Senada dengan itu, Catur Endah Prasetiani menjelaskan bahwa perhutanan sosial merupakan strategi nasional untuk mengurangi kemiskinan sekaligus memperkuat ekonomi berbasis sumber daya lokal.
“Penguatan kelembagaan kelompok tani hutan dan kolaborasi lintas sektor adalah kunci keberlanjutan,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, tiga modalitas utama di NTT—Mama Bambu, Kebun Pangan Perempuan, dan Perhutanan Sosial—didorong sebagai model pemberdayaan perempuan yang inklusif dan berkelanjutan.
Menggema hingga Asia
Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat, suasana diskusi berubah menjadi lebih reflektif. Para peserta menyadari bahwa perjuangan mereka bukan sekadar tentang panen hari ini, tetapi tentang generasi esok.
“Ketika seorang perempuan berdaya di kebunnya, ia sedang menanam masa depan,” ungkap salah satu peserta.
Kebun-kebun kecil itu menjadi benteng pertama melawan stunting, kekurangan gizi, dan ketergantungan pangan. Dari sanalah kedaulatan pangan bertumbuh walau pelan, namun pasti.
Rangkaian kegiatan ini berlanjut dalam Asia Learning Exchange 2026 di Labuan Bajo, yang diinisiasi oleh Tenure Facility.
Sekitar 65 peserta dari berbagai negara Asia hadir untuk membahas kepemimpinan perempuan dalam menjaga hak atas tanah, wilayah adat, dan lingkungan.
Dari kebun sederhana di Manggarai Barat, suara perempuan NTT pun menggema hingga tingkat regional.
Diskusi Kebun Wanapangan Perempuan bukan sekadar pertemuan formal. Ia adalah ruang di mana kebijakan bertemu pengalaman, dan visi besar bertemu kerja-kerja kecil di halaman rumah.
Di sana, perempuan-perempuan NTT menanam lebih dari sekadar sayur dan obat. Mereka menanam ketahanan, menanam martabat, dan menanam harapan—bahwa dari kebun sederhana, masa depan bangsa bisa tumbuh dengan kuat dan berkelanjutan. +++ marthen/*












