari berbagai jenis. Diantaranya trembesi, mahoni, flamboyan (pohon sepe), dan anakan kelor (marungga). Juga jenis tanaman buah seperti nangka, mangga, klengkeng, dan beberapa lainnya.
“Sesungguhkan kegiatan penanaman massal ini secara seremony saja. Nanti penanaman secara besar-besaran di masing-masing kabupaten/kota. Dan dilakukan pada bulan-bulan selama musim hujan ini, sebagai wujud dari Gerakan Bulan Menanam Pohon,”tandasnya.
Menanam Pohon Adalah KEWAJIBAN
Menurut Rudi, untuk kondisi NTT dengan curah hujan yang sangat sedikit maka aktifitas menanam pohon merupakan kewajiban. Maksud dan tujuan gerakan menanam pohon adalah pertama, ikut serta mengurangi efek rumah kaca sebagai salah satu bentuk mitigasiadanya iklim global. Kedua, untuk mengurangi degradasi lahan kritis (lahan tidak produktif). Untuk pelestarian dan konservasi tanaman endemic. Ketiga, dari sisi ekologi sesungguhnya tanaman berfungsi untuk mengikat air. Atau mencegah terjadinya run off (pengikisan tanah dan terbuang percuma ke laut).
“Akibat rendah curah hujan di NTT maka banyak lahan kritis (tidak produktif). Dengan menanam dan terus menanam maka pepohonan yang ada bisa menyimpan air hujan. Karena itu kami dari dinas ini terus memotivasi, Ayo Menanam 25 Pohon Seumur Hidup per Orang,”kata Rudi.
Sembari menjelaskan, artinya mulai dibiasakan dari anak usia SD hingga menikah dengan masing-masing jenjang cukup tanam 5 pohon saja. Ketika SD tanam 5 pohon, sama halnya SMP, SMA, Kuliah, dan menikah. Jika ini dilakukan secara massif maka di NTT tidak ada sejengkal tanahpun yang kosong. Semuanya terisi dengan aneka jenis tanaman kayu-kayuan dan non kayu. Jadi ada nilai ekologi, ekonomis, dan edukatif di dalamnya. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *