Bagi Christian, momentum kemerdekaan tidak berhenti pada pengibaran bendera, upacara, atau kemeriahan perayaan. Kemerdekaan juga memiliki wajah kemanusiaan ketika seseorang hadir dan menunjukkan kepedulian kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan.
“Kita ingin menyampaikan bahwa masyarakat Flores tidak sendiri. Ada duka yang kita rasakan bersama, dan Pemerintah serta masyarakat Kota Kupang berdiri bersama saudara-saudara kita di Flores” katanya.
Pesan kemanusiaan ini menjadi warna tersendiri dalam Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia Tingkat Kota Kupang yang berlangsung di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang.
Christian bertindak sebagai inspektur upacara.

Hadir dalam upacara tersebut Wakil Wali Kota Serena Cosgrova Francis, Sekretaris Daerah Kota Kupang Jeffry Edward Pelt, Ketua dan anggota DPRD Kota Kupang, Forkopimda, pimpinan instansi vertikal, tokoh agama dan tokoh masyarakat, veteran, ASN, camat dan lurah, guru, serta para pelajar.
Dalam amanatnya, Christian mengingatkan bahwa kemerdekaan merupakan amanah yang harus diwujudkan melalui kerja nyata. Pendidikan yang lebih baik, pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, kesempatan ekonomi, pemerintahan yang cepat dan adil, serta kehidupan masyarakat yang aman dan bermartabat, menurutnya, adalah bagian dari wajah kemerdekaan.
“Dulu para pahlawan berjuang merebut kemerdekaan. Tugas kita hari ini adalah memastikan kemerdekaan itu benar-benar dirasakan rakyat,” tegasnya.
Ia menilai pembangunan sebuah kota tidak cukup diukur dari jalan, gedung dan infrastruktur yang berdiri. Lebih jauh, pembangunan harus melahirkan manusia yang sehat, terdidik, terampil dan berkarakter. Sebab pada akhirnya kemajuan sebuah kota bukan hanya terlihat dari apa yang dibangun, tetapi dari kualitas manusia yang tumbuh di dalamnya.
Di tengah momentum HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, Pemerintah Kota Kupang menghadapi persoalan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, salah satunya kelangkaan dan tingginya harga minyak tanah.













